Trending

6/recent/ticker-posts

Selamat Tinggal Untuk Sementara

Tepat pada hari ahad, 23 Agustus 2021 ini, HP saya resmi ditarik. Saya tidak pegang HP se-bebas biasanya. Begitulah. Masa-masa seperti ini akhirnya datang juga. Roda berputar.

Sejarah

Pada mulanya, HP saya ini mendapat rekomendasi saat jabatan mudir dipegang oleh Allahuyarham Dr. K.H. Moh. Romzi Al-Amiri Mannan. Dulu, saya diberikan rekomendasi bermula dari banyaknya masukan bahwa hendaknya pengurus media online itu mendapatkan rekomendasi HP.

Karena memang untuk posting konten di instagram, tidak boleh tidak kecuali dengan HP. Selain itu, dulu ada gambaran idealis seperti ini : seharusnya, untuk posting berita di website itu, acaranya belum selesai beritanya sudah tayang. Karena beritanya adalah berita siap saji (straight news), jadi membuatnya tidak memerlukan waktu yang lama.

Juga, ada masukan Ust. Ahmad Husain Fahasbu tentunya. Meski kehadirannya di Ma’had Aly Nurul Jadid berstatus sebagai guru tugas dari Ma’had Aly Sukorejo, tapi pendapat dan pengalamannya sangat dipertimbangkan sekali.

Pengalaman, jam terbang dan ilmu mengelola media milik lembaga Ma’had Aly Situbondo ini menjadikan Ust. Husain sangat layak diperhitungkan. Media tersebut bukan hanya media online, (web, instagram dll), tapi juga media cetak seperti majalah tanwirul afkar.

Bila ada waktu luang, saya biasa sharing dan bincang-bincang perihal media, kepenulisan dan keilmuan tentunya. Ust. Husain sebagai penulis kenamaan di alif.id, sering diundang menjadi pemateri oleh beberapa forum di dalam jaringan (daring) hingga hadiah buku buku atau kitab dari tokoh tertentu menjadi daya tarik tersendiri bagi saya untuk mengambil faidah darinya.

Dulu, saya ada dibawah organisasi yang bernama bagian Informasi dan Komunikasi (Infokom). Pimpinannya adalah Ust. Salam. Jadi saat itu, Ust. Salam sebagai pimpinan Infokom yang juga sekaligus bagian Keamana wilayah al-Amiri (J). Sehingga ketika mengurus surat rekomendasi HP saya di wilayah dan Ma’had Aly itu mudah. Semua diurus Pak Salam. Termasuk langkah terakhir, minta tanda tangan ke Kiai Romzi.

Sekilas saya baca surat rekomendasi itu, bahwa HP yang ada rekomnya ini ada beberapa alasan. Diantaranya adalah untuk kepentingan Infokom. Akhirnya, setelah rekom selesai, saya pun pegang HP. Disini, pegang HP secara legal itu bagi mereka yang telah menjadi ustadz. Untuk mahasantri itu tidak boleh.

Tapi kondisi sedang pandemi, ketika kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara daring, ketentuan ini bisa berubah. Universitas Nurul Jadid (UNUJA) yang masih menggunakan sistem on-line, memaksa pengurus untuk memperbolehkan para mahasantri membawa HP demi kepentingan kuliah. Dengan syarat : untuk kepentingan kuliah. Selain itu tidak diperbolehkan.

Saya gak bahas praktiknya lho ya~  :D

Waktu terus berlalu. Saya juga belajar sebagaimana mahasantri lain pada umumnya. Hanya saja saya ada sesuatu yang beda. Itu tadi. Akses hp, dimana dan kapan saja. Anda bisa bayangkan sendiri, ketika dalam se-blok atau se-kamar ada santri yang main HP sendiri. Padahal bukan ustadz tapi tidak ada yang menegur karena semua sudah tau alasannya.

Sekali lagi. Ada rekom. Jadi menurut kalian bagaimana ?

Antara ujian dan keistimewaan. Kelebihan dan kekurangan. Positif dan negatif. Enak dan tidak enak. Menyenangkan dan tidak menyenangkan. Seperti gambar dan mata uang dalam uang koin. Semua ada sisi baik dan buruknya.

Sisi baik karena dengan  akses internet, kesempatan belajar melalui internet lebih luas, informasi lebih up date, kirim tulisan sangat mudah dan tentunya koordinasi atau kontak dengan kawan di luar sana juga tetap bisa dilaksanakan.

Sisi buruknya adalah tidak enak dipandang teman lain, apalagi ustadz. Belajar kitab kuning tentunya kurang fokus. Godaan selalu buka hp, chatingan, scrool instagram yang kurang penting hingga hp dipinjam teman yang seharusnya tidak boleh dipinjam padahal peraturannya ‘dilarang meminjamkan hp kepada siapapun’.

Juga, terkadang muncul kretek dalam hati, “wah, saya ini pegang hp adalah amanah. Tapi jarang ngonten. Gimana ini ?”.

Yeah. Apapun yang terjadi tentunya ini merupakan ketentuan-Nya. Dengan bebas dari pegang hp pribadi untuk kepentingan lembaga ini, setidaknya ada kelegaan. Penggangu belajar ketika tidak sibuk ngonten  Ma’had Aly bisa disingkirkan.

Hal ini juga perlu adaptasi dari zona nyaman. Ada secercah hikmah, dari keunekan dan ketidaknyamanan yang mengganjal dalam hati itu tadi.

“akhirnya bebas pula”

Kata temanku, “jalani saja. Ini mungkin jalan supaya lebih mendalam belajarnya”

Hari-hari ini, tentunya akan ada pola aktivitas dan kerja tim media center yang berbeda. Biasanya tinggal kerja dan hotspor di kamat itu biasa saja. Entah esok-esok hari. Apakah kami harus ngantor terus setiap ada proyek ? atau ada jalan lain yang sekiranya kawan-kawan aktivis medsos ini bisa tetap produktif tanpa bergantung dengan fasilitas yang disediakan lembaga ?.

Tadi malam, saya sempat berbincang-bincang dengan Pak Dany, salah satu atasan Media Center. Saya bilang, kalau masalah fasilitas sebenarnya kami lebih enak mandiri. Sedangkan untuk arahan isi dan tampilan, tentu perlu sekali diawasi.

Karena bila fasilitas disediakan oleh lembaga, tentu ini ada keterikatan. Memang tidak ada jalan yang selalu mulus. Ada batu kerikikil, gonjalan dan sandungan yang sesekali menghalangi perjalanan. Tak apalah. Keadaan menuntut untuk sedikit memutar otak. Bagaimana nantinya, wallahu a’lam bis showaab.

 

Posting Komentar

0 Komentar