Banyak kejadian yang tak terduga-duga dalam keseharian hidup kita. Salah
satu bagi saya adalah kemarin. Saya, Ust. Mustain dan Ust. Ubaidillah -meminjam
istilahnya Tadz Tain- “diculik” oleh Gus
Fakhri. Pagi siang menjelang pagi hari itu, sekitar jam sepuluh lebih, kami
diajak naik mobil putih. Singkat cerita, akhirnya kami berada di rumah Gus
Roik. Putra Kiai Hefni Gang K.
Kami disana membahas acara pra-harlah yang berada dibawah naungan Biro
Lajnah Ta’lif wa Nasyr. Setidaknya, ada dua agenda besar yang dibahas saat itu.
Pertama tentang seminar kewanitaan. Rencananya, seminar kewanitaan ini akan
membahas soal darah haidh. Mengingat banyak sekali masyarakat, khususnya
perempuan selaku subjek pembahasan yang masih belum mengerti secara holistik,
rigid dan komprehensif perihal darah.
Penyaji acara ini, rencananya adalah Neng Sheila Hasina. Salah satu neng di
Lirboyo yang masyhur di media sosial. Selebgram dan sosok yang sering
mengedukasi persoalan darah di akun medsos pribadinya maupun di kanal NU
Online. Seminar ini akan dilaksanakan pada tiga tempat dalam waktu bersamaan,
yakni di aula 1, 2 dan di UNUJA. Aula 1 dan 2 itu bagiannya santri, sedangkan
di UNUJA itu pesertanya adalah masyarakat.
Usulan dari Biro Kepesantren, dalam hal ini adalah Gus Fahmi AHZ, agar
acara ini dilaksanakan bukan dalam sekali saja. Akan tetapi setiap wilayah
terdapat seminar sendiri-sendiri. Sehingga seminar lebih optimal, maksimal dan
kondusif.
Gus Fakhri juga berencana mengundang Gus Ahmad Kafabihi Mahrus. Mereka berdua
adalah pasangan suami-istri yang cukup terkenal di dunia maya. Gus Ahmad ini
nantinya akan mengisi semacam “motivasi” bagi santri Nurul Jadid, baik putra
maupun putri. Sebagai santri Lirboyo, tentu yang nembusi ke mereka adalah Gus
Fakhri. Untuk dana, itu adalah masalah teknis. Tak elok rasanya saya ungkapkan
disini.
Sedangkan acara ke dua adalah bahtsul masail. Perlu diingat, acara haul dan
harlah pesantren Nurul Jadid akan dilaksanakan pada 27 Februari 2022. Kemarin
hari selasa, 18 Januari 2022. Kira-kira ada waktu satu bulanan untuk mengadakan
acara ini.
Tapi, idealnya, untuk mengadakan bahtsul masail itu memiliki waktu dua
bulan. Satu bulan pertama itu permohonan soal yang dikirim ke beberapa
pesantren. Kemudian ada proses seleksi dan pengiriman undangan bahtsu selama
sebulan lagi. Karena untuk menentukan dan menjawab-diskusi permasalahan yang
disediakan panitia, itu butuh waktu juga lho. Ini harus dipertimbangkan.
Akhirnya acara bahtsu masail nanti, akan dikemas lebih kreatif. Dengan cara
berkolaborasi dengan Forum Kajian Pondok Pesantren (FKP) se-Probolinggo juga
mengundang pesantren-pesantren beken seperti Lirboyo, Ploso dan lain
sebagainya. Jadi nanti acara ini dinamai bahtsul masail se-Jawa Timur.
Setelah bincang konsep ini-itu dan persiapan yang perlu dilakukan, Gus
Fakhri mengumpulkan kami untuk membahas “unek-unek” beliau. Dulu, beliau pernah
melakukan angket atau penelitian di masyarakat sekitar Nurul Jadid. Angket itu
menybutkan bahwa dhanya 40 % masyarakat desa karanganyar yang tahu soal
permasalahan darah. Selebihnya tak tahu dan tak mau tahu. Dari sini beliau
menyimpulkan bahwa penting sekali edukasi darah bagi masyarakat. Kejadian ini
dilakukan pada tahun 2017 lalu.
5 tahun-an berjalanan, saat Gus Fakhri menjabat sebagai Biro Lajnah Ta’lif
wa Naysr (LTN), beliau berpesan supaya Nurul Jadid bisa mengatasi permasaahan
ini. Kan, bagaimana ya ? Nurul Jadid, yang pada awal berdirinya tidak
bisa lepas dari masyarakat. Pesantren sebagai lembaga perubahan dan dakwah
masyarakat, Nurul Jadid sebagai pondok pesantren yang santrinya sudah ribuan,
masyarakatnya kurang mendapat perhatian dan ilmu pengetahuan.
Gus Fakhri berpesan supaya persoalan ini disampaikan pada pemangku dan
pemegang kebijakan kebijakan di daerah setempat. Supaya ada tindakan dari atasn
untuk semakin menggandeng masyarakat.
Dalam sebuah kesempatan penelitian itu, ada dialog seperti ini :
“saya tahu kalau keluar darah”, ucap seorang masyarakat.
“tapi tetap sholat bu ?”, jawab staff Ra Fakhri.
“tapi saya tetap sholat. Sholat seperti biasanya”, jawab masyarakat itu tadi.
“terus gimana ra ?”, tanya stafnya Ra Fakhri pada beliau.
“ya sudah, kita perbaiki pelan-pelan”, jawab Ra Fakhri.
Kejadian ini terjadi lima tahun lalu. Tahun ini, keadaan tentu tidak sama. Masyarakat
semakin tahu atau tidak, belum ada yang bisa memastikannya. Yang jelas, ada tanggung
jawab sosial dari kalangan orang berilmu. Yang ditakdirkan mendapat kesempatan belajar
ilmu agama oleh Allah.
Di Ma’had Aly Nurul Jadid saja, kajian darah haidh belum menjadi sesuatu
yang sering ditemui, lumrah dan kaprah. Kajian haidh sepertinya menjadi satu
bab fikih yang bila bab itu sudah dilalui, dianggap berlalu pula pemahaman dan
praktiknya.
Sebagai laki-laki, tentunya mempelajari ilmu darah wajib pula. Karena ia nantinya
akan menjadi suami dan kepala keluarga bagi suami dan putra-putrinya. Entah bagaimana
dan caranya, setidaknya bagian fikih yang satu ini, tidak bisa disepelekan
begitu saja.
Kencong, 19 Januari 2022.
0 Komentar