Trending

6/recent/ticker-posts

Resolusi Terus, Kalau Gagal, Terus Gimana ?

 


Dua hari yang lalu, 03 Januari 2022, saya bertemu dengan seorang kawan lama, yakni Afrian Ulu Millah. Kami kenal ketika dulu duduk di bangku aliyah, tepatnya di asrama Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAK) yang kini berubah menjadi Madrasah Aliyah Peminatan Keagamaan (MAPK).

Saya bertemu dengannya kebetulan saat ngaji pagi di musholla timur. Pengajian kitab mauizhotul mukminin karya Syekh Jamaluddin. Selanjutnya, saya langsung ke asrama. Menitipkan kitab pengajian itu ke temen lalu kembali ke wilayah ketika jam delapan lebih. Saya telat beberapa saat pada kegiatan KBM rutin berupa takhossus ushul fiqih saat itu.

Tak terasa, dua tahun berlalu semenjak kelulusan di MAPK. Kami sudah menempuh jalur pendidikan di lingkungan yang berbeda. Setiap ngumpul dan kongkow bareng seperti ini, saya jadi teringat ketika masih sekolah MANJ dulu. Dulu masih sama-sama berproses dan kini keadaan sudah berubah. Ini masih dua hingga tahun. Lalu, bagaimana dengan lima, sepuluh hingga lima belas tahun ke depan ? dengan dinamika yang ada, berproses sesuai keadaan yang dihadapi, peluang dan tantangan, perubahan apa yang akan kami hadapi ? saya akan jadi apa ? dan, teman-teman akan jadi apa ?

Pertanyaan ‘nanti akan menjadi apa ?’ seringkali muncul dan mengusik di dalam pikiran. Karena masa depan ada karena hal-hal kecil dan biasa kita lakukan saat ini. Saya jadi merefresh rutinitas, pikiran dan kegiatan saya sehari-hari. Kebiasaan apa yang harus dan semestinya saya bangun ?

Tulisan ini setidaknya akan menjadi oret-oretan bagaimana saya membangun habits (kebiasaan). Upaya membangun habits yang baik ini bukan sekali-dua kali saya coba dan buat rancang bangun. Tapi seringkali tidak tercapai dan akhirnya buyar lagi.

Dalam salah satu video edukasi, saya kemudian tidak sengaja menonton video yang membahas resolusi 2022. Memang akhir tahun dan awal tahun yang menarik membahas resolusi atau azam dan perubahan yang akan kita buat pada hari-hari selanjutnya. Karena hitungannya mudah. Dari tanggal 1 bulan satu tahun ini (2022). Seandainya kita bertumbuh 1 % setiap hari, bayangkan kita sudah membuat perubahan dalam pola hidup kita sebanyak 365 kali ?

Semisal bila menulis di blog, maka dalam setahun (bila istiqomah tentunya), setidaknya kita menghasilkan 365 tulisan. Hal ini bisa diterapkan dengan perubahan-perubahan yang kita canangkan di awal tahun ini.

Pada video tersebut, disebutkan bahwa orang yang membuat resolusi dan rancangan-rancangan di awal tahun biasanya menargetkan akan memiliki apa atau berubah seperti apa. Semisal ingin rajin, bangun pagi dll. Itu target yang tidak spesifik dan belum jelas. Rajin itu deskripsinya seperti apa ? bangun pagi itu jam berapa ? jam 7, 6, atau shubuh ?. itu semua relatif dan perlu untuk diperjelas.

Selain itu, orang yang membuat resolusi di awal tahun biasanya ingin membuat target capaian yang ‘menjadi apa’ bukan membangun ‘kebiasaan apa’. Semisal di 2022, saya ingin jadi desainer, penulis dll. Nah, menurut penelitian yang diterangkan di video tersebut, sebagian orang yang memiliki target seperti itu tidak bertahan lama. Seringkali gagal. Perubahan yang baik hendaknya dengan melakukan perubahan ‘identity’ atau identitas kita dikenal sebagai apa melalui kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan setiap hari.

Semisal kita ingin jadi penulis, maka goal ‘identity’ tahun 2022 bukan jadi penulis, tapi ingin menulis satu lembar tiap hari misalnya. Jadi tujuannya lebih pada proses kita. Dari hal-hal kecil yang kita biasakan, ulang-ulang dan lakukan setiap hari.

Sekarang sudah tanggal 05 Januari 2022. Beberapa menit lagi sudah berganti hari. Padahal saya nulis ini dari pagi dan berharap akan selesai pada pagi hari pula. Tapi kenyataan seringkali begitu. Akhirnya baru malam hari ini akan selesai tulisan ini. Tentunya jauh dari kata ideal. Sekadar catatan diary saya mondok di Ma’had Aly. Saya post di blog. Sesimpel itu. Tapi impian untuk menulis setiap hari kemudian hidup lagi. Semoga terus menyala sampai akhir hayat nanti.

Lalu, bagaimana bila impian ini tidak tercapai ?. padahal dalam sehari kita sudah merancang akan melaksanakan ini-itu. Semisal membaca buku, kitab, menulis dan belajar desain. tapi tiba-tiba tergesar dengan tugas yang lebih penting dan mendesak. Bagaimana ?

Ini realita. Saya alami juga. Pertanyaan seperti ini ternyata muncul oleh mulut teman saya pada acara muhasabah awal tahun lalu. Jawaban Gus Fayyadl, seingatnya saya itu ada dua.

Pertama, pandai-pandailah menyiasati. Setidaknya jawaban ini membuat kita menjadi muslim yang tidak gampang menyerah dan pasrah-an. Apa-apa dialibi dengan takdir. Tidak seperti itu tentunya. Bila kita memiliki impian, tidak ada ruang untuk malas-malasan. Berusaha sekuat dan sebisa mungkin, bila kemudia realita tidak sesuai harapa, apa boleh buat ?. 

Kita manusia. Biasalah bila sering tidak berdaya dihapadan kenyataan. Manusia itu lemah. Lemah Sekali. Yang bisa kita usahakan harus kita usahakan. Meski pada dasarnya kita berusaha, bisa melakukan usaha itu adalah karunia dan nikmat-Nya.

Kedua, adalah dengan meng-qodho’ (mengganti). Dalam Islam ada keringanan. bila seorang muslim tidak mampu melaksanakan kewajiban pada saat itu juga, kita diwajibkan untuk mengqodho’-nya di lain waktu.

Saat ini sudah tanggal lima. Saya menulis di blog mulai tanggal 4. Jadi total seharusnya saya menulis 4 tulisan hari ini. Satu tulisan kewajiban untuk hari ini (tanggal 5), tiga tulisannya adalah bentuk mengqodho dari tanggal 1-3. Tapi mau meng-qodho saja, yang wajib itu masih keteteran. Welhahh.. welhahh..

Baiklah. Ini setidaknya tulisan saya hari ini. Tulisan qodho’nya, saya akan bercerita unek-unek santai pada hari lainnya. See you..

Paiton, 05 Januari 2022.

 

 

Posting Komentar

0 Komentar