Trending

6/recent/ticker-posts

Lika – Liku Turats ke III : Hiruk-Pikuk Perihal Dana (2)

 



 Cerita turats selanjutnya ini dimulai setelah rapat gabungan BEMs putra dan putri di perpustakaan. Presiden BEMs putri yang awalnya lepas tangan, kemudian saat rapat memilih sikap ‘menunggu’ hasil matur dengan bu nyai, tiba-tiba pada malam harinya, ia mengkonfirmasi kepada kami untuk mendukung dan ikut andil dalam festival turats ke-III ini.

Saat itu saya sedang tidur. Dibangunkan oleh Lutfi untuk persiapan dan ikut rapat dengan panitia bulan lomba di pusat, baik panitia harlah, PPIQ dan LPBA. Sekitar dua jam-an saya tidur. Setelah urusan telfon dari putri usai, kami-pun janjian untuk rapat dimana.

Karena ini yang mengajak Lutfi, akhirnya disepakatilah untuk rapat cafe yang berada di depan MAN Paiton. Saya kira rapatnya di pusat. Ternyata di luar. Setelah mengurus perizinan dan sedikit ketidaknyamanan karena tidak ikut KBM, kami berangkat menggunakan sepeda motor milik Nurul.

Ada empat orang dari kami yang ikut rapat, yaitu saya, Sairafi, Lutfi dan Syamsi. Dari PPIQ diwakili oleh Rizal, mahasiswa UNUJA semester empat prodi MPI. Ainul Yaqin selaku ketua bulan lomba dan Ust. Mutawakkil (Jokowi) selaku ketua lomba eksternal. Dari LPBA juga diwakili oleh Ust. Jokowi karena memang domisili wilyahnya adalah LPBA.

Rapat berakhir hingga pukul setengah satu lebih. Rapat malam itu tentunya membahas soal kemaslahatan bersama, yakni mencari solusi untuk dana yang tidak terakomodir oleh pesantren. Dari malam itu pula, ketua bulan lomba juga terbuka dan terang-terangan soal dana yang ada di atasan mereka. Karena ia adalah teman saya, ia bercerita lebih terbuka dengan apa yang ia ceritakan dihadapan panitia yang lain.

Secara alur organisasi, panitia harlah (dalam hal ini adalah ketua bulan lomba) adalah organizing comite (OC). Panitia harlah adalah bagian teknis dan kinerja di lapangan soal lancar dan tidaknya acara. Sebelum menjalankan dan bergerak di lapangan, OC harus berkonsultasi pada Stering Comite (SC). SC ini ranahnya konsultasi soal konsep dan dana acara yang akan dijalankan oleh OC. Setelah sampai di SC, kemudian hasil konsep antara SC dan OC ini dibawa ke Pak Faizin selaku sekretariat pesantren.

Peran Pak Faizin sangat sentral sekali. Ia seperti wakil kepala pesantren, yakni KH. Abdul Hamid Wahid. Pak Faizin adalah kepanjangan tangan Kiai Hamid di pesantren.

Sampai pentingnya keputusan dari Pak Faizin, ada lelucon yang terkenal diantara para pekerja dan pegawai di pusat. Ketika ditanya apakah bisa atau tidak sebuah acara yang akan dilaksanakan, maka mereka akan menjawab, “aman. Asal Pak Faizin menyetujui.”

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ketika OC mendapat instruksi dari SC untuk melaksanakan lomba eksternal, maka OC langsung bergerak menjalankannya. Percakapan yang bisa saya rekam begini,

“bagaimana pak, jadi apa ndak lomba eksternal ini ?”, ucap Ust. Ainul Yaqin selaku ketua bulan lomba.

“Monggo dah. Terserah dari OC”, jawab SC yang dalam hal ini adalah Pak Ponirin.

“kalau dari kami asalkan ada dananya  pak,” tanggapan dari Ust. Yaqin.

“Oh, kalau masalah dana itu gampang,”

Menyimak percakapan diatas, tentu kita dapat menyimpulkan bahwa lomba eksternal mendapat lampu hijau untuk diadakan dan dana itu aman. Maka bergeraklah OC, bekerja sama dengan BEMs Ma’had Aly Nurul Jadid, LPBA dan PPIQ untuk mengadakan lomba eksternal.

Mengapa harus tiga lembaga ini ? kalau festival turats memang dua tahun terakhir selalu diadakan mendekati harlah. Sehingga festival turats masuk side event rangkaian acara peringatan haul dan harlah. Kecuali tahun 2021. Pada tahun  tersebut memang tidak diadakan karena kondisi tidak memungkinkan dan harlah diadakan serba terbatas.

Sehingga wajar bila bagian OC ini langsung matur ke Kiai Muhammad Al-Fayyadl sebagai mudir untuk mengajak kerjasama terkait lomba eksternal. Kiai yang akrab disapa Gus Fayyadl ini mengiyakan dan “mempersilahkan” untuk berkoordinasi lebih lanjut dengan anggota BEMs. Kontraknya sama: dana ditanggung pusat.

Sedangkan PPIQ, itu ada peringatan dies maulidia. Sebuah acara tahunan peringatan ulang tahun lembaga PPIQ. Ketika pusat sedang ada ancang-ancang lomba eksternal, usut punya usut, pengurus PPIQ hendak mengadakan lomba yang sifatnya untuk santri luar. Sehingga Ust, Yaqin bertamu ke PPIQ dan mengajak supaya PPIQ mau diajak bergabung dan kerjasama. intinya satu: supaya kegiatannya di handle harlah. Dengan kontrak sebagaimana biasa: dana ditanggung oleh pusat.

Sedangkan pekan bahasa itu acara yang diadakan oleh LPBA. Mengapa mengajak LPBA ? penulis tidak tahu. Yang penulis dengar ketika rapat di pusat, bahwa pekan bahasa ini telah vakum -kalau tidak salah- selama enam tahun. Barangkali ini karena ketua lomba eksternal itu Pak Jokowi yang notabene pengurus LPBA, sehingga dimasukkanlah agenda ini di dalam rangkaian side event lomba eksternal haul dan harlah tahun ini.

Setelah disetujui oleh SC dan semua usaha kejar deadline menyiapkan semua kelengkapan lomba dari tiga lembaga ini, sampailah waktu pada hari posting pamflet eNJe festival. Nama ini sebagai istilah yang menghimpun tiga festival yang diadakan oleh tiga lembaga di Nurul Jadid.

Tanggal itu adalah 15 Januari 2022. Seharusnya sudah posting, ternyata diundur-undur terus. Saat itu tidak ada yang tahu mengapa pamflet tidak segera di posting. Panitia BEMs sudah tidak sabar dan bertanya-tanya perihal ketidak jelasan ini. Tanggal 18 Februari panitia BEMs sudah posting pamflet duluan di seluruh akun media sosial BEMs dan Ma’had Aly. Karena ini adalah instruksi dari ketua panitia.

Panitia BEMs terus mendesak supaya pamflet segera di post. Karena bila terus diundur, maka waktu pendaftaran semakin berkurang. Maka hal ini akan berpengaruh kepada peserta yang akan terjaring dan mendaftarkan diri ke lomba ini.

Ternyata, misteri pengunduran postingan pamflet ini baru terungkap tadi malam. Ketua bulan lomba itu, Ust. Yaqin cerita bahwa pada sore harinya saat jadwal posting pamflet lomba, para SC, bagian humas dan protokuler dan Pak Faizin itu rapat. Salah satu pembahasannya adalah eNJe festival.

Ketika Pak Haris, ketua SC melihat Rancangan Anggaran Belanja (RAB) itu sebesar 31 juta-an, kemudian ia bilang untuk membatalkan acara ini. Pak Mujib selaku bagian Humas tidak setuju. Selain karena kasihan panitia yang kadung mempersiapkan, juga sebagai grand desainnya untuk memeriahkan peringatan harlah.

Rapat alot dan panas. Ust. Yaqin tidak ikut rapat langsung. Yang ikut rapat langsung itu Ust. Abdul Lathif selaku ketua 1. Mendengar cerita ini, Ust. Yaqin akhirnya sowan ke rumahnya Pak Haris untuk meminta kejelasan. Akhirnya Pak Haris mau mengurusi soal pendanaan eNJe festibva. rencananya esok hari ia akan menghadap ke Pak Faizin terkait kejelasan dana eNJe festival.

Ust. Yaqin kemudian lega. Serasa mendapat angin segar. Pada keesokan harinya, ternyata Pak Haris tidak bisa dihubungi dan hilang kabar. Karena tidak mau lama, Ust. Yaqin langsung ke Pak Faizin bersama Mas Khofi. Mas Khofi ini adalah ketua umum harlah.

Bertemu dengan Pak Faizin, kemudian ia bilang, “seharusnya yang menghadap ke saya itu bukan OC tapi SC. Saya tau kalau SC-nya kalian itu lambat.”

Selain bilang seperti itu, soal dana, Pak Faizin juga bilang bahwa ploting (anggaran) bendahara untuk harlah itu 150 juta. Bila dikira-kira dengan tahun sebelumnya, 80 juta itu anggaran konsumsi, 40 juta itu anggaran bulan lomba dan 20 juta itu anggaran terop. Sisa 10 juta. Dan dana ini belum lagi untuk bagian-bagian lain dari harlah.

ditambah lagi dengan pesan Pak Faizin, "jangan sampai side event seperti ini malah menggangu acara inti ketika haul dan harlah nanti."

Sebagai panitia harlah, tentu Mas Khofi, Ust. Yaqin dkk tidak enak bila seperti ini. Mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Ketika bilang kemungkinan besar tidak ada dana dari harlah untuk eNJe festival, Mas Khofi bilang bahwa seandainya ploting dana harlah itu 200 juta, maka ia bisa memastikan lima juta untuk eNJe festival. Tapi karena sekarang ploting dana hanya 150 juta, jadi seperti ini. Begitu katanya.

Sebagai panitia harlah yang katanya akan menanggung dana acara ini, mereka tidak akan membiarkan eNJe festival begitu saja. Mereka bilang akan mengawal turunnya dana kepada setiap devisi.

Semisal dana untuk bagian konsumsi yang tahun lalu 80 juta itu karena mereka juga membeli daging-daging. Akan tetapi pada tahun ini, harlah itu memiliki sapi sehingga dana yang turun pada bagian konsumsi seharusnya dikurangi. Nah, pengurangan dana ini bagaimana sekiranya dialihkan ke eNJe festival.

Begitupula dengan banyak instansi yang telah dimasuki proposal dana untuk harlah. Ada satu instansi yang hendak menananggung trofi dan dana sebesar lima juta. Untuk kejelasan sumbangan ini, mereka ingin ada yang disisihkan untuk eNJe festival.

Didhikani Gus Fayyadl dan Matur ke Ra Barizi

Tadi pagi, Rabu (26/01), tepatnya setelah KBM Takhossus selesai, saya mendapat kabar dari Lutfi bahwa Pak Salam mendapat titipan pesan dari Gus Fayyadl bahwa beliau ingin tau anggaran dana turats. Seketika itu, saya langsung memisahkan anggaran festival turats dari RAB eNJe festival. Hasilnya ada sekitar 12 juta lebih.

Saat itu ada Lutfi, Sairafi dan saya. Kami memutuskan untuk menghadap ke beliau sore hari. Tadi sore kami menghadap beliau. Hasilnya bahwa Ra Fayyadl ingin bertemu dengan panitia harlah di pusat. Yang mana mereka yang mengajak panitia BEMs untuk ikut andil dalam teknis kerja di lapangan soal festival turats.

Ra Fayyadl juga bilang, bahwa beliau mengizinkan ini (ketika dulu) itu karena menghormati harlah. Bila seperti ini, tidak ada sokongan dana dari pusat, maka harus jadi pelajaran. Beliau juga tidak semena-mena menurunkan dana ma’had aly untuk festival turats. Karena banyak kebutuhan ma’had aly yang lebih penting.

Kami pulang dan menunggu hasil besok panitia harlah menghadap ke Ra Fayyadl.

Sedangkan tadi maghrib, Ust. Taufiq selaku pembina BEMs matur atau koordinasi ke Ra Barizi. Tentang festival turats tentunya. Tapi hanya sekelumit informasi yang disampaikan Sairafi kepada saya. Sairafi yang mendengar sendiri dari Ust. Taufiq.

Yang jelas, bahwa Ra Barizi tidak kesokan (kurang setuju, red) bila santri cari proposal untuk lomba ini. Kalau cari proposal untuk pembangunan musholla dan wisuda, itu masih bermanfaat untuk santri. Sedangkan kalau lomba, apa manfaatnya pada santri ?

Sampai tulisan ini ditulis, informasi matur ke Ra Barizi belum lengkap sepenuhnya. Masih ada waktu, masih ada hari untuk mempersiakan semuanya dengan maksimal. Yang pasti, banyak kejutan dan hal-hal tak terduga yang telah disiapkan tuhan kepada segenap panitia yang terlibat.

Entah apa itu. Yang jelas bila semua usaha telah dikerahkan dengan sebaik-baiknya, realita yang ‘diizinkan’ tuhan terjadi pada kita itulah yang terbaik. menurut-Nya. Itu saja.

Paiton, 26 Januari 2022. (selesai 27 Januari pukul 00.02 WIB dinihari).

 

Posting Komentar

0 Komentar