Semenjak acara bahtsul masail
selesai, entahlah, ada rasa senang yang meliputi diri untuk ikut dalam
diskusi-diskusi kitab semacam bahtsul masail. Bukan untuk gaya-gayaan, meski
gaya-gayaan memang jadi selebrasi paling menarik diperbincangkan ketika di luar
forum nanti. Heheuy.
Tapi lebih dari sekedar itu.
Berbahtsul masail adalah latihan menjawab persoalan keagamaan melalui kajian
keilmuan yang benar-benar mendalam, otoritatif dan representatif. Berbahtsul
masail adalah jihad milenial di tengah derasnya arus modernisasi dan
westernisasi.
Selain untuk paham dan alim betul
terhadap kitab kuning yang yang notabene khazanah keilmuan Islam, orang-orang
yang berbahtsu dituntut untuk paham betul terhadap soal/permasalahan yang
sedang dibahas.
Semisal bahas cryptocurrency,
ya mau tidak mau harus paham betul definisi, pembagian, dampak atau efek
negatif serta positifnya dan lain sebagainya. Karena tidak mungkin kita hendak
menghukumi dan menjawab persoalan tertentu, sedang soal itu sendiri kita tidak
memahaminya.
Selain soal keilmuan, bahstul
masail juga perihal silaturahmi. Kita dapat berkenalan dengan santri-santri
dari berbagai pondok dalam satu forum. Bertukar pikiran. Saling berbagi latar
belakang, bercerita hingga membahas kemajuan dan kekurangan di lingkungan
pesantren masing-masing. Sehingga oleh-oleh dari bahtsul masail bukan hanya
hasil diskusi, tapi juga pengalaman, bahasan dan pemikiran yang semakin terbuka.
Sehingga dengan hal tersebut kita bisa menganalisis gerakan dan gebrakan apa
yang bisa kita lakukan di pondok kita masing-masing.
Semisal hasil perbincangan saya
dengan salah satu santri dari Pesantren Mahir Ar-Riyadh. Ia adalah salah satu
delegasi yang paling aktif dan menonjol dari delegasi-delegasi lainnya. Saya lupa
namanya, Cuma ia adalah santri asal Ambulu, Jember yang mondok di sana. Kediri.
Dekat Kecamatan Gedang Sewu.
Di sana, sebelum bahtsul masail,
tentu pasca persiapan cari ibaroh dan “tetek bengek”nya, mereka akan di uji seminggu
sebelum hari H. Nah, hal ini berbeda sekali dengan yang ada di Ma’had Aly Nurul
Jadid.
Sebelum berangkat, setelah
mencari ibarot-ibaroh dari kitab, tidak semua santri yang akan diutus berangkat
bahtsu itu disidang. Persiapan kadang tidak terlalu matang gara-gara pencarian
ibaroh tidak konsisten. Ketidak konsistenan ini juga tidak bisa disalahkan
sepenuhnya. Karena semua elemen yang terlibat tidak fokus akan bahtsul masail saja. Ada yang sibuk mengajar, hendak wisuda, aktif di organisasi, memenuhi
tugas presentasi, hafalan, lalaran dan setoran.
Latar belakang atau lingkungan
merupakan faktor yang tidak bisa dilupakan. Pesantren Mahir Ar-Riyadh adalah
pesantren salaf. Wajar jika mereka persiapan lebih matang. Berbeda dengan disini,
yang mahasantrinya yang fokus merek bercabang-cabang.
Alasan-alasan itu, ya kalau
kita mau profesional, jelas tidak diterima. Kalau ingin maksimal, ya harus
perjuangan dan maksimal juga. Semua pesantren punya cobaan masing-masing. Jadi,
deskripsi barusan, yang narasinya bersifat “banding-bandingkan” itu sekadar ngeles
saja ya.
Sebenarnya malu bila tidak aktif
dan berbicara ketika di forum bahtsul masail. Ada semacam pikiran dan perasaan
yang tidak enak bila tidak berpartisipasi aktif ketika hendak memecahkan
persoalan. Seolah-olah pondoknya kurang dilirik dan dikenal oleh delegasi lain.
Meskipun, dalam tanda kutip,
bahwa mereka yang aktif di forum-forum seperti itu juga tidak menjamin bahwa
mereka alim. Tidak juga. Banyak juga yang aktif tapi referensi mereka tidak
masuk, mengena dan tajam. Kadang Cuma guyonan, meramaikan dan lain sebagainya.
Perlu diakui memang, bahwa
mencari ibarot itu sulit. Jadi ketika mereka mengutarakan hasil pencarian ibaroh
itu, ya anggap saja menghargai meski tidak ngena-ngena betul. Heheuy.
Selain itu, senangnya berbahtsu adalah ramah tamah. Supaya
saling ramah dan tamah. Sampai ada guyonan seperti ini, “qoshdul a’dhom
bahtsul masail adalah ramah tamah,” artinya, tujuan utama bahtsul masail
adalah ramah tamah.
Biasanya, setiap tuan rumah akan ada
‘kompetisi otomatis’ untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi para delegasi
bahtsul masail. Tapi jujur saja, bagi saya, makan terlalu banyak itu tidak enak
juga. Bisa sakit perut dan ujung-ujungnya lemas, badan jadi berat untuk
akitivitas bahkan bisa tidur ketika forum sedang panas-panasnya.
Mungkin begitu. ~
Paiton, 23 Januari 2022.
0 Komentar