Trending

6/recent/ticker-posts

Festival Turats ke 3 Tahun 2022, Mungkinkah ?

 

 

Kemarin, saya mendapat pesan untuk menelfon ibu. Ketika menelfon, ibu bercerita bahwa ‘resolusi’nya pada tahun 2022 adalah membaca sholawat sebanyak 4444 kali setiap hari. Karena tuntutan kondisi dan keadaan, ibu yang menjabat sebagai kepala rumah tangga seperti biasa pada awal bulan memikirkan kiriman anak-anaknya, yakni saya sendiri dan seorang adik kandung.

Kami berdua sama-sama mondok di Nurul Jadid. Selain kiriman, juga ada biaya pendidikan yang perlu dibayarkan. Tapi entah secara tiba-tiba, ibu mendapat pesan cek tagihan Biaya Pendidikan Santri (BPS) yang menyatakan bahwa tagihan triwulan 1 adik saya itu lunas. Ibu terharu. Ibu menyangkan bahwa ini mungkin sebab dari kemuliaan shalawat.

Mendengar cerita ini, keinginan membaca sholawat seperti mendapat siraman qolbu. Hati rasanya adem ketika melihat orang lain bahagia, apalagi itu adalah ibu sendiri dan plus ditambah disebabkan ‘keberkahan’ shalawat.

Itu adalah info pertama. Info yang ke dua adalah bahwa ibu mendapat surat untuk segera vaksin. Jadi penduduk desa yang belum vaksin, mereka mendapat surat untuk segera vaksin. Akhirnya ibu vaksin dan sekarang tangan beliau sedang nyeri efek dari vaksin. Wah, ini info terbaru. Saya yang selama ini ingin vaksin juga mengurungkan diri karena dilarang oleh ibu. Ternyata ibu sekarang sudah vaksin, berarti secara tidak langsung saya juga boleh vaksin juga. Vaksin pertama tentunya, disaat teman-teman lain sudah completed vaksin dua dengan segala kartu-kartunya.

Telfon itu berlangsung setelah pengajian sore pengasuh. Waktu terus berlalu. Hadiran maghrib, kamar saya kebagian piket akhirnya turun dan ke kamar. Saya sholat isya’ di kamar karena ada beberapa tempat yang cukup lama dibersihkan. Saya cek di wa yang tersambung di laptop. Konfirmasi terkait rapat festival turats. Kerjasama, koordinasi dan sinergi antara pesantren dan Ma’had Aly Nurul Jadid.

Di jadwalnya, seharusnya rapat berlangsung di kantor pesantren lantai 2 ruangan humas dan protokuler (humpro). Saya tanyakan lagi, ternyata rapat akan dilangsung beberapa menit lagi. Saya menyengaja datang terlambat. Saya kembali ke bawah untuk meneruskan aktivitas saya, yakni mengetik. Hingga saya kemudian chat di grup bahwa kami akan berangkat. “OTW”. Saya hubungi teman-teman disini, diantaranya Syamsi selaku presiden juga Lutfillah karena memang hanya dia anggota BEMs yang ada di kamar saat itu. Sedang Sairofi entah ke mana.

Ternyata respon teman-teman berbeda dari harapan. Mereka menolak untuk rapat di pesantren. Alasannya karena Mudir ‘dhukah (marah, red) terkait acara festival turats ini. Entah marah kenapa, yang tahu katanya adalah pembina, yakni Ust. Taufiq. Saya kemudian chat Ust. Taufiq, tak ada pesan yang mengarah untuk menghentikan rapat, tunggu dulu dan terburu-buru koordinasi dengan pusat.

Tapi teman-teman masih memaksa untuk tidak hadir. Akhirnya memberi konfirmasi dengan memberikan alibi di grup koordiniasi bahwa, “Mohon Maaf, pembina kami masih belum ada. Jadi rapatnya mungkin ditunda.”

Saya tidak enak sebenarnya ini. Akhirnya saya meneruskan untuk mengetik. Lalu setelah beberapa saat, saya kembali ke atas. Teman-teman ternyata tidak ada sama sekali. Kata Musdir (ustadz, red), “sudah akademiknya fin ?” tanyanya dengan bahasa Madura.

“Belum tadz,” saya menjawab sekenanya.

Padahal baru tahu kalau akademik masuk. Jujur saja, sebelumnya saya sudah cek sekitar pukul 20.00 Wib lebih, tidak ada tanda-tanda akan masuk. Ternyata, teman-teman yang lain sudah di kantor di Ma’had Aly. Akhirnya aku masuk terlambat. Tadi malam kelas sedang memasuki sesi pertanyaan. Diskusi membahas soal pengangguran di Indonesia. Terkait pengangguran ini, saya ingin mengulasnya pada tulisan selanjutnya.

Pukul 22.00 WIB tiba. Kelas bubar. Dan, saya langsung menuju ke kantor media center. Kata Aan, HP Media Center ada telfon. Ternyata Ust. Lathip Pesantren. Ketua 1 Bulan Lomba Harlah, yang membawahi lomba-lomba eksternal dalam rangkaian acara haul dan harlah ini. Mereka ada sosialisasi. Saya tetap beralasan bahwa kami tidak bisa hadir karena mau rapat lagi untuk persiapan yang lebih matang. Dengan halus, Ust. Lathip tetap memaksa bahwa sosialisasi ini bisa jadi rapat BEMs Mahad Aly.

“baiklah, saya mengiyakan.”

Tapi untuk berangkat ke pesantren dan ikut rapat tak semudah itu. Saya harus meyakinkan Lutfi dan Syamsi bahwa ini adalah legal dan baik. Mereka tetap bersikukuh tidak mau hadir karena alasan tadi itu, “Ra Fayyadl dhukah”. Padahal, secara informasi yang saya terima dari Mas Syukron, koordinasi panitia dari pusat dengan di Mahad Aly sudah disetujui oleh Mudir. Mereka sama-sama matur ke dhalem Gus Fayyadl.

Akhirnya suasana agak memanas. Dengan senyum yang dipaksaan dan nafas yang berhembus panjang, “kamu yang membatalkan ya. soalnya Ust. Lathip nelfon dan bla.. bla.. bla.. aku juga sudah hubungi Ust. Taufiq dan jawabannya sebentar lagi.” Jawabku dengan menggunakan bahasa Madura.

Mereka masih bersikukuh. Saya tetap memaksa. Keadaan semakin tidak nyaman. Amir yang ada pada saat itu hanya diam. Juga Syamsi. Akhirnya Lutfi mau mencari Ust. Taufiq untuk mengklarifikasi dan meminta solusi, kita mau berangkat atau tidak ?

Sebetulnya, kami sama-sama sepakat demi kemajuan BEMs, tapi tidak dengan caranya.

Setelah mencari Ust. Taufiq, ternyata tidak ada. Kami ke Media Center, karena HP Media Center tidak memiliki paketan data, akhirnya kami harus numpang hotspot dulu. Ternyata entah kenapa, ada kendala internal. Akhirnya waktu semakin lama pula. Saya dan Lutfi sesekali bercanda untuk mencairkan suasana.

Akhirnya, kabel line internet disambungkan ke laptop saya. Lalu melalui telegram, kami menelfon Ust. Taufiq dan keputusan sepenuhnya diambil bapak pembina. Ia ke kantor media center. Lutfi keluar dan saya masih sibuk mengotak-atik laptop yang terkoneksi dengan internet ini. Ternyata apa ? Pak Pembina memutuskan untuk berangkat ke pusat.

Berangkatlah saya, Lutfi, Syamsi dan Ust. Taufiq sekitar pukul 22.30 WIB itu ke lantai 2 ruang Biro Lajnah Ta’lif wa Nasyr (LTN). Mereka sudah memulai rapat. Ada panitia dari pesantren, LPBA juga PPIQ. Karena pada tahun ini, lomba eksternal akan diwakili oleh tiga lembaga ini untuk mengadakan lomba-lomba.

Rapat malam itu, menghasilkan beberapa keputusan. Diantaranya sebagai berikut :

Waktu pendaftaran         : 13 Januari – 13 Februari             

Pengumpulan Video       : Terakhir tanggal 14 - 15 Februari 2022

Penjurian                            : 15 – 17 Februari 2022

Festival Akbar

Ø  Bahasa XXXIII

Ø  Qur’an

Ø  Turots III

Ø  Banjari

Video yang yang dikirimkan merupakan karya orisinil dan belum pernah diikutsertakan dalam perlombaan lain. Di dalam video wajib menyertakan Background, logo  Pesantren & HARLAH Nurul Jadid.

Jadi, lomba-lomba yang diadakan oleh wilayah atau lembaga di Nurul Jadid, akan berada dibawah naungan pesantren. Hanya saja panitia dan teknis diserahkan pada masing-masing lembaga, sedangkan dananya akan dianggarkan oleh pihak panitia lomba eksternal Harlah ke 73 ini.

Festival Turats ke 3 tahun 2022, mungkinkah ?

Jawabannya, mungkin saja. Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi langkah ke depan semakin mantap untuk mengadakan festival turats, tapi bukan mustahl pula acara ini dibatalkan. Baiklah, mari berdoa, berharap-harap cemas semoga kenyataan merupakan konsekuensi terbaik dari ikhtiar terbaik pula dari kita semua.

Terima kasih.

 

Paiton, 06 Januari 2022.

 

Posting Komentar

0 Komentar