Trending

6/recent/ticker-posts

Merangkak Menulis Secara Konsisten

 

 

Lama aku tak mengirim tulisan untuk kepentingan mendapatkan cuan. Saya mengirimkan sebuah tulisan karena diminta kadang, oleh salah seorang redaksi pemilik websiter jurnalistik, seperti beritapesantren.co dan nuonline.jatim. Dan, yang agak sering sekarang ini menulis di  blog.

Di blog, bila kita hitung sejak 1 Januari 2022, maka dapat diketahui ada beberapa hari saya tidak menulis. Karena ketemu, tanggal berapa dan berapa hari saya tidak menulis. Saat semanagt menulis kembali, setidaknya saya harus mengganti kekosongan hari dari menulis-menulis tadi. Tujuannya satu : konsisten. Konsistensi harga mati. Bahkan ada yang bilang, konsisten adalah koentji.

Apalagi saat scrolling di instagram kemarin, ada konten yang menerangkann soal konsisten. Ada dua contoh yang disebutkan. Pertama adalah Ghozali, dengan akunnya yang bernama ghozali every day di pasar opensea (NFT), kini ia mendapat penghasilan sekian milyar.saya lupa nominalnya. Ia melakukan foto selfie dari beberapa tahun. Tidak ada yang menyangka, konsistensinya mengambil foto setiap hari ternyata membuahkan hasil.

Sedangkan contoh ke dua adalan seorang youtuber, saya lupa juga namanya, ia memutuskan untuk posting setiap hari di akun youtubenya. Beberapa tahun kemudian, ia memiliki penghasilan sekian milyar setiap bulannya. Semua ia jalani, meski pada tahun pertamanya tidak mendapatkan apa-apa.

Sedangkan saya sendiri, masih terbata-bata dan merangkak untuk konsisten menulis setiap hari di blog. Setiap hari. Butuh perjuangan, usaha dan taufiq-Nya.

Bicara soal konsisten menulis, saya teringat acara di IBIDISM yang dimoderatori oleh saya sendiri. Mas Falah, salah satu penyaji dan saat  ini menjadi mahasantri Lirboyo M2 mengatakan bahwa, tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai. Bedakan proses editing dan menulis.

Jadi, ketika  menulis harus selesai dulu. Jangan terlalu dipikirkan tinggi-tinggi apa itu ekspektasi kita ketika menulis. Ini setidaknya mengingatkan dan menjawab masalah saya yang ‘seringkali’ muncul ekspektasi meninggi ketika menulis. Semisal harus 1000 kata, 500 kata ata menulis artikel-artikel yang sekiranya layak di muat oleh media keislaman nasional.

Bagi saya, kalau dipikir-pikir kembali, menulis memenuhi standar kepenulisan media-media orang itu, bagus juga. Ketika tulisan kita dimuat di sebuah media nasional dan terkenal, ada semacam kepuasan batin yang tak terdefinisikan.

Tapi disisi lain, sebagai penulis tentunya secara tidak langsung diwajibkan untuk mengikuti dan tunduk pada ketentuan yang telah ditetapkan redaksi. Ibarat orang yang mencari pekerjaan, ia harus tunduk pada majikan dan bosnya, bagaimana dan harus ketika bekerja. Begitupula dalam menulis. Tidak jauh beda.

Bedah hal lagi kalau kita yang jadi majikan, bos dan punya rumah dan perusahaan (menulis) sendiri, blog misalnya, terserah kita mau ngapain. Menulis ya, tidak menulis ya juga. Mau bagus, santai dan model tulisan apapun, terserah kita.

Lalu bagaimana dengan pembacanya ? kan, kalau tulisan di blog jarang yang tau. Sedikit pembacanya.

Memang perlu waktu lama untuk membangun brand kepenulisan, orang-orang tau kalau saya menulis di blog dan supaya mendapatkan pembaca yang tetap. Apalagi penulis seperti saya yang masih pemula dan tulisan ini tidak berkelas amat.

Tidak apa. Butuh waktu memang. Tapi saya menjalaninya dengan senang hati. Setiap karya ada penikmatnya sendiri-sendiri. Saya jadi menulis dengan bahagia. Melampiaskan apa saja melalui tulisan dengan bebas. Siapapun bisa akses. Bila ingin orang lain membaca dan mengoreksinya, tinggal kirim linknya. Aman. Tak perlu ribet.

Intinya mungkin dulu. Sekian~

Posting Komentar

0 Komentar