Hari ahad ini, saya berniat untuk
menulis sebuah tulisan tentang catatan ngaji ihya’ tadi pagi. Perlu diketahui
sebelumnya, ngaji kitab ihya’ di Ma’had Aly Nurul Jadid diampu langsung oleh
Mudir Ma’had Aly, yakni K. Muhammad Al-Fayyadl, M.Phil. Cucu Kiai Hasan Abdul
Wafi yang menempuh pendidikan Stratra 2 di Perancis.
Siapa sangka, beliau akan menjadi
pimpinan tertinggi di lembaga kaderisasi ulama seperti ini ? tentu tidak ada
yang menyangka bukan.
Ngaji tadi pagi, alhamdulillah
saya tidak tidur. Padahal tadi malam tidur agak larut malam. Berkisar pukul
03.00 WIB. Tadi juga rekaman suara beliau menggunakan mic wireles milik Media
Center.
Tema pengajian tadi pagi tentang
tentara-tentara hati. Diantaranya adalah syahwat (keinginan) dan ghodob
(marah). Ke duanya menjadi penggerak akan anggota tubuh dan panca indera
seorang manusia.
Dibalik panca indera sendiri
terdapat kekuatan. Kekuatan melihat, mendengar, merasakan, mencium dan
mengecap. Seandainya kita sadar akan kekuatan panca indera ini, kita akan bisa
menangkal maksiat sejak dini. Semisal dengan sadar akan kekuatan melihat, maka
kita akan menjaga betul supaya tidak melihat hal-hal yang dilarang oleh agama.
Bila kita lihat fenomena di
negara-negara yang memproduksi pronografi, maka kita akan mengetahui
perkembangan pemuda/pemudi mereka. Kita juga akan mengetahui masa depan suatu
bangsa. Ada dua negara yang paling banyak memproduksi pornografi, yakni Jepang
dan Amerika.
Hanya saja di Amerika, pornografi
dilegalkan kepada orang-orang yang berusia diatas 30 tahun. Dibawah umur itu,
apabila ada anak yang ketahuan menyimpan pornografi, maka orang tua mereka akan
marah besar. Karena bila sejak kecil dan masih mudah sudah sering melihat
pornografi dan hal-hal yang tidak senonoh, maka ketika dewasa mereka tidak akan
memiliki kedisiplinan, kualitas yang rendah dan lain sebagainya.
Hanya saja, Gus Fayyadl
menceritakan hal positif di negara barat, budaya baca mereka sangat kuat dan
terbentuk. Mereka membaca apa saja. Di Perancis, orang ketika sudah di
perpustakaan itu khusyuk sekali. Sedikit ada suara bisik-bisik, anda akan dilempari
sesuatu sebagai bentuk teguran supaya segera diam. Sepertinya mengganggu orang
yang belajar itu hukumnya haram sekali.
Bahkan di tempat-tempat toilet
atau kamar mandi, disana terdapat rak-rak kecil supaya warga penduduk membaca. Akses
membaca sangat mudah sekali.
“saya tidak bisa membayangkan
bagaimana di toilet saya itu ada perpustakaannya,” komentar Gus Fayyadl disela-sela
cerita.
Maka tak heran bila J.K. Rowling,
pengarang kisah harry potter itu menjadi sangat kaya raya sekali ketika
karyanya tersebut diterima sebuah penerbit dan meledak di dunia. Karena memang
masyarakatnya adalah masyarakat membaca. Karya tulis sangat laku dan laris sekali.
Jadi, seorang pengarang dan penulis mendapat kedudukan dan sosial tertinggi di
masyarakat.
Kenyataan seperti ini tidak seperti
di Indonesia. Penulis seringkali harus kehilangan royalti atas jerih payah
mengarang suatu karya disebabkan pembajakan buku.
Diakhir pembahasan ini, Gus
Fayyadl mengomentari bahwa budaya membaca seperti ini yang masih kurang di
orang Islam. Budaya baca kita masih belum terbentuk kuat seperti yang ada di
negara-negara Barat.
Bicara soal membaca, saya jadi
ingat cerita Gus Fayyadl yang sangat kutu buku sejak kecil. Dalam pengajian
Ihya’ kesempatan sebelumnya, Gus Fayyadl pernah cerita bahwa ia sejak sekolah
di Madrasah Ibtida’iyah Nurul Mun’im (MINM) sangat rajin membaca buku. Dalam seminggu
beliau sudah terbiasa mengkhatamkan dua-tiga buku. Tak hanya daya tahan membaca
buku, Gus Fayyadl juga dikaruniai kekuatan membeli buku-buku. Bahkan sampai lulus
di pendidikan tingkat dasar itu, Gus Fayyadl mengaku kebingungan akan membaca
buku yang mana saking banyaknya buku yang ada dan belum dibaca.
Tak luput pula, beliau juga
memberikan tips yang juga disarankan oleh Kiai Hefni Rozaq (menantu Kia Zuhri)
supaya kita rajin dan rutin membaca buku, yakni dengan menargetkan bacaan yang
harus kita baca setiap hari. Semisal 50 halaman. Maka baca sebanyak itu dalam
sehari dan lakukan setiap hari.
Dengan membaca, kita jadi tahu
banyak hal dan banyak ragam. Dengan membaca, kita memiliki wawasan yang luas
sehingga ketika melihat objek tertentu, kita memiliki pandangan perbandingan. Dengan
membaca, kita akan menjawab banyak hal. Banyak sekali persoalan yang membutuhkan
ilmu pengetahuan dan keahlian. Sekian. Terima kasih.
Paiton, 10 Januari 2022.
0 Komentar