Dua hari yang lalu, 03 Januari 2022, saya bertemu dengan seorang kawan
lama, yakni Afrian Ulu Millah. Kami kenal ketika dulu duduk di bangku aliyah,
tepatnya di asrama Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAK) yang kini berubah
menjadi Madrasah Aliyah Peminatan Keagamaan (MAPK).
Saya bertemu dengannya kebetulan saat ngaji pagi di musholla timur.
Pengajian kitab mauizhotul mukminin karya Syekh Jamaluddin. Selanjutnya,
saya langsung ke asrama. Menitipkan kitab pengajian itu ke temen lalu kembali
ke wilayah ketika jam delapan lebih. Saya telat beberapa saat pada
kegiatan KBM rutin berupa takhossus ushul fiqih saat itu.
Tak terasa, dua tahun berlalu semenjak kelulusan di MAPK. Kami sudah
menempuh jalur pendidikan di lingkungan yang berbeda. Setiap ngumpul dan kongkow
bareng seperti ini, saya jadi teringat ketika masih sekolah MANJ dulu. Dulu
masih sama-sama berproses dan kini keadaan sudah berubah. Ini masih dua hingga
tahun. Lalu, bagaimana dengan lima, sepuluh hingga lima belas tahun ke depan ?
dengan dinamika yang ada, berproses sesuai keadaan yang dihadapi, peluang dan
tantangan, perubahan apa yang akan kami hadapi ? saya akan jadi apa ? dan,
teman-teman akan jadi apa ?
Pertanyaan ‘nanti akan menjadi apa ?’ seringkali muncul dan mengusik di
dalam pikiran. Karena masa depan ada karena hal-hal kecil dan biasa kita
lakukan saat ini. Saya jadi merefresh rutinitas, pikiran dan kegiatan saya
sehari-hari. Kebiasaan apa yang harus dan semestinya saya bangun ?
Tulisan ini setidaknya akan menjadi oret-oretan bagaimana saya membangun
habits (kebiasaan). Upaya membangun habits yang baik ini bukan sekali-dua kali
saya coba dan buat rancang bangun. Tapi seringkali tidak tercapai dan akhirnya
buyar lagi.
Dalam salah satu video edukasi, saya kemudian tidak sengaja menonton video
yang membahas resolusi 2022. Memang akhir tahun dan awal tahun yang menarik
membahas resolusi atau azam dan perubahan yang akan kita buat pada hari-hari
selanjutnya. Karena hitungannya mudah. Dari tanggal 1 bulan satu tahun ini
(2022). Seandainya kita bertumbuh 1 % setiap hari, bayangkan kita sudah
membuat perubahan dalam pola hidup kita sebanyak 365 kali ?
Semisal bila menulis di blog, maka dalam setahun (bila istiqomah tentunya),
setidaknya kita menghasilkan 365 tulisan. Hal ini bisa diterapkan dengan
perubahan-perubahan yang kita canangkan di awal tahun ini.
Pada video tersebut, disebutkan bahwa orang yang membuat resolusi dan
rancangan-rancangan di awal tahun biasanya menargetkan akan memiliki apa atau berubah
seperti apa. Semisal ingin rajin, bangun pagi dll. Itu target yang tidak
spesifik dan belum jelas. Rajin itu deskripsinya seperti apa ? bangun pagi itu
jam berapa ? jam 7, 6, atau shubuh ?. itu semua relatif dan perlu untuk diperjelas.
Selain itu, orang yang membuat resolusi di awal tahun biasanya ingin
membuat target capaian yang ‘menjadi apa’ bukan membangun ‘kebiasaan apa’.
Semisal di 2022, saya ingin jadi desainer, penulis dll. Nah, menurut penelitian
yang diterangkan di video tersebut, sebagian orang yang memiliki target seperti
itu tidak bertahan lama. Seringkali gagal. Perubahan yang baik hendaknya dengan
melakukan perubahan ‘identity’ atau identitas kita dikenal sebagai apa melalui
kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan setiap hari.
Semisal kita ingin jadi penulis, maka goal ‘identity’ tahun 2022 bukan jadi
penulis, tapi ingin menulis satu lembar tiap hari misalnya. Jadi tujuannya
lebih pada proses kita. Dari hal-hal kecil yang kita biasakan, ulang-ulang dan
lakukan setiap hari.
Sekarang sudah tanggal 05 Januari 2022. Beberapa menit lagi sudah berganti
hari. Padahal saya nulis ini dari pagi dan berharap akan selesai pada pagi hari
pula. Tapi kenyataan seringkali begitu. Akhirnya baru malam hari ini akan
selesai tulisan ini. Tentunya jauh dari kata ideal. Sekadar catatan diary saya
mondok di Ma’had Aly. Saya post di blog. Sesimpel itu. Tapi impian untuk
menulis setiap hari kemudian hidup lagi. Semoga terus menyala sampai akhir
hayat nanti.
Lalu, bagaimana bila impian ini tidak tercapai ?. padahal dalam sehari kita
sudah merancang akan melaksanakan ini-itu. Semisal membaca buku, kitab, menulis
dan belajar desain. tapi tiba-tiba tergesar dengan tugas yang lebih penting dan
mendesak. Bagaimana ?
Ini realita. Saya alami juga. Pertanyaan seperti ini ternyata muncul oleh
mulut teman saya pada acara muhasabah awal tahun lalu. Jawaban Gus Fayyadl, seingatnya
saya itu ada dua.
Pertama, pandai-pandailah menyiasati. Setidaknya jawaban ini membuat kita menjadi muslim yang tidak gampang menyerah dan pasrah-an. Apa-apa dialibi dengan takdir. Tidak seperti itu tentunya. Bila kita memiliki impian, tidak ada ruang untuk malas-malasan. Berusaha sekuat dan sebisa mungkin, bila kemudia realita tidak sesuai harapa, apa boleh buat ?.
Kita manusia. Biasalah bila sering tidak berdaya dihapadan kenyataan. Manusia itu lemah. Lemah Sekali. Yang bisa kita usahakan harus kita usahakan. Meski pada dasarnya kita berusaha, bisa melakukan usaha itu adalah karunia dan nikmat-Nya.
Kedua, adalah dengan meng-qodho’ (mengganti). Dalam Islam ada keringanan. bila
seorang muslim tidak mampu melaksanakan kewajiban pada saat itu juga, kita
diwajibkan untuk mengqodho’-nya di lain waktu.
Saat ini sudah tanggal lima. Saya menulis di blog mulai tanggal 4. Jadi total
seharusnya saya menulis 4 tulisan hari ini. Satu tulisan kewajiban untuk hari
ini (tanggal 5), tiga tulisannya adalah bentuk mengqodho dari tanggal 1-3. Tapi
mau meng-qodho saja, yang wajib itu masih keteteran. Welhahh..
welhahh..
Baiklah. Ini setidaknya tulisan saya hari ini. Tulisan qodho’nya, saya akan
bercerita unek-unek santai pada hari lainnya. See you..
Paiton, 05 Januari 2022.
0 Komentar