Acap kali hendak menulis, saya sering bertanya-tanya, “mau nulis apa yang
bagus ya ? lha wong, tulisan saya gak bagus-bagus amat”. Tapi
alhamdulillah bila kemudian ingat bahwa asal-usul keinginan menulis adalah
berbagi cerita.
Gus Fayyadl, Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid, sebagaimana telah saya ceritakan
sebelum-sebelumnya itu sangat menyarankan untuk menulis di blog ketimbang
bermain media sosial lain. Beliau sangat mewanti-wanti supaya tidak melwatkan
hari-hari dari menulis diary. Karena ini niatnya nulis diary, jadi tidak
ideal-ideal bangetlah.
Masih berada di As-Sunniyah, tadi malem ketika memasuki ruanngan, saya
berkenalan dengan salah satu anggota multimedia pesantren ini. Rofi namanya. Ia
berasal dari daerah Panti, Jember. Dia juga yang menjadi admin akun instagram
@assunniyahofficial.
Ketika memasuki ruangan dan kebetulan kami kebagian meja di depan, Rofi ini
langsung melihat nama plakat “Ma’had Aly Nurul Jadid” dengan senyum-senyum. Disampingnya
ada notulen yang wajahnya tidak asing bagi saya. Saya kemudian coba
mengkonfirmasi,
“mas, itu namanya Kang Maksum ya ?”
“Ya” jawabnya.
“Oh itu kakak kelas saya di Darussholah.”
Sambil mengangguk-angguk, Rofi juga menimpali pertanyaan, “saya punya
kenalan di Nurul Jadid, namanya Mas Faqih. Multimedia. Kenal ?”
“Kenal. Saya juga multimedia di Ma’had Aly Nurul Jadid. Jadi kenal ke Mas
Faqih.”
“Samean adminnya Ma’had Aly Nurul Jadid ?”
“Enggeh. Saya adminnya.”
“Saya juga adminnya Assuniyah Kencong.”
Jadilah kami saling kenal. Saya yang tadi follow akun Assunniyah, tiba-tiba
mendapat notifikasi dan pesan dari pesantren ini, “Assalamualaikum kang saya
sudah follow back,”
“Waalaikumussalam. Siap kang.”
“Nanti kalau pas waktu break jangan lupa mampir ke studio kami nggih,”
“Siap kang,”
Waktu berlanjut. Kami meneruskan musyawarah. Hingga sekitar pukul dua belas
lebih malam dini hari, musyawarah usai. Saya lagi ngantuk dan lemas-lemasnya
karena banyak makan, akhirnya DM akun instagram Assuniyah untuk mengajak kumpul
ke studio.
Tanpa melihat balasan dari akun itu, tiba-tiba kami kedatangan Rofi. Entah
bagaimana ia kok bisa tahu ruang istirahat kami. Akhirnya kami diajak ke studi
yang terletak di lantai tiga gedung madrasah. Sesaat setelah sholat isya, kami
pun pergi kesana.
Kami ngobral sana-sini soal perkembangan media secara singkat antara Nurul
Jadid dan Assunniyah. Yang membuat saya takjub adalah Rofi ini masih berusia 18
tahun. Ia sudah menjadi admin di pondok pesantren seperti Assunniyah.
Perlu diingat, Assunniyah ini beridiri tahun 1942. Jadi secara de facto,
pesantren ini lebih tua dari Pesantren Nurul Jadid. Akan tetapi, dalam
perkembangannya, Nurul Jadid diakui olehnya lebih maju daripada Assunniyah.
Entah apa yang menjadi alasan Rofi mengatakan seperti itu.
Meski usia saya lebih berumur 3 tahun, tapi secara kualitas ilmu media, ia lebih
berpengalaman. Bila dikira-kira, ia sekarang masih kelas dua SMA, tapi sudah memegang
tanggung jawab sebesar ini.
Ia bilang, bahwa di Assunniyah, bila setelah kelas ‘Imrithy, biasanya akan
menyebar (aktif) dimana-mana. Seperti di dapur, dhalem, multimedia dan lain
sebagainya. Oleh salah satu pengurus, ia diajak masuk anggota multimedia. Dengan
berbekal izin orang tua, niat ingin memajukan pondok dan keingin tahuan,
akhirnya ia masuk organisasi ini. Ia bercerita, selain memiliki kewajiban di
multimedia, ia juga punya kewajiban lalaran, hafalan, setoran dan kewajiban-kewajiban
lain ala santrian.
Semacam curhatlah. Ungkapan yang tidak asing bagi saya. Saya sering ‘mengeluh’
seperti ini. Sepertinya, problem memenejemen waktu untuk menyelesaikan tugas media
dan kewajiban primer (ala santri) itu seperti yang terjadi pada saya juga
terjadi pada Rofi. Mungkin bisa jadi beberapa pondok besar juga terjadi kasus
yang mirip-mirip seperti ini.
Hmmhh.. rasanya tak elok untuk mengeluh lagi. Musuh terbesar bukan keadaan
dan lingkungan yang ada, akan tetapi diri sendiri. Melihat fenomena di
masyarakat, bagaimana susah payah orang-orang mencari kehidupan, rasanya sulit
sekali mereka berjuang. Sedih mereka melihat kesusahan dalam hidup.
Sangat susah-payah, banting tulang dan peluh keringat diperas betul. Tapi selalu
saja, orang-orang yang bermental kuat tidak pernah menyerah. Saya sangat salut
dan apresiasi sekali bagi orang-orang yang terus berjuang. Termasuk Rofi ini.
Sepertinya, semua orang punya kesulitan masing-masing. Meskipun kita liihat
hidup orang tertentu itu enak, aman dan damai-damai saja, tapi secara aslinya
tidak sepenuhnya begitu. Hidup itu adil, tinggal bagaimana kita bisa memaksimalkan
dan mendayagukan apa yang kita bisa dan mampui.
Assuniyah, 20 Januari 2022.
0 Komentar