Saat itu saya sedang tidur. Dibangunkan oleh Lutfi untuk persiapan dan ikut
rapat dengan panitia bulan lomba di pusat, baik panitia harlah, PPIQ dan LPBA.
Sekitar dua jam-an saya tidur. Setelah urusan telfon dari putri usai, kami-pun
janjian untuk rapat dimana.
Karena ini yang mengajak Lutfi, akhirnya disepakatilah untuk rapat cafe
yang berada di depan MAN Paiton. Saya kira rapatnya di pusat. Ternyata di luar.
Setelah mengurus perizinan dan sedikit ketidaknyamanan karena tidak ikut KBM,
kami berangkat menggunakan sepeda motor milik Nurul.
Ada empat orang dari kami yang ikut rapat, yaitu saya, Sairafi, Lutfi dan
Syamsi. Dari PPIQ diwakili oleh Rizal, mahasiswa UNUJA semester empat prodi
MPI. Ainul Yaqin selaku ketua bulan lomba dan Ust. Mutawakkil (Jokowi) selaku
ketua lomba eksternal. Dari LPBA juga diwakili oleh Ust. Jokowi karena memang
domisili wilyahnya adalah LPBA.
Rapat berakhir hingga pukul setengah satu lebih. Rapat malam itu tentunya
membahas soal kemaslahatan bersama, yakni mencari solusi untuk dana yang tidak
terakomodir oleh pesantren. Dari malam itu pula, ketua bulan lomba juga terbuka
dan terang-terangan soal dana yang ada di atasan mereka. Karena ia adalah teman
saya, ia bercerita lebih terbuka dengan apa yang ia ceritakan dihadapan
panitia yang lain.
Secara alur organisasi, panitia harlah (dalam hal ini adalah ketua bulan
lomba) adalah organizing comite (OC). Panitia harlah adalah bagian teknis dan
kinerja di lapangan soal lancar dan tidaknya acara. Sebelum menjalankan dan
bergerak di lapangan, OC harus berkonsultasi pada Stering Comite
(SC). SC ini ranahnya konsultasi soal konsep dan dana acara yang akan
dijalankan oleh OC. Setelah sampai di SC, kemudian hasil konsep antara SC dan
OC ini dibawa ke Pak Faizin selaku sekretariat pesantren.
Peran Pak Faizin sangat sentral sekali. Ia seperti wakil kepala pesantren, yakni KH. Abdul Hamid Wahid. Pak Faizin adalah kepanjangan tangan Kiai Hamid di pesantren.
Sampai pentingnya keputusan dari Pak Faizin, ada lelucon yang terkenal diantara
para pekerja dan pegawai di pusat. Ketika ditanya apakah bisa atau tidak sebuah
acara yang akan dilaksanakan, maka mereka akan menjawab, “aman. Asal Pak Faizin
menyetujui.”
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ketika OC mendapat instruksi dari
SC untuk melaksanakan lomba eksternal, maka OC langsung bergerak
menjalankannya. Percakapan yang bisa saya rekam begini,
“bagaimana pak, jadi apa ndak lomba eksternal ini ?”, ucap Ust. Ainul Yaqin
selaku ketua bulan lomba.
“Monggo dah. Terserah dari OC”, jawab SC yang dalam hal ini adalah Pak
Ponirin.
“kalau dari kami asalkan ada dananya
pak,” tanggapan dari Ust. Yaqin.
“Oh, kalau masalah dana itu gampang,”
Menyimak percakapan diatas, tentu kita dapat menyimpulkan bahwa lomba
eksternal mendapat lampu hijau untuk diadakan dan dana itu aman. Maka bergeraklah
OC, bekerja sama dengan BEMs Ma’had Aly Nurul Jadid, LPBA dan PPIQ untuk mengadakan
lomba eksternal.
Mengapa harus tiga lembaga ini ? kalau festival turats memang dua tahun
terakhir selalu diadakan mendekati harlah. Sehingga festival turats masuk side
event rangkaian acara peringatan haul dan harlah. Kecuali tahun 2021. Pada tahun tersebut memang tidak diadakan karena kondisi
tidak memungkinkan dan harlah diadakan serba terbatas.
Sehingga wajar bila bagian OC ini langsung matur ke Kiai Muhammad Al-Fayyadl
sebagai mudir untuk mengajak kerjasama terkait lomba eksternal. Kiai yang akrab
disapa Gus Fayyadl ini mengiyakan dan “mempersilahkan” untuk berkoordinasi lebih
lanjut dengan anggota BEMs. Kontraknya sama: dana ditanggung pusat.
Sedangkan PPIQ, itu ada peringatan dies maulidia. Sebuah acara tahunan
peringatan ulang tahun lembaga PPIQ. Ketika pusat sedang ada ancang-ancang
lomba eksternal, usut punya usut, pengurus PPIQ hendak mengadakan lomba yang sifatnya
untuk santri luar. Sehingga Ust, Yaqin bertamu ke PPIQ dan mengajak supaya PPIQ
mau diajak bergabung dan kerjasama. intinya satu: supaya kegiatannya di handle harlah. Dengan
kontrak sebagaimana biasa: dana ditanggung oleh pusat.
Sedangkan pekan bahasa itu acara yang diadakan oleh LPBA. Mengapa mengajak
LPBA ? penulis tidak tahu. Yang penulis dengar ketika rapat di pusat, bahwa
pekan bahasa ini telah vakum -kalau tidak salah- selama enam tahun. Barangkali ini
karena ketua lomba eksternal itu Pak Jokowi yang notabene pengurus LPBA, sehingga
dimasukkanlah agenda ini di dalam rangkaian side event lomba eksternal haul dan
harlah tahun ini.
Setelah disetujui oleh SC dan semua usaha kejar deadline menyiapkan semua
kelengkapan lomba dari tiga lembaga ini, sampailah waktu pada hari posting
pamflet eNJe festival. Nama ini sebagai istilah yang menghimpun tiga festival
yang diadakan oleh tiga lembaga di Nurul Jadid.
Tanggal itu adalah 15 Januari 2022. Seharusnya sudah posting, ternyata
diundur-undur terus. Saat itu tidak ada yang tahu mengapa pamflet tidak segera
di posting. Panitia BEMs sudah tidak sabar dan bertanya-tanya perihal ketidak
jelasan ini. Tanggal 18 Februari panitia BEMs sudah posting pamflet duluan di
seluruh akun media sosial BEMs dan Ma’had Aly. Karena ini adalah instruksi dari
ketua panitia.
Panitia BEMs terus mendesak supaya pamflet segera di post. Karena bila terus diundur, maka waktu
pendaftaran semakin berkurang. Maka hal ini akan berpengaruh kepada peserta
yang akan terjaring dan mendaftarkan diri ke lomba ini.
Ternyata, misteri pengunduran postingan pamflet ini baru terungkap tadi malam.
Ketua bulan lomba itu, Ust. Yaqin cerita bahwa pada sore harinya saat jadwal
posting pamflet lomba, para SC, bagian humas dan protokuler dan Pak Faizin itu
rapat. Salah satu pembahasannya adalah eNJe festival.
Ketika Pak Haris, ketua SC melihat Rancangan Anggaran Belanja (RAB) itu
sebesar 31 juta-an, kemudian ia bilang untuk membatalkan acara ini. Pak Mujib
selaku bagian Humas tidak setuju. Selain karena kasihan panitia yang kadung mempersiapkan,
juga sebagai grand desainnya untuk memeriahkan peringatan harlah.
Rapat alot dan panas. Ust. Yaqin tidak ikut rapat langsung. Yang ikut rapat
langsung itu Ust. Abdul Lathif selaku ketua 1. Mendengar cerita ini, Ust. Yaqin
akhirnya sowan ke rumahnya Pak Haris untuk meminta kejelasan. Akhirnya Pak
Haris mau mengurusi soal pendanaan eNJe festibva. rencananya esok hari ia akan menghadap ke Pak Faizin terkait kejelasan dana eNJe festival.
Ust. Yaqin kemudian lega. Serasa mendapat angin segar. Pada keesokan
harinya, ternyata Pak Haris tidak bisa dihubungi dan hilang kabar. Karena tidak
mau lama, Ust. Yaqin langsung ke Pak Faizin bersama Mas Khofi. Mas Khofi ini
adalah ketua umum harlah.
Bertemu dengan Pak Faizin, kemudian ia bilang, “seharusnya yang menghadap
ke saya itu bukan OC tapi SC. Saya tau kalau SC-nya kalian itu lambat.”
Selain bilang seperti itu, soal dana, Pak Faizin juga bilang bahwa ploting
(anggaran) bendahara untuk harlah itu 150 juta. Bila dikira-kira dengan
tahun sebelumnya, 80 juta itu anggaran konsumsi, 40 juta itu anggaran bulan lomba
dan 20 juta itu anggaran terop. Sisa 10 juta. Dan dana ini belum lagi untuk bagian-bagian
lain dari harlah.
ditambah lagi dengan pesan Pak Faizin, "jangan sampai side event seperti ini malah menggangu acara inti ketika haul dan harlah nanti."
Sebagai panitia harlah, tentu Mas Khofi, Ust. Yaqin dkk tidak enak bila
seperti ini. Mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Ketika bilang kemungkinan
besar tidak ada dana dari harlah untuk eNJe festival, Mas Khofi bilang bahwa seandainya
ploting dana harlah itu 200 juta, maka ia bisa memastikan lima juta
untuk eNJe festival. Tapi karena sekarang ploting dana hanya 150 juta,
jadi seperti ini. Begitu katanya.
Sebagai panitia harlah yang katanya akan menanggung dana acara ini, mereka tidak
akan membiarkan eNJe festival begitu saja. Mereka bilang akan mengawal turunnya
dana kepada setiap devisi.
Semisal dana untuk bagian konsumsi yang tahun lalu 80 juta itu karena mereka
juga membeli daging-daging. Akan tetapi pada tahun ini, harlah itu memiliki sapi
sehingga dana yang turun pada bagian konsumsi seharusnya dikurangi. Nah,
pengurangan dana ini bagaimana sekiranya dialihkan ke eNJe festival.
Begitupula dengan banyak instansi yang telah dimasuki proposal dana untuk
harlah. Ada satu instansi yang hendak menananggung trofi dan dana sebesar lima juta.
Untuk kejelasan sumbangan ini, mereka ingin ada yang disisihkan untuk eNJe festival.
Didhikani Gus Fayyadl dan Matur ke Ra Barizi
Tadi pagi, Rabu (26/01), tepatnya setelah KBM Takhossus selesai, saya
mendapat kabar dari Lutfi bahwa Pak Salam mendapat titipan pesan dari Gus Fayyadl bahwa beliau ingin tau anggaran dana turats. Seketika itu, saya langsung
memisahkan anggaran festival turats dari RAB eNJe festival. Hasilnya ada
sekitar 12 juta lebih.
Saat itu ada Lutfi, Sairafi dan saya. Kami memutuskan untuk menghadap ke
beliau sore hari. Tadi sore kami menghadap beliau. Hasilnya bahwa Ra Fayyadl ingin
bertemu dengan panitia harlah di pusat. Yang mana mereka yang mengajak panitia
BEMs untuk ikut andil dalam teknis kerja di lapangan soal festival turats.
Ra Fayyadl juga bilang, bahwa beliau mengizinkan ini (ketika dulu) itu
karena menghormati harlah. Bila seperti ini, tidak ada sokongan dana dari
pusat, maka harus jadi pelajaran. Beliau juga tidak semena-mena menurunkan dana
ma’had aly untuk festival turats. Karena banyak kebutuhan ma’had aly yang lebih
penting.
Kami pulang dan menunggu hasil besok panitia harlah menghadap ke Ra Fayyadl.
Sedangkan tadi maghrib, Ust. Taufiq selaku pembina BEMs matur atau
koordinasi ke Ra Barizi. Tentang festival turats tentunya. Tapi hanya sekelumit
informasi yang disampaikan Sairafi kepada saya. Sairafi yang mendengar sendiri dari
Ust. Taufiq.
Yang jelas, bahwa Ra Barizi tidak kesokan (kurang setuju, red) bila
santri cari proposal untuk lomba ini. Kalau cari proposal untuk pembangunan musholla
dan wisuda, itu masih bermanfaat untuk santri. Sedangkan kalau lomba, apa
manfaatnya pada santri ?
Sampai tulisan ini ditulis, informasi matur ke Ra Barizi belum
lengkap sepenuhnya. Masih ada waktu, masih ada hari untuk mempersiakan semuanya
dengan maksimal. Yang pasti, banyak kejutan dan hal-hal tak terduga yang telah
disiapkan tuhan kepada segenap panitia yang terlibat.
Entah apa itu. Yang jelas bila semua usaha telah dikerahkan dengan
sebaik-baiknya, realita yang ‘diizinkan’ tuhan terjadi pada kita itulah yang
terbaik. menurut-Nya. Itu saja.
Paiton, 26 Januari 2022. (selesai 27 Januari pukul 00.02 WIB dinihari).
0 Komentar