Trending

6/recent/ticker-posts

Catatan Ngaji Ihya: Lemahnya Budaya Membaca Kita

 


Hari ahad ini, saya berniat untuk menulis sebuah tulisan tentang catatan ngaji ihya’ tadi pagi. Perlu diketahui sebelumnya, ngaji kitab ihya’ di Ma’had Aly Nurul Jadid diampu langsung oleh Mudir Ma’had Aly, yakni K. Muhammad Al-Fayyadl, M.Phil. Cucu Kiai Hasan Abdul Wafi yang menempuh pendidikan Stratra 2 di Perancis.

Siapa sangka, beliau akan menjadi pimpinan tertinggi di lembaga kaderisasi ulama seperti ini ? tentu tidak ada yang menyangka bukan.

Ngaji tadi pagi, alhamdulillah saya tidak tidur. Padahal tadi malam tidur agak larut malam. Berkisar pukul 03.00 WIB. Tadi juga rekaman suara beliau menggunakan mic wireles milik Media Center.

Tema pengajian tadi pagi tentang tentara-tentara hati. Diantaranya adalah syahwat (keinginan) dan ghodob (marah). Ke duanya menjadi penggerak akan anggota tubuh dan panca indera seorang manusia.

Dibalik panca indera sendiri terdapat kekuatan. Kekuatan melihat, mendengar, merasakan, mencium dan mengecap. Seandainya kita sadar akan kekuatan panca indera ini, kita akan bisa menangkal maksiat sejak dini. Semisal dengan sadar akan kekuatan melihat, maka kita akan menjaga betul supaya tidak melihat hal-hal yang dilarang oleh agama.

Bila kita lihat fenomena di negara-negara yang memproduksi pronografi, maka kita akan mengetahui perkembangan pemuda/pemudi mereka. Kita juga akan mengetahui masa depan suatu bangsa. Ada dua negara yang paling banyak memproduksi pornografi, yakni Jepang dan Amerika.

Hanya saja di Amerika, pornografi dilegalkan kepada orang-orang yang berusia diatas 30 tahun. Dibawah umur itu, apabila ada anak yang ketahuan menyimpan pornografi, maka orang tua mereka akan marah besar. Karena bila sejak kecil dan masih mudah sudah sering melihat pornografi dan hal-hal yang tidak senonoh, maka ketika dewasa mereka tidak akan memiliki kedisiplinan, kualitas yang rendah dan lain sebagainya.

Hanya saja, Gus Fayyadl menceritakan hal positif di negara barat, budaya baca mereka sangat kuat dan terbentuk. Mereka membaca apa saja. Di Perancis, orang ketika sudah di perpustakaan itu khusyuk sekali. Sedikit ada suara bisik-bisik, anda akan dilempari sesuatu sebagai bentuk teguran supaya segera diam. Sepertinya mengganggu orang yang belajar itu hukumnya haram sekali.

Bahkan di tempat-tempat toilet atau kamar mandi, disana terdapat rak-rak kecil supaya warga penduduk membaca. Akses membaca sangat mudah sekali.

“saya tidak bisa membayangkan bagaimana di toilet saya itu ada perpustakaannya,” komentar Gus Fayyadl disela-sela cerita.

Maka tak heran bila J.K. Rowling, pengarang kisah harry potter itu menjadi sangat kaya raya sekali ketika karyanya tersebut diterima sebuah penerbit dan meledak di dunia. Karena memang masyarakatnya adalah masyarakat membaca. Karya tulis sangat laku dan laris sekali. Jadi, seorang pengarang dan penulis mendapat kedudukan dan sosial tertinggi di masyarakat.

Kenyataan seperti ini tidak seperti di Indonesia. Penulis seringkali harus kehilangan royalti atas jerih payah mengarang suatu karya disebabkan pembajakan buku.

Diakhir pembahasan ini, Gus Fayyadl mengomentari bahwa budaya membaca seperti ini yang masih kurang di orang Islam. Budaya baca kita masih belum terbentuk kuat seperti yang ada di negara-negara Barat.

Bicara soal membaca, saya jadi ingat cerita Gus Fayyadl yang sangat kutu buku sejak kecil. Dalam pengajian Ihya’ kesempatan sebelumnya, Gus Fayyadl pernah cerita bahwa ia sejak sekolah di Madrasah Ibtida’iyah Nurul Mun’im (MINM) sangat rajin membaca buku. Dalam seminggu beliau sudah terbiasa mengkhatamkan dua-tiga buku. Tak hanya daya tahan membaca buku, Gus Fayyadl juga dikaruniai kekuatan membeli buku-buku. Bahkan sampai lulus di pendidikan tingkat dasar itu, Gus Fayyadl mengaku kebingungan akan membaca buku yang mana saking banyaknya buku yang ada dan belum dibaca.

Tak luput pula, beliau juga memberikan tips yang juga disarankan oleh Kiai Hefni Rozaq (menantu Kia Zuhri) supaya kita rajin dan rutin membaca buku, yakni dengan menargetkan bacaan yang harus kita baca setiap hari. Semisal 50 halaman. Maka baca sebanyak itu dalam sehari dan lakukan setiap hari.

Dengan membaca, kita jadi tahu banyak hal dan banyak ragam. Dengan membaca, kita memiliki wawasan yang luas sehingga ketika melihat objek tertentu, kita memiliki pandangan perbandingan. Dengan membaca, kita akan menjawab banyak hal. Banyak sekali persoalan yang membutuhkan ilmu pengetahuan dan keahlian. Sekian. Terima kasih.

Paiton, 10 Januari 2022.

Posting Komentar

0 Komentar