Lama aku tak mengirim tulisan untuk kepentingan mendapatkan cuan. Saya
mengirimkan sebuah tulisan karena diminta kadang, oleh salah seorang redaksi
pemilik websiter jurnalistik, seperti beritapesantren.co dan nuonline.jatim.
Dan, yang agak sering sekarang ini menulis di
blog.
Di blog, bila kita hitung sejak 1 Januari 2022, maka dapat diketahui ada
beberapa hari saya tidak menulis. Karena ketemu, tanggal berapa dan berapa hari
saya tidak menulis. Saat semanagt menulis kembali, setidaknya saya harus
mengganti kekosongan hari dari menulis-menulis tadi. Tujuannya satu :
konsisten. Konsistensi harga mati. Bahkan ada yang bilang, konsisten adalah
koentji.
Apalagi saat scrolling di instagram kemarin, ada konten yang menerangkann
soal konsisten. Ada dua contoh yang disebutkan. Pertama adalah Ghozali, dengan
akunnya yang bernama ghozali every day di pasar opensea (NFT), kini ia mendapat
penghasilan sekian milyar.saya lupa nominalnya. Ia melakukan foto selfie dari
beberapa tahun. Tidak ada yang menyangka, konsistensinya mengambil foto setiap
hari ternyata membuahkan hasil.
Sedangkan contoh ke dua adalan seorang youtuber, saya lupa juga namanya, ia
memutuskan untuk posting setiap hari di akun youtubenya. Beberapa tahun
kemudian, ia memiliki penghasilan sekian milyar setiap bulannya. Semua ia
jalani, meski pada tahun pertamanya tidak mendapatkan apa-apa.
Sedangkan saya sendiri, masih terbata-bata dan merangkak untuk konsisten
menulis setiap hari di blog. Setiap hari. Butuh perjuangan, usaha dan
taufiq-Nya.
Bicara soal konsisten menulis, saya teringat acara di IBIDISM yang
dimoderatori oleh saya sendiri. Mas Falah, salah satu penyaji dan saat ini menjadi mahasantri Lirboyo M2 mengatakan
bahwa, tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai. Bedakan proses editing
dan menulis.
Jadi, ketika menulis harus selesai
dulu. Jangan terlalu dipikirkan tinggi-tinggi apa itu ekspektasi kita ketika
menulis. Ini setidaknya mengingatkan dan menjawab masalah saya yang ‘seringkali’
muncul ekspektasi meninggi ketika menulis. Semisal harus 1000 kata, 500 kata
ata menulis artikel-artikel yang sekiranya layak di muat oleh media keislaman
nasional.
Bagi saya, kalau dipikir-pikir kembali, menulis memenuhi standar
kepenulisan media-media orang itu, bagus juga. Ketika tulisan kita dimuat di
sebuah media nasional dan terkenal, ada semacam kepuasan batin yang tak
terdefinisikan.
Tapi disisi lain, sebagai penulis tentunya secara tidak langsung diwajibkan
untuk mengikuti dan tunduk pada ketentuan yang telah ditetapkan redaksi. Ibarat
orang yang mencari pekerjaan, ia harus tunduk pada majikan dan bosnya,
bagaimana dan harus ketika bekerja. Begitupula dalam menulis. Tidak jauh beda.
Bedah hal lagi kalau kita yang jadi majikan, bos dan punya rumah dan
perusahaan (menulis) sendiri, blog misalnya, terserah kita mau ngapain. Menulis
ya, tidak menulis ya juga. Mau bagus, santai dan model tulisan
apapun, terserah kita.
Lalu bagaimana dengan pembacanya ? kan, kalau tulisan di blog jarang
yang tau. Sedikit pembacanya.
Memang perlu waktu lama untuk membangun brand kepenulisan, orang-orang tau
kalau saya menulis di blog dan supaya mendapatkan pembaca yang tetap. Apalagi
penulis seperti saya yang masih pemula dan tulisan ini tidak berkelas amat.
Tidak apa. Butuh waktu memang. Tapi saya menjalaninya dengan senang hati.
Setiap karya ada penikmatnya sendiri-sendiri. Saya jadi menulis dengan bahagia.
Melampiaskan apa saja melalui tulisan dengan bebas. Siapapun bisa akses. Bila
ingin orang lain membaca dan mengoreksinya, tinggal kirim linknya. Aman. Tak
perlu ribet.
Intinya mungkin dulu. Sekian~
0 Komentar