Kemarin, saya
mendapat pesan untuk menelfon ibu. Ketika menelfon, ibu bercerita bahwa
‘resolusi’nya pada tahun 2022 adalah membaca sholawat sebanyak 4444 kali setiap
hari. Karena tuntutan kondisi dan keadaan, ibu yang menjabat sebagai kepala
rumah tangga seperti biasa pada awal bulan memikirkan kiriman anak-anaknya,
yakni saya sendiri dan seorang adik kandung.
Kami berdua
sama-sama mondok di Nurul Jadid. Selain kiriman, juga ada biaya pendidikan yang
perlu dibayarkan. Tapi entah secara tiba-tiba, ibu mendapat pesan cek tagihan
Biaya Pendidikan Santri (BPS) yang menyatakan bahwa tagihan triwulan 1 adik
saya itu lunas. Ibu terharu. Ibu menyangkan bahwa ini mungkin sebab dari
kemuliaan shalawat.
Mendengar cerita
ini, keinginan membaca sholawat seperti mendapat siraman qolbu. Hati rasanya
adem ketika melihat orang lain bahagia, apalagi itu adalah ibu sendiri dan plus
ditambah disebabkan ‘keberkahan’ shalawat.
Itu adalah info
pertama. Info yang ke dua adalah bahwa ibu mendapat surat untuk segera vaksin. Jadi
penduduk desa yang belum vaksin, mereka mendapat surat untuk segera vaksin.
Akhirnya ibu vaksin dan sekarang tangan beliau sedang nyeri efek dari vaksin.
Wah, ini info terbaru. Saya yang selama ini ingin vaksin juga mengurungkan diri
karena dilarang oleh ibu. Ternyata ibu sekarang sudah vaksin, berarti secara
tidak langsung saya juga boleh vaksin juga. Vaksin pertama tentunya, disaat
teman-teman lain sudah completed vaksin dua dengan segala
kartu-kartunya.
Telfon itu
berlangsung setelah pengajian sore pengasuh. Waktu terus berlalu. Hadiran
maghrib, kamar saya kebagian piket akhirnya turun dan ke kamar. Saya sholat
isya’ di kamar karena ada beberapa tempat yang cukup lama dibersihkan. Saya cek
di wa yang tersambung di laptop. Konfirmasi terkait rapat festival
turats. Kerjasama, koordinasi dan sinergi antara pesantren dan Ma’had Aly Nurul
Jadid.
Di jadwalnya,
seharusnya rapat berlangsung di kantor pesantren lantai 2 ruangan humas dan
protokuler (humpro). Saya tanyakan lagi, ternyata rapat akan dilangsung beberapa
menit lagi. Saya menyengaja datang terlambat. Saya kembali ke bawah untuk
meneruskan aktivitas saya, yakni mengetik. Hingga saya kemudian chat di grup
bahwa kami akan berangkat. “OTW”. Saya hubungi teman-teman disini, diantaranya
Syamsi selaku presiden juga Lutfillah karena memang hanya dia anggota BEMs yang
ada di kamar saat itu. Sedang Sairofi entah ke mana.
Ternyata respon
teman-teman berbeda dari harapan. Mereka menolak untuk rapat di pesantren.
Alasannya karena Mudir ‘dhukah (marah, red) terkait acara festival
turats ini. Entah marah kenapa, yang tahu katanya adalah pembina, yakni Ust.
Taufiq. Saya kemudian chat Ust. Taufiq, tak ada pesan yang mengarah untuk
menghentikan rapat, tunggu dulu dan terburu-buru koordinasi dengan pusat.
Tapi teman-teman
masih memaksa untuk tidak hadir. Akhirnya memberi konfirmasi dengan memberikan
alibi di grup koordiniasi bahwa, “Mohon Maaf, pembina kami masih belum ada.
Jadi rapatnya mungkin ditunda.”
Saya tidak enak
sebenarnya ini. Akhirnya saya meneruskan untuk mengetik. Lalu setelah beberapa
saat, saya kembali ke atas. Teman-teman ternyata tidak ada sama sekali. Kata
Musdir (ustadz, red), “sudah akademiknya fin ?” tanyanya dengan bahasa Madura.
“Belum tadz,”
saya menjawab sekenanya.
Padahal baru tahu
kalau akademik masuk. Jujur saja, sebelumnya saya sudah cek sekitar pukul 20.00
Wib lebih, tidak ada tanda-tanda akan masuk. Ternyata, teman-teman yang lain
sudah di kantor di Ma’had Aly. Akhirnya aku masuk terlambat. Tadi malam kelas
sedang memasuki sesi pertanyaan. Diskusi membahas soal pengangguran di
Indonesia. Terkait pengangguran ini, saya ingin mengulasnya pada tulisan
selanjutnya.
Pukul 22.00 WIB
tiba. Kelas bubar. Dan, saya langsung menuju ke kantor media center. Kata Aan,
HP Media Center ada telfon. Ternyata Ust. Lathip Pesantren. Ketua 1 Bulan Lomba
Harlah, yang membawahi lomba-lomba eksternal dalam rangkaian acara haul dan
harlah ini. Mereka ada sosialisasi. Saya tetap beralasan bahwa kami tidak bisa
hadir karena mau rapat lagi untuk persiapan yang lebih matang. Dengan halus,
Ust. Lathip tetap memaksa bahwa sosialisasi ini bisa jadi rapat BEMs Mahad Aly.
“baiklah, saya
mengiyakan.”
Tapi untuk
berangkat ke pesantren dan ikut rapat tak semudah itu. Saya harus meyakinkan
Lutfi dan Syamsi bahwa ini adalah legal dan baik. Mereka tetap bersikukuh tidak
mau hadir karena alasan tadi itu, “Ra Fayyadl dhukah”. Padahal, secara
informasi yang saya terima dari Mas Syukron, koordinasi panitia dari pusat
dengan di Mahad Aly sudah disetujui oleh Mudir. Mereka sama-sama matur ke
dhalem Gus Fayyadl.
Akhirnya suasana
agak memanas. Dengan senyum yang dipaksaan dan nafas yang berhembus panjang,
“kamu yang membatalkan ya. soalnya Ust. Lathip nelfon dan bla.. bla.. bla.. aku
juga sudah hubungi Ust. Taufiq dan jawabannya sebentar lagi.” Jawabku dengan
menggunakan bahasa Madura.
Mereka masih
bersikukuh. Saya tetap memaksa. Keadaan semakin tidak nyaman. Amir yang ada
pada saat itu hanya diam. Juga Syamsi. Akhirnya Lutfi mau mencari Ust. Taufiq
untuk mengklarifikasi dan meminta solusi, kita mau berangkat atau tidak ?
Sebetulnya, kami
sama-sama sepakat demi kemajuan BEMs, tapi tidak dengan caranya.
Setelah mencari
Ust. Taufiq, ternyata tidak ada. Kami ke Media Center, karena HP Media Center
tidak memiliki paketan data, akhirnya kami harus numpang hotspot dulu. Ternyata
entah kenapa, ada kendala internal. Akhirnya waktu semakin lama pula. Saya dan
Lutfi sesekali bercanda untuk mencairkan suasana.
Akhirnya, kabel
line internet disambungkan ke laptop saya. Lalu melalui telegram, kami menelfon
Ust. Taufiq dan keputusan sepenuhnya diambil bapak pembina. Ia ke kantor media
center. Lutfi keluar dan saya masih sibuk mengotak-atik laptop yang terkoneksi
dengan internet ini. Ternyata apa ? Pak Pembina memutuskan untuk berangkat ke
pusat.
Berangkatlah
saya, Lutfi, Syamsi dan Ust. Taufiq sekitar pukul 22.30 WIB itu ke lantai 2
ruang Biro Lajnah Ta’lif wa Nasyr (LTN). Mereka sudah memulai rapat. Ada
panitia dari pesantren, LPBA juga PPIQ. Karena pada tahun ini, lomba eksternal
akan diwakili oleh tiga lembaga ini untuk mengadakan lomba-lomba.
Rapat malam itu,
menghasilkan beberapa keputusan. Diantaranya sebagai berikut :
Waktu pendaftaran : 13 Januari – 13 Februari
Pengumpulan Video : Terakhir tanggal 14 - 15 Februari 2022
Penjurian :
15 – 17 Februari 2022
Festival Akbar
Ø Bahasa XXXIII
Ø Qur’an
Ø Turots III
Ø Banjari
Video yang yang dikirimkan merupakan
karya orisinil dan belum pernah diikutsertakan dalam perlombaan lain. Di
dalam video wajib menyertakan Background, logo
Pesantren & HARLAH Nurul Jadid.
Jadi, lomba-lomba
yang diadakan oleh wilayah atau lembaga di Nurul Jadid, akan berada dibawah
naungan pesantren. Hanya saja panitia dan teknis diserahkan pada masing-masing
lembaga, sedangkan dananya akan dianggarkan oleh pihak panitia lomba eksternal
Harlah ke 73 ini.
Festival Turats
ke 3 tahun 2022, mungkinkah ?
Jawabannya,
mungkin saja. Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi langkah ke depan semakin mantap
untuk mengadakan festival turats, tapi bukan mustahl pula acara ini dibatalkan.
Baiklah, mari berdoa, berharap-harap cemas semoga kenyataan merupakan konsekuensi
terbaik dari ikhtiar terbaik pula dari kita semua.
Terima kasih.
Paiton, 06
Januari 2022.
0 Komentar