Trending

6/recent/ticker-posts

Relasi Guru dan Murid: Idealitas dan Tawaran Pandangan



 Menyelesaikan satu tulisan merupakan anugerah dan kebahagian tersendiri bagi saya. Apalagi hingga posting. Apalagi hingga share. Dan, bahkan bisa bersyukur itu sendiri, itu merupakan anugerah tersendiri ddari-Nya.

Tidak semua orang bisa melakukan itu semua. Terlepas dari keinginan dan kehendak manusia sendiri, ada tangan Allah yang mengendalikan keadaan dan hati orang-orang yang hendak menulis.

Akan tetapi, dalam perjalanannya, untuk konsisten menulis, post dan share sebuah tulisan tidak semudah yang dibayangkan. Seperti barusan. Saya mendapat teguran telat akademik sedang saya tertangkap basah berada di kantor media center. Memegang laptop yang sedang hidup dan beberapa detik sebelumnya, saya pegang hp. Memang saat itu sedang proses posting di instagram, karena saya kira proses postingnya cepat seperti biasanya. Tapi entah mengapa, proses unggahnya lama. Sehingga hp saya lama pegang dan kemudian saya serahkan ke Alpian.

Tapi begitulah. Tak semua keadaan selalu berpihak pada kita. Saat itu ada Pak Irpan dan tereksekusilah diri ini.

(untuk proses eksekusi ini -skip saja)

Memang, seandainya saya di posisi beliau, mungkin saya akan begitu. Karena posisi saya berada di sini, maka saya akan terima konsekuensinya. Melanggar, tidak sesuai aturan ya dihukum. Atau paling tidak ya dimarahi.

Tapi memang antara ke dua belah pihak ini sama-sama mencari kemaslahatan. Cuma secara teknis ini yang berbeda-beda. Sesuai dengan kondisi pelaku dan keadaan sekitar.

Anggap saja urusan ini selesai. Hanya saja, saya ingin mengutarakan unek-unek soal pendidikan seseorang dan bagaimana relasi ke dua belah pihak. Antara guru dan murid. Antara ustadz dan santri. Antara mentor dan dimentori. Antara wali asuh dan anak asuh. Dan lain sebagainya.

Bagi saya, hubungan antara ke dua belah pihak adalah hubungan yang saling terkait. Hubungan yang saling membutuhkan. Guru yang sukses ketika ada murid atau penerus yang lebih sukses dari pada gurunya. Begitu pula dengan murid. Murid sangat butuh dengan gurunya. Guru sebagai penunjuk. Sosok yang telah mengeyam pahit, getir, asam garam kehidupan, tentunya lebih tahu, bagaimana dan seharusnya seorang murid atau santri harus diarahkan ke mana.

Sayangnya, dari pemahaman dasar dan awal ini, banyak sekali guru yang tidak merasa demikian. Inginnya dibutuhkan, inginnya dilayani, inginnya selalu murid selalu benar dan keidelan-idelan yang sangat teoritis sekali.

Saya beranggapan bahwa semua manusia, termasuk murid, itu memiliki keistimewaan masing-masing. Tidak ada manusia yang sia-sia. Tugas guru adalah menemukan potensi dan keistimewaan si murid dan mengembangkannya menjadi sesuatu yang sangat istimewa.

Karena merupaka sebuah fakta yang sangat jelas sekali, tidak semua kemampuan murid itu sama. Harus pintar semua. Harus pandai semua. Harus disiplin semua. Saya kira begitu.

Jadi bila ada murid atau santri melanggar, seharusnya hukuman yang diberikan adalah dalam rangka welas asih, untuk memperbaiki keadaan si murid dan tentunya ada semacam motivasi untuk semakin memperbaiki diri. Tidak ada orang yang ingin jadi jahat, buruk dan terpinggirkan. Semua menginginkan kesetaraan dan keadilan. Seandainya ada orang yang ingin menjadi jahat dan buruk, maka perlu diteliti lagi. Mengapa ia bisa begitu ? apa faktor yang melatar belakanginya ?.

Bicara soal pendidikan yang kata para ahli, orang dewasa dan perbincangan yang sering dengungkan bahwa pendidikan adalah faktor utama perubahan dan kemajuan suatu bangsa. Maka bicara persoalan ini adalah pembicaraan antara ke dua belah pihak. seharusnya dan bagaimananya, mau menuju ke mana, dan apa yang hendak dicapai harus dalam persepsi yang sama.

Saya sebenarnya tidak setuju bila sistem pendidikan kita, mewajibkan para murid untuk menguasa banyak materi di bangku pendidikan. Baik di sekolah maupun di kampus. Saat ini, yang mirip-mirip ke arah sana adalah di Ma’had Aly Nurul Jadid.

Di akademik, yang katanya itu adalah yang paling utama (setidaknya lebih utama dari pada takhossus), juga mewajibkan para santri untuk belajar banyak mata kuliah itu. Sebagai murid, jujur saja, sangat sulit untuk menguasai semua mata kuliah secara komprehensif. Tentu.

Sebagai santri yang wajib duduk, menyimak dan mengikuti akademik secara rutin dan jadwal, diwajibkan seperti itu dengan ganti-ganti dosen serta tugas presentasi/menulis makalah dari masing-masing mata kuliah. Padahal, bukankah semakin zaman berkembang, semakin mengerucut pula keilmuan dan keahlian seseorang ?. semakin tinggi jenjang pendidikan, maka semakin menspesialiasi pembentukan keilmuan seseorang.

Tapi apa boleh buat, seorang guru juga manusia. Seorang ustadz juga pernah melakukan kesalahan. Seorang kiai sekalipun, juga tidak selalu ideal. Dalam acara “muhasabah akhir tahun” yang diisi oleh Ra Fayyadl dan Ust. Husein pada 1 Januari 2022 lalu, salah seorang peserta bertanya kepada penyaji.

Yang intinya begini: bagaimana menyikap seorang guru/ustadz yang mengajar tapi ia belum bisa sepenuh bisa mengamalka apa yang ia ajarkan ?

Jawaban beliau, -seingat saya ini- guru ideal itu sulit. Jadi ambil yang baik dan buang yang buruk dari guru tersebut.

Terakhir, melampaui dari urusan pendidikan, berikut teknis dan relasi antara ke dua belah pihak, saya hanya bisa bersyukur dengan pendidikan yang saya terima saat ini. Bagaimanapun lika-likunya, pendidikan saya sejauh ini di Ma’had Aly, jauh lebih baik dari orang tua hingga mbah-buyut saya.

Bersyukur dengan cara menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Semaksimal-maksimalnya. Bila ada salah, mohon ditegur dan dibimbing. Karena tidak semua orang selalu dalam keadaan benar.

Baik. Mungkin itu saja. Terimakasih. 

Posting Komentar

0 Komentar