Untuk tulisan “hasrat menulis, ini list tugas-tugas saya” adalah tulisan
qodho’an ya. malam ini saya ingin menyelesaikan tulisan untuk blog lagi.
Setidaknya tugas saya tingga 2 tulisan qodho’ lagi dan satu tulisan wajib (ini
untuk tanggal 6 ya). Plus, besok saya harus mempersiapkan konten tulisan
untuk media center. karena websitenya masih belum bisa, maka posting tulisannya
di facebook. Isi kontennya itu pengennya ada dua, yakni berita dan
artikel keislaman.
Hari-hari ini, kehidupan berjalan normal, tapi ketika mengingat
kejadian-kejadian telah berlalu, secara spontan saya menghembuskan nafas
panjang-panjang. Ada beberapa fenomena membuat saya berpikir dan merenung.
Semisal keinginan membaca buku yang menggebu-gebu. Keinginan ini adalah wajar
dan patut saya syukuri. Syahwat (keinginan) untuk membaca saya sudah punya,
persoalan selanjutnya adalah daya tahan belajar atau menekuri buku-buku (atau
di Ma’had Aly itu kitab kuning).
Beberapa jam di asrama MAK karena ada Afrian, saya kemudian melihat-lihat
buku-buku dan kitab milik pengurus asrama. Wow. Menggelunjang hati ini untuk
membaca. Pergi ke sebelah, saya kemudian ke perpus. Iseng-iseng cari referensi
untuk bahan tulisan saya. Ternyata saya menemukan buku yang berjudul “Islam
Doktrin dan Peradaban” karya Nurcholis Madjid. Keinginan membaca buku ini
ketika siswa dulu kemudian muncul kembali. Saya dulu ingin membaca buku ini,
tapi sampai saat ini tidak membacanya. Ini apa masalahnya ? kok sampai begini.
Saya susuri kembali. Beralih ke kamar barat, ada buku menarik lagi. Ada
novel Tere Liye yang berjudul “Lumpu”. Saya penggemar berat Tere Liye. Ketika
masih siswa dulu saya gembira dan bersemangat membaca karya-karya Tere Liye.
Novel Lumpu adalah salah satu novel lanjutan dari seri Bumi-Matahari-Bulan-dll.
Entah berapa novel lanjutan yang belum saya baca. Saya ingin membacanya secara
lengkap dan utuh. Seperti ketika siswa dulu, cukup sehari untuk mengkhatamkan
novel Tere Liye. Kata temanku yang juga menyukai novel Tere Liye, “baca novel
Tere Liye cukup sehari, ndak tau kalau penulis menuliskan semua ini sampai
berhari-hari.”
Akhirnya untuk novel Lumpu saya urung membacanya dikarenakan sudah tidak
nyambung dengan pembahasan dari dulu seri terakhir yang saya baca. Kemudian ada
buku renungan umur manusia karya Imam Al-Haddad, pengarang ratib al-haddad. Saya
membacanya sekilas. Kemudian saya buka lemari yang menyimpan kitab ushul
fiqih karya Muhammad Hasan Hitou.
Kitab ini adalah kitab yang pernah direkomendasikan oleh Gus Imdad Robbani
untuk dipelajari. Menurut Gus Imdad, atau akrab disapa Ra Amak, kitab ushul
fiqih karya Hasan Hitou itu merupakan waroqot kontemporer.
Maksudnya, kitab ushul fiqih dasar kontemporer yang disajikan dengan bahasa
sistematis dan sangat fundametal sekali. Sebelum belajar kitab-kitab ushul yang
tebal dan sifatnya perbandingan, alangkah lebih baiknya untuk memahami kitab
dasar itu.
Soal membaca, saya bersyukur sekali dikaruniai untuk keinginan untuk
membaca. Artinya, semangat saya dalam belajar itu masih ada. Sedangkan soal
daya tahan membaca itu perkara lain. ketika sampai di wilayah, tadi isya’, saya
melihat buku-buku menarik yang memanjakan mata. Saya bergairah untuk
membacanya. Ada beberapa judul, semisal buku “berpikir seperti nabi” karya Fauz
Noor, ada buku “orang-orang biasa” karya Andrea Hirata, ada buku karya Khilma
Anis dan buku-buku lain yang ‘spontan’ membuat syahwat untuk membaca.
Dalam kitab Mauizhotul Mukminin yang saya ngaji tadi pagi, bahwa
syahwat (keinginan) dan marah merupakan dua faktor ‘gas’ hati untuk
menggerakkan badan melakukan sesuatu. Ke faktor tersebut hendaknya harus taat
pada akal dan syariat, supaya tidak menjerumuskan manusia pada perkara-perkara
yang berbahaya.
Begitu pula dengan syahwat (keinginan) membaca ini. Ketika di asrama MAK
muncuk keinginan membaca dan melahap semua buku, ketika di wilayah begitu pula.
Tadi juga muncul keinginan untuk membaca buku tentang menghipnotis melalui
tulisan. Sebuah tata cara penulisan yang menghipnotis pembaca supaya mereka mau
membeli produk kita. Buku ini merupakan pemberian Gus Fayyadl kepada media
center. Pesan beliau saat itu, supaya awak media center itu juga belajar ilmu
media. Mereka harus banyak membaca buku-buku tentang media. Perlu adanya
semacam rak buku, stempel media center sebagai tanda bukti buku tersebut milik
media center dan tidak diperkenan untuk dipinjam oleh kalangan non-media
center.
Pesan mudir ini masih belum terealisasikan secara optimal. Rak belum ada,
anggaran buku untuk beli buku apa juga belum jelas. Cuma kita hanya bisa
berusaha memaksimalkan yang ada supaya gap antara idealitas dan realitas tidak
menganga semakin lebar.
Bagi saya, membaca buku itu bagus. Apalagi kita diberi kemampuan oleh Allah
bisa membaca, mengkhatamkan, menyerap hasil bacaan dari buku-buku itu dan
diolah dengan inovasi-inovasi baru. Barangkali akan ada perubahan spektakuler,
mengejutkan dan membahagiakan.
Orang-orang besar dan kaya, mereka adalah para pembaca yang tekun.
Data-data mereka telah terjabar luas di internet. Semisal Gus Fayyadl, Napoleon
Bonarparte, Imam Syafi’i, Imam Ghozali, Gus Dur dan lain sebagainya.
Tapi bagi saya, menekuni satu buku, mengkhatamkannya itu lebih baik
daripada sekadar ingin-ingin membaca itu. Bila syahwat masih menggelora dan
kita tak kunjung membaca, bersyukurlah bila ada tugas presentasi dari dosen.
Sehingga secara tidak langsung kita dituntut untuk membaca buku materi
tersebut, mengkomparasikan dengan referensi lain lalu memberikan usulan-usulan
jawaban.
Atau lebih kepada kajian tematik. Membaca tematik, biasanya saya gunakan ketika hendak menulis dengan tema-tema kajian tertentu. Semisal yang terbaru adalah tentang santri dan konservasi lingkungan. Awalnya saya hendak ikut LKTI tentang konservasi lingkungan. Akhirnya saya harus bergerak mencari referensi sebanyak-banyaknya. Membaca semampunya dan seperlunya untuk kepentingan menulis (ini karena didesak oleh waktu pengumpulan karya).
Untuk proses mencari
referensi, tak jarang saya harus mencari ke perpustakaan-perpustakaan yang bisa
saya akses. Perpustakaan Ma’had Aly, Asrama MAK dan Unuja misalnya. Atau bisa
pinjam ke orang-orang yang memiliki buku terkait tema yang akan kita kaji.
Kalau saya, terkait tema santri dan konservasi lingkungan kapan hari, sampai
pinjam ke Gus Fayyadl. Saya sampai diajak ke dhalem beliau. Diberi
pilihan sebanyak 9 buku, karena diberi pilihan butuh referensi yang mana,
akhirnya beliau meminjamkan semua buku itu kepada saya. Sampai sekarang
ternyata belum saya kembalikan. (maaf kiai~) tapi ini bukan alasan, saya hendak
menulis tentang lingkungan lagi, tapi entah jadi atau tidak.
Jadi menurut saya begitu mungkin. Barangkali ada sharing bisa ditulis di
kolom komentar. Terimakasih.
Paiton, 06 Januari 2022.
0 Komentar