Trending

6/recent/ticker-posts

Pentingnya Belajar Ilmu Darah

 

                                 

Banyak kejadian yang tak terduga-duga dalam keseharian hidup kita. Salah satu bagi saya adalah kemarin. Saya, Ust. Mustain dan Ust. Ubaidillah -meminjam istilahnya Tadz Tain-  “diculik” oleh Gus Fakhri. Pagi siang menjelang pagi hari itu, sekitar jam sepuluh lebih, kami diajak naik mobil putih. Singkat cerita, akhirnya kami berada di rumah Gus Roik. Putra Kiai Hefni Gang K.

Kami disana membahas acara pra-harlah yang berada dibawah naungan Biro Lajnah Ta’lif wa Nasyr. Setidaknya, ada dua agenda besar yang dibahas saat itu. Pertama tentang seminar kewanitaan. Rencananya, seminar kewanitaan ini akan membahas soal darah haidh. Mengingat banyak sekali masyarakat, khususnya perempuan selaku subjek pembahasan yang masih belum mengerti secara holistik, rigid dan komprehensif perihal darah.

Penyaji acara ini, rencananya adalah Neng Sheila Hasina. Salah satu neng di Lirboyo yang masyhur di media sosial. Selebgram dan sosok yang sering mengedukasi persoalan darah di akun medsos pribadinya maupun di kanal NU Online. Seminar ini akan dilaksanakan pada tiga tempat dalam waktu bersamaan, yakni di aula 1, 2 dan di UNUJA. Aula 1 dan 2 itu bagiannya santri, sedangkan di UNUJA itu pesertanya adalah masyarakat.

Usulan dari Biro Kepesantren, dalam hal ini adalah Gus Fahmi AHZ, agar acara ini dilaksanakan bukan dalam sekali saja. Akan tetapi setiap wilayah terdapat seminar sendiri-sendiri. Sehingga seminar lebih optimal, maksimal dan kondusif.

Gus Fakhri juga berencana mengundang Gus Ahmad Kafabihi Mahrus. Mereka berdua adalah pasangan suami-istri yang cukup terkenal di dunia maya. Gus Ahmad ini nantinya akan mengisi semacam “motivasi” bagi santri Nurul Jadid, baik putra maupun putri. Sebagai santri Lirboyo, tentu yang nembusi ke mereka adalah Gus Fakhri. Untuk dana, itu adalah masalah teknis. Tak elok rasanya saya ungkapkan disini.

Sedangkan acara ke dua adalah bahtsul masail. Perlu diingat, acara haul dan harlah pesantren Nurul Jadid akan dilaksanakan pada 27 Februari 2022. Kemarin hari selasa, 18 Januari 2022. Kira-kira ada waktu satu bulanan untuk mengadakan acara ini.

Tapi, idealnya, untuk mengadakan bahtsul masail itu memiliki waktu dua bulan. Satu bulan pertama itu permohonan soal yang dikirim ke beberapa pesantren. Kemudian ada proses seleksi dan pengiriman undangan bahtsu selama sebulan lagi. Karena untuk menentukan dan menjawab-diskusi permasalahan yang disediakan panitia, itu butuh waktu juga lho. Ini harus dipertimbangkan.

Akhirnya acara bahtsu masail nanti, akan dikemas lebih kreatif. Dengan cara berkolaborasi dengan Forum Kajian Pondok Pesantren (FKP) se-Probolinggo juga mengundang pesantren-pesantren beken seperti Lirboyo, Ploso dan lain sebagainya. Jadi nanti acara ini dinamai bahtsul masail se-Jawa Timur.

Setelah bincang konsep ini-itu dan persiapan yang perlu dilakukan, Gus Fakhri mengumpulkan kami untuk membahas “unek-unek” beliau. Dulu, beliau pernah melakukan angket atau penelitian di masyarakat sekitar Nurul Jadid. Angket itu menybutkan bahwa dhanya 40 % masyarakat desa karanganyar yang tahu soal permasalahan darah. Selebihnya tak tahu dan tak mau tahu. Dari sini beliau menyimpulkan bahwa penting sekali edukasi darah bagi masyarakat. Kejadian ini dilakukan pada tahun 2017 lalu.

5 tahun-an berjalanan, saat Gus Fakhri menjabat sebagai Biro Lajnah Ta’lif wa Naysr (LTN), beliau berpesan supaya Nurul Jadid bisa mengatasi permasaahan ini. Kan, bagaimana ya ? Nurul Jadid, yang pada awal berdirinya tidak bisa lepas dari masyarakat. Pesantren sebagai lembaga perubahan dan dakwah masyarakat, Nurul Jadid sebagai pondok pesantren yang santrinya sudah ribuan, masyarakatnya kurang mendapat perhatian dan ilmu pengetahuan.

Gus Fakhri berpesan supaya persoalan ini disampaikan pada pemangku dan pemegang kebijakan kebijakan di daerah setempat. Supaya ada tindakan dari atasn untuk semakin menggandeng masyarakat.

Dalam sebuah kesempatan penelitian itu, ada dialog seperti ini :

“saya tahu kalau keluar darah”, ucap seorang masyarakat.

“tapi tetap sholat bu ?”, jawab staff Ra Fakhri.

“tapi saya tetap sholat. Sholat seperti biasanya”, jawab masyarakat itu tadi.

“terus gimana ra ?”, tanya stafnya Ra Fakhri pada beliau.

“ya sudah, kita perbaiki pelan-pelan”, jawab Ra Fakhri.

Kejadian ini terjadi lima tahun lalu. Tahun ini, keadaan tentu tidak sama. Masyarakat semakin tahu atau tidak, belum ada yang bisa memastikannya. Yang jelas, ada tanggung jawab sosial dari kalangan orang berilmu. Yang ditakdirkan mendapat kesempatan belajar ilmu agama oleh Allah.

Di Ma’had Aly Nurul Jadid saja, kajian darah haidh belum menjadi sesuatu yang sering ditemui, lumrah dan kaprah. Kajian haidh sepertinya menjadi satu bab fikih yang bila bab itu sudah dilalui, dianggap berlalu pula pemahaman dan praktiknya.

Sebagai laki-laki, tentunya mempelajari ilmu darah wajib pula. Karena ia nantinya akan menjadi suami dan kepala keluarga bagi suami dan putra-putrinya. Entah bagaimana dan caranya, setidaknya bagian fikih yang satu ini, tidak bisa disepelekan begitu saja.

 

Kencong, 19 Januari 2022.

 

 

Posting Komentar

0 Komentar