Trending

6/recent/ticker-posts

Berkenalan Dengan Anggota Multimedia Assunniyyah




Acap kali hendak menulis, saya sering bertanya-tanya, “mau nulis apa yang bagus ya ? lha wong, tulisan saya gak bagus-bagus amat”. Tapi alhamdulillah bila kemudian ingat bahwa asal-usul keinginan menulis adalah berbagi cerita.

Gus Fayyadl, Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid, sebagaimana telah saya ceritakan sebelum-sebelumnya itu sangat menyarankan untuk menulis di blog ketimbang bermain media sosial lain. Beliau sangat mewanti-wanti supaya tidak melwatkan hari-hari dari menulis diary. Karena ini niatnya nulis diary, jadi tidak ideal-ideal bangetlah.

Masih berada di As-Sunniyah, tadi malem ketika memasuki ruanngan, saya berkenalan dengan salah satu anggota multimedia pesantren ini. Rofi namanya. Ia berasal dari daerah Panti, Jember. Dia juga yang menjadi admin akun instagram @assunniyahofficial.

Ketika memasuki ruangan dan kebetulan kami kebagian meja di depan, Rofi ini langsung melihat nama plakat “Ma’had Aly Nurul Jadid” dengan senyum-senyum. Disampingnya ada notulen yang wajahnya tidak asing bagi saya. Saya kemudian coba mengkonfirmasi,

“mas, itu namanya Kang Maksum ya ?”

“Ya” jawabnya.

“Oh itu kakak kelas saya di Darussholah.”

Sambil mengangguk-angguk, Rofi juga menimpali pertanyaan, “saya punya kenalan di Nurul Jadid, namanya Mas Faqih. Multimedia. Kenal ?”

“Kenal. Saya juga multimedia di Ma’had Aly Nurul Jadid. Jadi kenal ke Mas Faqih.”

“Samean adminnya Ma’had Aly Nurul Jadid ?”

“Enggeh. Saya adminnya.”

“Saya juga adminnya Assuniyah Kencong.”

Jadilah kami saling kenal. Saya yang tadi follow akun Assunniyah, tiba-tiba mendapat notifikasi dan pesan dari pesantren ini, “Assalamualaikum kang saya sudah follow back,”

“Waalaikumussalam. Siap kang.”

“Nanti kalau pas waktu break jangan lupa mampir ke studio kami nggih,”

“Siap kang,”

Waktu berlanjut. Kami meneruskan musyawarah. Hingga sekitar pukul dua belas lebih malam dini hari, musyawarah usai. Saya lagi ngantuk dan lemas-lemasnya karena banyak makan, akhirnya DM akun instagram Assuniyah untuk mengajak kumpul ke studio.

Tanpa melihat balasan dari akun itu, tiba-tiba kami kedatangan Rofi. Entah bagaimana ia kok bisa tahu ruang istirahat kami. Akhirnya kami diajak ke studi yang terletak di lantai tiga gedung madrasah. Sesaat setelah sholat isya, kami pun pergi kesana.

Kami ngobral sana-sini soal perkembangan media secara singkat antara Nurul Jadid dan Assunniyah. Yang membuat saya takjub adalah Rofi ini masih berusia 18 tahun. Ia sudah menjadi admin di pondok pesantren seperti Assunniyah.

Perlu diingat, Assunniyah ini beridiri tahun 1942. Jadi secara de facto, pesantren ini lebih tua dari Pesantren Nurul Jadid. Akan tetapi, dalam perkembangannya, Nurul Jadid diakui olehnya lebih maju daripada Assunniyah. Entah apa yang menjadi alasan Rofi mengatakan seperti itu.

Meski usia saya lebih berumur 3 tahun, tapi secara kualitas ilmu media, ia lebih berpengalaman. Bila dikira-kira, ia sekarang masih kelas dua SMA, tapi sudah memegang tanggung jawab sebesar ini.

Ia bilang, bahwa di Assunniyah, bila setelah kelas ‘Imrithy, biasanya akan menyebar (aktif) dimana-mana. Seperti di dapur, dhalem, multimedia dan lain sebagainya. Oleh salah satu pengurus, ia diajak masuk anggota multimedia. Dengan berbekal izin orang tua, niat ingin memajukan pondok dan keingin tahuan, akhirnya ia masuk organisasi ini. Ia bercerita, selain memiliki kewajiban di multimedia, ia juga punya kewajiban lalaran, hafalan, setoran dan kewajiban-kewajiban lain ala santrian.

Semacam curhatlah. Ungkapan yang tidak asing bagi saya. Saya sering ‘mengeluh’ seperti ini. Sepertinya, problem memenejemen waktu untuk menyelesaikan tugas media dan kewajiban primer (ala santri) itu seperti yang terjadi pada saya juga terjadi pada Rofi. Mungkin bisa jadi beberapa pondok besar juga terjadi kasus yang mirip-mirip seperti ini.

Hmmhh.. rasanya tak elok untuk mengeluh lagi. Musuh terbesar bukan keadaan dan lingkungan yang ada, akan tetapi diri sendiri. Melihat fenomena di masyarakat, bagaimana susah payah orang-orang mencari kehidupan, rasanya sulit sekali mereka berjuang. Sedih mereka melihat kesusahan dalam hidup.

Sangat susah-payah, banting tulang dan peluh keringat diperas betul. Tapi selalu saja, orang-orang yang bermental kuat tidak pernah menyerah. Saya sangat salut dan apresiasi sekali bagi orang-orang yang terus berjuang. Termasuk Rofi ini.

Sepertinya, semua orang punya kesulitan masing-masing. Meskipun kita liihat hidup orang tertentu itu enak, aman dan damai-damai saja, tapi secara aslinya tidak sepenuhnya begitu. Hidup itu adil, tinggal bagaimana kita bisa memaksimalkan dan mendayagukan apa yang kita bisa dan mampui.

Assuniyah, 20 Januari 2022.


Posting Komentar

0 Komentar