Trending

6/recent/ticker-posts

Lika-Liku Festival Turats III : Catatan Singkat (1)

 



Sebagai orang yang beberapa kali ikut riwa-riwi ke pusat mengikuti alurnya festival turats ke-3, pada tulisan kali ini saya akan bercerita soal asal-usul beserta lika-liku hingga detik ini. Festival turat ini adalah salah satu side event dalam rangkaian peringatan haul dan harlah pesantren Nurul Jadid yang 73.

Pada mulanya, bukan pihak BEMs atau Ma’had Aly yang hendak mengadakan festival turats pada tahun 2022 ini. Akan tetapi, panitia harlah yang mendapat instruksi dari atas (SC/Steering Comite) untuk mengadakan lomba yang sifatnya eksternal.

Eksternal dalam artian lomba-lomba yang bisa dinikmati oleh santri selain Nurul Jadid. Karena acara ini adalah acara haul dan harlah, “masak hanya dinikmati santri/pihak dalam (Nurul Jadid) saja ?” kira-kira begitu pertanyaan dari atasan.

Akhirnya berangkatlah panitia harlah, yang dalam hal ini ada tiga pemain utama. Pertama adalah Ust. Abdul Lathif selaku ketua 1 Harlah. Ke dua adalah Ust. Ainul Yaqin selaku ketua bulan lomba dan yang ke tiga adalah Ust. Mutawakkil Alallah selaku ketua lomba eksternal. Mereka matur ke mudir sebagai bentuk koordinasi. Mudir sebagai pimpinan “mempersilahkan” dengan cara mengkooridinasikan kegiatan ini dengan panitia BEMs.

Sebagai BEMs, tentu tergiur untuk mengadakan turats karena sejak awal “akad” atau kerjasama antara ke dua belah pihak ini, bahwa dana akan ditanggung pesantren dan masing-masing penjab fokus di teknis dan kinerja pelaksanaan acara. Ketentuan ini ada dalam rapat bersama panitia harlah, pengurus PPIQ dan LPBA. Pihak BEMs yang ikut rapat saat itu adalah Lutfillah, Sairofi, Alfin, Syamsi dan Ust. Taufiq.

Perlu diketahui, bahwa lomba eksternal ini dibungkus dengan nama eNJe festival. Di dalamnya ada beberapa lomba yang penjabnya adalah 3 lembaga, yakni Ma’’had Aly, PPIQ dan LPBA. Dari pihak Ma’had Aly membawahi festival turats (MQK dan ONS). PPIQ membawah festival qur’an (MTQ dan MSQ). LPBA membawahi festival bahasa (Khitobah dan Speech).

 

 

·         Awal Putra - Putri

Dulu, dari kami menanyakan lomba ini putra putri secara blur (floor), dalam artian tidak dibedakan lombanya. Karena secara konsep awal, juara lomba MQK fathul qorib, akan dibedakan antara putra dan putri. Juga pada finalnya nanti. Rencana awal adalah 10 besar, peserta akan didatangkan sehingga bisa streaming dan memang menarik untuk di siarkan secara langsung.

Tapi bagaimana jawaban dari pihak pusat ? bisa. Karena yang menjadi pertimbangan adalah peserta putri yang hadir ketika final nanti itu sedikit.

Ketika kami disini dan panitia di pusat mengajukan konsep seperti ini, setelah diajukan ke SC, banyaklah terjadi perubahan dalam konsep awal yang telah dirancang oleh tiga lembaga ini. Selain dana (yang awalnya kami semua jor-joraan soal dana, akhirnya di press sedemikian mungkin). Sehingga tak heran muncul pikiran dari sebagian panitia, “ingin menaikkan great festival turats yang dianggap turun”. Karena yang biasanya juara MQK FQ dan FM, juara 1 nya itu beberapa juta, tapi malah disamaratakan jadi 1 juta. (itu salah satu faktornya).

Lalu, yang menjadi persoalan juga adalah online/offline. Nah, ternyata, keputusan dari SC itu semua lomba dalam eNJe festival itu on-line. Sehingga hal ini mengubah peta awal dan rancangan ke depan dalam festival turats.

Sebelum diputuskan on-line semua, BEMs putra-putri sempat melakukan rapat gabungan dengan mengonsep festival turats secara hybrid (perpaduan antara on-line ketika penyisihan dan off-line ketika final).

Tapi setelah ada keputusan dari SC, ternyata acaranya on-line semua, akhirnya harus menyusun konsep lagi. Karena pengalaman selama ini adalah festival dilaksanakan secara off-line dengan keriwehan yang sangat ramai sekali. Ini pengalamannya.

Sedangkan bila dilaksanakan secara on-line, sebenarnya secara teknis dan kinerja di lapangan, semua selesai di putra. Karena tidak ada peserta putri yang hendak dilayani ketika final nanti.

Dititik inilah, ketika konsep awal dan yang berubah, akad antara bems putra dan putri belum menemui titik kesepakatan dan titik terang. Dari pihak putra, dalam hal ini adalah ketua panitianya, terus memaksa untuk mengajak kerja sama. Agak memaksa memang. Sedang presiden BEMs putri tetap dengan pendiriannya enggan untuk melanjutkan festival turats dikarenakan kecewa acara dilaksanakan semuanya online. Ada banyak alasan, diantaranya adalah :

a.      Kalau acara online semua, BEMs putri cuma bantu bukannya kerjasama.

b.      Kalau acara online, tidak semua anggota pasti terlibat, hanya beberapa. Sedangkan banyak dari anggota baru yang ingin tau rasanya keriwehan turats.

c.       Ia ingin acara ini punya BEMs putra dengan Rifa atau BEMs putra dengan Kiki.

Tapi apa mau dikata ? antara ketua panitia dan presiden BEMs putri tetap bersikukuh dengan pendirian masing-masing.

Ketua panitia tetap mengajak gabung dan presiden BEMs tetap tidak mau diajak gabung. Hingga presiden BEMs putri ini menyerahkan ke Rifa dan Nurul Makkiyah. Dalam pandangan subjektif saya, karena ke dua orang ini yang mau dan setuju dengan adanya turats.

Waktu terus bergulir. Tak ada badai, tak ada petir, Rifa kemudian chat hp media center. Isinya tanya kejelasan rapat dengan  pusat hingga panik soal dana.

Saya coba menenangkan. Bahwa secara tanggung jawab secara kontrak, BEMs sebenarnya hanya fokus di kinerja dan teknis di lapangan. Soal dana bukan tanggung jawab BEMs. Seandainya dana tidak ada dari BEMS putra, BEMs putri ataupun Ma’had Aly itu tidak ada yang salah. Karena sejatinya dana yang menanggung itu pusat.

Akhirnya ia cukup tenang.

Lalu, Rapat BEMs putra dan putri akan dilaksanakan pada selasa (25/01) di perpustakaan. Bahasan utama, selain icis-icis soal teknis berlangsungnya acara, juga bahasan utamanya adalah dana lagi.

Sebelum membahas strategi cari dananya, yang menjadi kesepakatan rapat pada tema tersebut adalah kesepakatan lanjut tidaknya turats. Ada dua kubu yang bertentangan: pihak ketupat melanjutkan acara bagaimanapun adanya. Sedangkan presiden BEMs putri mengusulkan agar acara turats diundurkan. Usulan ini sebagai gertakan dan juga -dalam pandangan subjektif saya-, ia masih eman dengan konsep turats yang telah matang dirapatkan oleh BEMs Putri.

Untuk menengahi keadaan ini, saya kembali mengemukakan duduk permasalahan sebagaimana yang telah saya sampaikan dengan Rifa, juga menyinggung pertimbangan mudharat-maslahat yang telah dikemukakan oleh Syamsi dan kawan-kawan lainnya, sehingga keputusan untuk diundurkan festival turats sangat tidak memungkinkan sekali.

Keputusan akhir rapat kala itu adalah membagi dua konsetrasi, yakni mendesak pihak pusat untuk segera rapat, memperjelas dana dan mencarikan solusi atas kebuntuan ini. Konsentrasi selanjutnya adalah “berdikari” atau berdiri dengan kaki sendiri. Tidak bergantung pada pusat atau instansi manapun. Mengupayakan memiliki dana tanpa terikat dengan persyaratan juga harapan-harapan tertentu.

Berhubung strategi untuk konsentrasi ke dua masih belum bisa diungkapkan di sesi itu juga, sehingga rapat dibubarkan. Panitia diharapkan juga memikirkan solusi atas ketidak adanya dana untuk festiva turas khususnya, eNJe festival secara kesuluruhan.

Paiton, 26 Januari 2022. (selesai jam 01.28 WIB)

Posting Komentar

0 Komentar