Trending

6/recent/ticker-posts

Senangnya Berbahtsul Masail



Semenjak acara bahtsul masail selesai, entahlah, ada rasa senang yang meliputi diri untuk ikut dalam diskusi-diskusi kitab semacam bahtsul masail. Bukan untuk gaya-gayaan, meski gaya-gayaan memang jadi selebrasi paling menarik diperbincangkan ketika di luar forum nanti. Heheuy.

Tapi lebih dari sekedar itu. Berbahtsul masail adalah latihan menjawab persoalan keagamaan melalui kajian keilmuan yang benar-benar mendalam, otoritatif dan representatif. Berbahtsul masail adalah jihad milenial di tengah derasnya arus modernisasi dan westernisasi.

Selain untuk paham dan alim betul terhadap kitab kuning yang yang notabene khazanah keilmuan Islam, orang-orang yang berbahtsu dituntut untuk paham betul terhadap soal/permasalahan yang sedang dibahas.

Semisal bahas cryptocurrency, ya mau tidak mau harus paham betul definisi, pembagian, dampak atau efek negatif serta positifnya dan lain sebagainya. Karena tidak mungkin kita hendak menghukumi dan menjawab persoalan tertentu, sedang soal itu sendiri kita tidak memahaminya.

Selain soal keilmuan, bahstul masail juga perihal silaturahmi. Kita dapat berkenalan dengan santri-santri dari berbagai pondok dalam satu forum. Bertukar pikiran. Saling berbagi latar belakang, bercerita hingga membahas kemajuan dan kekurangan di lingkungan pesantren masing-masing. Sehingga oleh-oleh dari bahtsul masail bukan hanya hasil diskusi, tapi juga pengalaman, bahasan dan pemikiran yang semakin terbuka. Sehingga dengan hal tersebut kita bisa menganalisis gerakan dan gebrakan apa yang bisa kita lakukan di pondok kita masing-masing.

Semisal hasil perbincangan saya dengan salah satu santri dari Pesantren Mahir Ar-Riyadh. Ia adalah salah satu delegasi yang paling aktif dan menonjol dari delegasi-delegasi lainnya. Saya lupa namanya, Cuma ia adalah santri asal Ambulu, Jember yang mondok di sana. Kediri. Dekat Kecamatan Gedang Sewu.

Di sana, sebelum bahtsul masail, tentu pasca persiapan cari ibaroh dan “tetek bengek”nya, mereka akan di uji seminggu sebelum hari H. Nah, hal ini berbeda sekali dengan yang ada di Ma’had Aly Nurul Jadid.

Sebelum berangkat, setelah mencari ibarot-ibaroh dari kitab, tidak semua santri yang akan diutus berangkat bahtsu itu disidang. Persiapan kadang tidak terlalu matang gara-gara pencarian ibaroh tidak konsisten. Ketidak konsistenan ini juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Karena semua elemen yang terlibat tidak fokus akan bahtsul masail saja. Ada yang sibuk mengajar, hendak wisuda, aktif di organisasi, memenuhi tugas presentasi, hafalan, lalaran dan setoran.

Latar belakang atau lingkungan merupakan faktor yang tidak bisa dilupakan. Pesantren Mahir Ar-Riyadh adalah pesantren salaf. Wajar jika mereka persiapan lebih matang. Berbeda dengan disini, yang mahasantrinya yang fokus merek bercabang-cabang.

Alasan-alasan itu, ya kalau kita mau profesional, jelas tidak diterima. Kalau ingin maksimal, ya harus perjuangan dan maksimal juga. Semua pesantren punya cobaan masing-masing. Jadi, deskripsi barusan, yang narasinya bersifat “banding-bandingkan” itu sekadar ngeles saja ya.

Sebenarnya malu bila tidak aktif dan berbicara ketika di forum bahtsul masail. Ada semacam pikiran dan perasaan yang tidak enak bila tidak berpartisipasi aktif ketika hendak memecahkan persoalan. Seolah-olah pondoknya kurang dilirik dan dikenal oleh delegasi lain.

Meskipun, dalam tanda kutip, bahwa mereka yang aktif di forum-forum seperti itu juga tidak menjamin bahwa mereka alim. Tidak juga. Banyak juga yang aktif tapi referensi mereka tidak masuk, mengena dan tajam. Kadang Cuma guyonan, meramaikan dan lain sebagainya.

Perlu diakui memang, bahwa mencari ibarot itu sulit. Jadi ketika mereka mengutarakan hasil pencarian ibaroh itu, ya anggap saja menghargai meski tidak ngena-ngena betul. Heheuy.

Selain itu,  senangnya berbahtsu adalah ramah tamah. Supaya saling ramah dan tamah. Sampai ada guyonan seperti ini, “qoshdul a’dhom bahtsul masail adalah ramah tamah,” artinya, tujuan utama bahtsul masail adalah ramah tamah.

Biasanya, setiap tuan rumah akan ada ‘kompetisi otomatis’ untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi para delegasi bahtsul masail. Tapi jujur saja, bagi saya, makan terlalu banyak itu tidak enak juga. Bisa sakit perut dan ujung-ujungnya lemas, badan jadi berat untuk akitivitas bahkan bisa tidur ketika forum sedang panas-panasnya.

Mungkin begitu. ~

Paiton, 23 Januari 2022.


Posting Komentar

0 Komentar