Saya baru tahu kalau Gus Fayyadl memiliki blog. Beliau ternyata sudah
menulis di blog bertahun-tahun lalu. Informasi ini saya baru tahu ketika acara “Muhasabah
Akhir Tahun dan Azam Tahun 2022” yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasantri
(BEMs) Ma’had Aly Nurul Jadid pada 1 Januari 2022 lalu.
Pada mulanya, sebelum tahu informasi ini, pada pemateriannya, Gus Fayyadl
membeberkan fenomena manusia modern yang memiliki ingatan pendek atau short
memory. Keterangan ini ada di ilmu sosiologi.
Gus Fayyadl mengatakan bahwa ciri manusia modern adalah amnesia sejarah. Memorinya pendek. Mementingkan kepentingan sekarang. maka tidak salah bila ada yang
mengatakan bahwa generasai Z itu orang-orang yang short memory. Makanya, oleh
media sosial itu diingatkan, seperti facebook, instagram, dll. Mereka merekam
momentum dan kejadian dalam hidupnya dalam bentuk gambar (imaji).
Hal ini berbeda sekali dengan masyarakat literal, yang mana mereka merekam
kejadian demi kejadian dalam hidupnya dengan tulisan. Santri saat ini jarang
menonjol menulis diary. Yang terkenal dulu itu Ahmad Wahib. Salah satu pentolan
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia menulis catatan-catatan hidupnya yang
kemudian diganduring dan menjadi inspirasi gerakan-gerakan para pemuda. Sayangnya,
-ini komentar Gus Fayyadl-, Ahmad Wahib itu dulu bukan santri. Tidak bisa baca kitab.
Sehingga kebingungan-kebingunannya dalam agama dipersepsikan menurut
pikirannya. Bukan menurut referensi dari kitab kuning atau sumber-sumber
otoritatif lainnya.
“Dia tidak mondok di Ma’had Aly. Seandainya dia mondok di Ma’had Aly
mungkin tidak akan bingung lagi,” guyon mudir pada audien yang disambut tertawa
oleh para mahasantri.
Sedikit catatan: Ahmad Wahib itu lebih dahulu daripada dari Nur Cholis
Madjid. Di Indonesia ada dua aliran besar pemikiran, yakni Modernis dan
Tradisionalis. Kaum modernis dipelopori oleh Nur Cholis Madjid (Cak Nur) sedangkan
kaum tradisional dipelopori oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dari ke dua
aliran ini kemudian muncullah organisasi seperti PMII dan HMI.
Kaum santri saat ini jarang mereka mencatat perjalanan mereka, termasuk
perjalanan ilmiah. Tradisi sekarang sangat berbeda sekali dengan dahulu. Kalau sekarang,
ada apa-apa, mengabadikan momennya dengan HP, foto dll. Memangnya, berapa usia fb
? instagram ? dll.
Mencatat ini penting sekali. Kalau tidak mencatat kita tidak bisa mengingat
dan bermuhasabah. Dan, pesan Gus Fayyadl yang menggugah saya untuk menulis di
blog lagi adalah satu ini, yakni “saya lebih sepakat di blog. Blog (digunakan)
mencatat catatan-catatan harian. Tidak membiarkan hari berlalu tanpa catatan.”
***
Menulis setiap hari di blog adalah keinginan yang sangat lama sekali. Sesekali
saya coba, gagal dan saya coba dan ternyata gagal lagi. Hingga saya disibukkan
dengan tugas dan kesibukan lain, akhirnya keinginan ini sempat terkubur. Tapi ucapan
beliau berhasil mengusik pikiran saya. Saya tidak berhenti untuk memikirkan
anjuran dan ‘teguran fakta’ di lapangan, bahwa santri jarang menulis diary saat
ini.
Bahwa menulis diary bukan sekedar urusan remeh dan kecil. Sedikit berdampak
bahkan tidak berdampak sama sekali. Tidak. Sama sekali tidak benar anggapan
ini. Betapa banyak hal-hal besar ditentukan oleh hal-hal kecil. Salah satunya
adalah kegiatan menulis diary di blog seperti ini.
Pada acara Muhasabah itu, Ust. Husain selaku penyaji ke dua ternyata pernah
membaca tulisan-tulisan pribadi di blog pribadi Gus Fayyadl. Ini fakta yang baru
saya tau. Saya kemudian penasaran apa blog milik Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid
itu. Seorang aktivis dan penulis produktif ini ternyata menulis diary. Catatan-catatan
harian beliau bisa diakses siapa saja.
Saya sangat menganjurkan sekali menulis diary pada teman-teman anggota
kelas literasi BEMs Ma’had Aly Nurul Jadid. Dulu saya -merasa- cukup rajin
menulis diary. Tiada hari terlewat tanpa menulis diary. Menunggu guru, mengisi
waktu kosong sampai baru sampai di kelas pada pagi hari itu, aku langsung
membuka buku tulis dan menulis. Bahkan, dulu sempat saya canangkan khataman
menulis, bukan khataman membaca buku atau al-Qur’an. Khataman menulis di buku
tulis secara full sehingga cepat berganti pada buku yang lain.
Di Ma’had Aly, dengan kegiatan yang jauh berbeda ketika di pusat dulu,
perlu ada penyesuaian dan adaptasi. Aku mulai jarang menulis diary. Bila kalian
tahu kegiatan di sini, barangkali para pembaca sekalian akan memaklumi kejadian
ini.
Kalau boleh jujur, pembahasan soal menulis itu saya sudah bosan. Tapi apa mau dikata, menulis membutuhkan proses. Bukan
sehari dua hari. Menulis sekali dua kali. Tapi berkali-kali. Menulis adalah bekerja
untuk keabadian.
Seperti kata
Pramodeya Anata Toer, “Orang
boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah.
Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.
Atau seperti doktrin kuat dari Prof. Mustafa Ya’qub, Pendiri
Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadits Darussunah dan Imam Besar Masjid Istiqlal –
Jakarta, “Wa Laa Tamutunna Illa Wa Antum Katibuun” yang artinya janganlah kalian
mati kecuali telah menjadi seorang penulis.
Satu lagi, saya jadi ingat pesan Gus Fakhri NCZ, saat
bertemu di pinggri jalan. Beliau menceritakan betapa progresifnya Kiai Zaini
memikirkan lingkungan yang pada zaman itu, ilmu-ilmu konservasi lingkungan
hidup belum populer seperti sekarang.
Kata beliau, “Pesantren kalau mengandalkan kebesaran
kiai-nya, kiainya meninggal habis pesantren itu. Pesantren bila mengandalkan
pendidikan, insyaallah akan terus eksis mengikuti perkembangan zaman. Hal ini
juga sangat berkaitan erat dengan kegiatan literasi.” Kira-kira seperti dawuh
beliau yang saya ingat.
Sekian terima kasih.
Paiton, 04 Januari 2022 (23.47 WIB).
0 Komentar