Beberapa hari saya tidak menulis catatan diary di blog. Beberapa hari berlalu tanpa postingan di blog pribadi saya. Hanya saja, setidaknya saya menulis di buku tulis pribadi. Catatan dan corat-coret kecil, yang bisa memantik saya untuk mendiskripsikan hal-hal menjadi panjang (dan kadang-kadang tidak menjurus juga tidak to the point).

Saya memiliki satu buku yang menjadi catatan umum saya. Di buku itu, saya menulis catatan diary, catatan akademik, takhossus dan lain sebagainya. Satu buku untuk semua hal. Setelah saya pikir-pikir, cara belajar seperti ini kurang efektif. Karena saya harus membolak-balik buku tersebut yang isi catatan di dalamnya tidak tertulis, tertata dengan sistematis.

Semisal hari ini saya mencatat materi, penjelasan serta poin-poin yang diterangkan oleh Gus Fayyadl di suatu kelas akademik, lalu miggu depan, saat akademik mata kuliah yang diampu oleh beliau dan beliau menanyakan materi minggu lalu, saya sering merasa kerepotan untuk mencari catatn itu lagi. Karena hampir setiap hari saya dipastikan menulis di buku itu. Meski hanya corat-corat tak jelas dan tidak rapi sama sekali.

Bila ada uang nanti, saya ingin beli buku satu pak untuk memberda-bedakan materi yang saya tulis. Supaya kennegangah kennenngih, lakonah laknonih. Catatan ngitab tentu ada buku catatan ngitab. Kalau catatan akademik makul tertentu, seharusnya ada di buku catatan akademik tertentu. Begitu seterusnya.

Tapi tak ada buku tak masalah. Saat ini fasilitas sangat terbentang sekali. Saya bisa pakai hp, buku, laptop, dll. Seandainya tidak ada buku baru pun, tak masalah. Masih banyak yang bisa didaya gunakan.

Hari-hari berlalu, hari-hari juga mengajari kita untuk bersikap dewasa. Bagaimana kita seharusnya berbuat yang ideal, meskipun di lapangan seringkali tidak sesuai dengan harapan. Setidaknya melalui ilmu pengetahuan, kita semakin mengerti mana yang seharusnya, mana yang tidak seharusnya. Mana yang baik dan buruk. Mana yang tidak boleh dan boleh. Mana yang utama, lebih utama, biasa saja dan lain seterusnya.

Dari perjalana yang semakin menuntu kedewasaan ini, setidaknya kita diajari untuk mengakui segala kelemahan. Saat keinginan, ambisi dan impian tidak gantungkan-ditetapkan untuk seideal mungkin, tapi apalah daya bial kita tak mampu. Maksud hati memeluk gunung, tapi apalah daya tangan tak sampai.

Akan tetapi, Islam tidak mengajari kita untuk lekas menyerah dan berpangku tangan. Bersikap fatalis, apalagi berlindung di balik kedok, doktrin dan diktum keagamaan yang disalah pahami. Semisal tawakkal dan sebagainya.

Hari-hari berlalu, saya juga masih belum mencatat apapun untuk blog saya. Ada beberapa kejadian yang tak disangka-disangka akan terjadi. Diluar perkiraan dan perhitungan manusiawi. Semisal tadi malam saya yang bertemu dengan Vemas saat saya akan masuk ke wilayah.

Ia didampingi temannya, namanya Bagus yang membawa tas dan barang Vemas. Vemas tiba-tiba minta maaf dan matanya berlinang air mata. Berbicara masih tersedu-sedu. ia mengetakan bahwa ia akan pindah lagi asrama Ar-Rumi. Saya tekerjut dengan berita ini. Kasihan disatu sisi, disisi lain aku tak berdaya apapun.

Saya mengenal Vemas beberapa bulan yang lalu. Ia adalah santri Pondok Pesantren Nurul Jadid yang sekolah di Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ). Ia pada awalnya berdomisi di wilayah Jalaluddin Ar-Rumi (G). Lalu ia memutuskan pindah ke Gang (J) yang notabene asrama Ma’had Aly Nurul Jadid.

Saya cukup dengannya. Ia mengenal saya sejak saya berada di pusat. Salah satu temannya pernah suatu ketika menyapa saya ketika ada di jalan. Sejak saat itu ia mengetahui saya, tapi tidak dengan saya. Saya tak tahu Vemas sama sekali ketika di pusat.

Percakapan berlanjut dimulai dari kesamaan, bahwa kami menyukai dunia tulis-menulis. Dulu, saat saya mengikuti dan aktif menjadi anggota sastra titik koma yang berpusat di wilayah Ar-Rumi, saya dulu  sering ke sana. Ngobrol dan sharing soal sastra, puisi dan hal terkait ketika larut malam.

Ada yang setoran puisi, cerita puisi-puisi bagus, menganalisi, buku-buku hingga tokoh-tokoh dalam pagelaran sastra di Indonesia. Ternyata, Vemas juga menyukai dunia puisi. Saya disini mengembangkan minat saya di dunia literasi secara umum. Saya jarang menulis puisi, tapi tulisan-tulisan ala kadar dan semampunya saja. Tidak ada koreksi materi dan isi daripara senior ahli disini.

Semua berjalan mengalir apa adanya. Belajar tergerak dari kesadaran pribadi masing-masing, hingga kemudian pada semester lima ini, saya dianngkat menjadi ketua bagian literasi Badan Eksekutif Mahasantri (BEMs) Ma’had Aly Nurul Jadid. ini wadah saya untuk menularkan teman-teman Ma’had Aly supaya giat menulis dan memabca. Sebagai santri yang biasa melakukan apa-apa secara mandiri, saya juga bingung mau digimanakan kelas ini. Saya belajar karena ada dorongan dari dalam. Tapi entahlah, yang penitng saya menjalankan tugas dan menerima masukan dari semua pihak.

Nah, dari kelas ini, kedekatan kami berlanjut. Vemas ikut kelas literasi. Ia ingin belajar menulis lebih dalam lagi. Teknik-teknik hingga varias tulisan yang bisa dipelajari. Ia semangat dan selalu tersenyum (tidak enak sepertinya) karena tugas dari saya tak kunjung selesai-selesai. Heheuy..