Sebagai orang
yang beberapa kali ikut riwa-riwi ke pusat mengikuti alurnya festival turats
ke-3, pada tulisan kali ini saya akan bercerita soal asal-usul beserta
lika-liku hingga detik ini. Festival turat ini adalah salah satu side event
dalam rangkaian peringatan haul dan harlah pesantren Nurul Jadid yang 73.
Pada mulanya,
bukan pihak BEMs atau Ma’had Aly yang hendak mengadakan festival turats pada
tahun 2022 ini. Akan tetapi, panitia harlah yang mendapat instruksi dari atas
(SC/Steering Comite) untuk mengadakan lomba yang sifatnya eksternal.
Eksternal dalam
artian lomba-lomba yang bisa dinikmati oleh santri selain Nurul Jadid. Karena
acara ini adalah acara haul dan harlah, “masak hanya dinikmati santri/pihak
dalam (Nurul Jadid) saja ?” kira-kira begitu pertanyaan dari atasan.
Akhirnya
berangkatlah panitia harlah, yang dalam hal ini ada tiga pemain utama. Pertama
adalah Ust. Abdul Lathif selaku ketua 1 Harlah. Ke dua adalah Ust. Ainul Yaqin
selaku ketua bulan lomba dan yang ke tiga adalah Ust. Mutawakkil Alallah selaku
ketua lomba eksternal. Mereka matur ke mudir sebagai bentuk koordinasi.
Mudir sebagai pimpinan “mempersilahkan” dengan cara mengkooridinasikan kegiatan
ini dengan panitia BEMs.
Sebagai BEMs,
tentu tergiur untuk mengadakan turats karena sejak awal “akad” atau kerjasama
antara ke dua belah pihak ini, bahwa dana akan ditanggung pesantren dan
masing-masing penjab fokus di teknis dan kinerja pelaksanaan acara. Ketentuan
ini ada dalam rapat bersama panitia harlah, pengurus PPIQ dan LPBA. Pihak BEMs
yang ikut rapat saat itu adalah Lutfillah, Sairofi, Alfin, Syamsi dan Ust.
Taufiq.
Perlu diketahui,
bahwa lomba eksternal ini dibungkus dengan nama eNJe festival. Di dalamnya ada
beberapa lomba yang penjabnya adalah 3 lembaga, yakni Ma’’had Aly, PPIQ dan
LPBA. Dari pihak Ma’had Aly membawahi festival turats (MQK dan ONS). PPIQ
membawah festival qur’an (MTQ dan MSQ). LPBA membawahi festival bahasa
(Khitobah dan Speech).
·
Awal Putra -
Putri
Dulu, dari kami
menanyakan lomba ini putra putri secara blur (floor), dalam artian tidak
dibedakan lombanya. Karena secara konsep awal, juara lomba MQK fathul qorib,
akan dibedakan antara putra dan putri. Juga pada finalnya nanti. Rencana awal
adalah 10 besar, peserta akan didatangkan sehingga bisa streaming dan memang
menarik untuk di siarkan secara langsung.
Tapi bagaimana
jawaban dari pihak pusat ? bisa. Karena yang menjadi pertimbangan adalah
peserta putri yang hadir ketika final nanti itu sedikit.
Ketika kami
disini dan panitia di pusat mengajukan konsep seperti ini, setelah diajukan ke
SC, banyaklah terjadi perubahan dalam konsep awal yang telah dirancang oleh
tiga lembaga ini. Selain dana (yang awalnya kami semua jor-joraan soal dana,
akhirnya di press sedemikian mungkin). Sehingga tak heran muncul pikiran dari
sebagian panitia, “ingin menaikkan great festival turats yang dianggap turun”.
Karena yang biasanya juara MQK FQ dan FM, juara 1 nya itu beberapa juta, tapi
malah disamaratakan jadi 1 juta. (itu salah satu faktornya).
Lalu, yang
menjadi persoalan juga adalah online/offline. Nah, ternyata, keputusan dari SC
itu semua lomba dalam eNJe festival itu on-line. Sehingga hal ini mengubah peta
awal dan rancangan ke depan dalam festival turats.
Sebelum
diputuskan on-line semua, BEMs putra-putri sempat melakukan rapat gabungan
dengan mengonsep festival turats secara hybrid (perpaduan antara on-line ketika
penyisihan dan off-line ketika final).
Tapi setelah ada
keputusan dari SC, ternyata acaranya on-line semua, akhirnya harus menyusun
konsep lagi. Karena pengalaman selama ini adalah festival dilaksanakan secara
off-line dengan keriwehan yang sangat ramai sekali. Ini pengalamannya.
Sedangkan bila
dilaksanakan secara on-line, sebenarnya secara teknis dan kinerja di lapangan,
semua selesai di putra. Karena tidak ada peserta putri yang hendak dilayani
ketika final nanti.
Dititik inilah, ketika
konsep awal dan yang berubah, akad antara bems putra dan putri belum menemui
titik kesepakatan dan titik terang. Dari pihak putra, dalam hal ini adalah
ketua panitianya, terus memaksa untuk mengajak kerja sama. Agak memaksa memang.
Sedang presiden BEMs putri tetap dengan pendiriannya enggan untuk melanjutkan
festival turats dikarenakan kecewa acara dilaksanakan semuanya online. Ada banyak
alasan, diantaranya adalah :
a.
Kalau acara
online semua, BEMs putri cuma bantu bukannya kerjasama.
b.
Kalau acara
online, tidak semua anggota pasti terlibat, hanya beberapa. Sedangkan banyak
dari anggota baru yang ingin tau rasanya keriwehan turats.
c.
Ia ingin acara
ini punya BEMs putra dengan Rifa atau BEMs putra dengan Kiki.
Tapi apa mau
dikata ? antara ketua panitia dan presiden BEMs putri tetap bersikukuh dengan
pendirian masing-masing.
Ketua panitia
tetap mengajak gabung dan presiden BEMs tetap tidak mau diajak gabung. Hingga
presiden BEMs putri ini menyerahkan ke Rifa dan Nurul Makkiyah. Dalam pandangan
subjektif saya, karena ke dua orang ini yang mau dan setuju dengan adanya
turats.
Waktu terus
bergulir. Tak ada badai, tak ada petir, Rifa kemudian chat hp media center.
Isinya tanya kejelasan rapat dengan
pusat hingga panik soal dana.
Saya coba
menenangkan. Bahwa secara tanggung jawab secara kontrak, BEMs sebenarnya hanya
fokus di kinerja dan teknis di lapangan. Soal dana bukan tanggung jawab BEMs. Seandainya
dana tidak ada dari BEMS putra, BEMs putri ataupun Ma’had Aly itu tidak ada
yang salah. Karena sejatinya dana yang menanggung itu pusat.
Akhirnya ia
cukup tenang.
Lalu, Rapat BEMs
putra dan putri akan dilaksanakan pada selasa (25/01) di perpustakaan. Bahasan utama,
selain icis-icis soal teknis berlangsungnya acara, juga bahasan utamanya
adalah dana lagi.
Sebelum membahas
strategi cari dananya, yang menjadi kesepakatan rapat pada tema tersebut adalah
kesepakatan lanjut tidaknya turats. Ada dua kubu yang bertentangan: pihak
ketupat melanjutkan acara bagaimanapun adanya. Sedangkan presiden BEMs putri
mengusulkan agar acara turats diundurkan. Usulan ini sebagai gertakan dan juga -dalam
pandangan subjektif saya-, ia masih eman dengan konsep turats yang telah matang
dirapatkan oleh BEMs Putri.
Untuk menengahi
keadaan ini, saya kembali mengemukakan duduk permasalahan sebagaimana yang
telah saya sampaikan dengan Rifa, juga menyinggung pertimbangan mudharat-maslahat
yang telah dikemukakan oleh Syamsi dan kawan-kawan lainnya, sehingga keputusan
untuk diundurkan festival turats sangat tidak memungkinkan sekali.
Keputusan akhir
rapat kala itu adalah membagi dua konsetrasi, yakni mendesak pihak pusat untuk
segera rapat, memperjelas dana dan mencarikan solusi atas kebuntuan ini. Konsentrasi
selanjutnya adalah “berdikari” atau berdiri dengan kaki sendiri. Tidak bergantung
pada pusat atau instansi manapun. Mengupayakan memiliki dana tanpa terikat
dengan persyaratan juga harapan-harapan tertentu.
Berhubung strategi
untuk konsentrasi ke dua masih belum bisa diungkapkan di sesi itu juga,
sehingga rapat dibubarkan. Panitia diharapkan juga memikirkan solusi atas ketidak
adanya dana untuk festiva turas khususnya, eNJe festival secara kesuluruhan.
Paiton, 26
Januari 2022. (selesai jam 01.28 WIB)
0 Komentar