Tidak semua orang bisa melakukan
itu semua. Terlepas dari keinginan dan kehendak manusia sendiri, ada tangan
Allah yang mengendalikan keadaan dan hati orang-orang yang hendak menulis.
Akan tetapi, dalam perjalanannya,
untuk konsisten menulis, post dan share sebuah tulisan tidak semudah yang dibayangkan.
Seperti barusan. Saya mendapat teguran telat akademik sedang saya tertangkap
basah berada di kantor media center. Memegang laptop yang sedang hidup dan
beberapa detik sebelumnya, saya pegang hp. Memang saat itu sedang proses
posting di instagram, karena saya kira proses postingnya cepat seperti
biasanya. Tapi entah mengapa, proses unggahnya lama. Sehingga hp saya lama
pegang dan kemudian saya serahkan ke Alpian.
Tapi begitulah. Tak semua keadaan
selalu berpihak pada kita. Saat itu ada Pak Irpan dan tereksekusilah diri ini.
(untuk proses eksekusi ini -skip saja)
Memang, seandainya saya di posisi
beliau, mungkin saya akan begitu. Karena posisi saya berada di sini, maka saya
akan terima konsekuensinya. Melanggar, tidak sesuai aturan ya dihukum.
Atau paling tidak ya dimarahi.
Tapi memang antara ke dua belah
pihak ini sama-sama mencari kemaslahatan. Cuma secara teknis ini yang
berbeda-beda. Sesuai dengan kondisi pelaku dan keadaan sekitar.
Anggap saja urusan ini selesai.
Hanya saja, saya ingin mengutarakan unek-unek soal pendidikan seseorang dan
bagaimana relasi ke dua belah pihak. Antara guru dan murid. Antara ustadz dan
santri. Antara mentor dan dimentori. Antara wali asuh dan anak asuh. Dan lain
sebagainya.
Bagi saya, hubungan antara ke dua
belah pihak adalah hubungan yang saling terkait. Hubungan yang saling
membutuhkan. Guru yang sukses ketika ada murid atau penerus yang lebih sukses
dari pada gurunya. Begitu pula dengan murid. Murid sangat butuh dengan gurunya.
Guru sebagai penunjuk. Sosok yang telah mengeyam pahit, getir, asam garam
kehidupan, tentunya lebih tahu, bagaimana dan seharusnya seorang murid atau
santri harus diarahkan ke mana.
Sayangnya, dari pemahaman dasar
dan awal ini, banyak sekali guru yang tidak merasa demikian. Inginnya
dibutuhkan, inginnya dilayani, inginnya selalu murid selalu benar dan
keidelan-idelan yang sangat teoritis sekali.
Saya beranggapan bahwa semua
manusia, termasuk murid, itu memiliki keistimewaan masing-masing. Tidak ada
manusia yang sia-sia. Tugas guru adalah menemukan potensi dan keistimewaan si
murid dan mengembangkannya menjadi sesuatu yang sangat istimewa.
Karena merupaka sebuah fakta yang
sangat jelas sekali, tidak semua kemampuan murid itu sama. Harus pintar semua.
Harus pandai semua. Harus disiplin semua. Saya kira begitu.
Jadi bila ada murid atau santri
melanggar, seharusnya hukuman yang diberikan adalah dalam rangka welas asih,
untuk memperbaiki keadaan si murid dan tentunya ada semacam motivasi untuk
semakin memperbaiki diri. Tidak ada orang yang ingin jadi jahat, buruk dan
terpinggirkan. Semua menginginkan kesetaraan dan keadilan. Seandainya ada orang
yang ingin menjadi jahat dan buruk, maka perlu diteliti lagi. Mengapa ia bisa
begitu ? apa faktor yang melatar belakanginya ?.
Bicara soal pendidikan yang kata
para ahli, orang dewasa dan perbincangan yang sering dengungkan bahwa
pendidikan adalah faktor utama perubahan dan kemajuan suatu bangsa. Maka bicara
persoalan ini adalah pembicaraan antara ke dua belah pihak. seharusnya dan
bagaimananya, mau menuju ke mana, dan apa yang hendak dicapai harus dalam
persepsi yang sama.
Saya sebenarnya tidak setuju bila
sistem pendidikan kita, mewajibkan para murid untuk menguasa banyak materi di
bangku pendidikan. Baik di sekolah maupun di kampus. Saat ini, yang mirip-mirip
ke arah sana adalah di Ma’had Aly Nurul Jadid.
Di akademik, yang katanya itu
adalah yang paling utama (setidaknya lebih utama dari pada takhossus), juga
mewajibkan para santri untuk belajar banyak mata kuliah itu. Sebagai murid,
jujur saja, sangat sulit untuk menguasai semua mata kuliah secara komprehensif.
Tentu.
Sebagai santri yang wajib duduk,
menyimak dan mengikuti akademik secara rutin dan jadwal, diwajibkan seperti itu
dengan ganti-ganti dosen serta tugas presentasi/menulis makalah dari
masing-masing mata kuliah. Padahal, bukankah semakin zaman berkembang, semakin
mengerucut pula keilmuan dan keahlian seseorang ?. semakin tinggi jenjang
pendidikan, maka semakin menspesialiasi pembentukan keilmuan seseorang.
Tapi apa boleh buat, seorang guru
juga manusia. Seorang ustadz juga pernah melakukan kesalahan. Seorang kiai
sekalipun, juga tidak selalu ideal. Dalam acara “muhasabah akhir tahun” yang
diisi oleh Ra Fayyadl dan Ust. Husein pada 1 Januari 2022 lalu, salah seorang peserta bertanya
kepada penyaji.
Yang intinya begini: bagaimana
menyikap seorang guru/ustadz yang mengajar tapi ia belum bisa sepenuh bisa
mengamalka apa yang ia ajarkan ?
Jawaban beliau, -seingat saya
ini- guru ideal itu sulit. Jadi ambil yang baik dan buang yang buruk dari guru
tersebut.
Terakhir, melampaui dari urusan pendidikan,
berikut teknis dan relasi antara ke dua belah pihak, saya hanya bisa bersyukur dengan
pendidikan yang saya terima saat ini. Bagaimanapun lika-likunya, pendidikan
saya sejauh ini di Ma’had Aly, jauh lebih baik dari orang tua hingga mbah-buyut
saya.
Bersyukur dengan cara menggunakan
kesempatan ini sebaik-baiknya. Semaksimal-maksimalnya. Bila ada salah, mohon ditegur
dan dibimbing. Karena tidak semua orang selalu dalam keadaan benar.
Baik. Mungkin itu saja. Terimakasih.
0 Komentar