Trending

6/recent/ticker-posts

Tips Mudah Sekali Mengatur Hati Ala Gus Baha

Saya pernah mendengar dari seseorang, bahwa inti dari kita mengaji dan mengkaji itu mengatur hati. Bila diperinci keterangannya begini : intinya kita belajar apapun itu bagaimana supaya hati kita tidak merasa lebih baik daripada orang lain. Bagaimana supaya kita menerima keadaan. Tidak mengeluh. Bagaimana supaya hati kita bisa lapang, dalam kondisi dan situasi apapun. Bagaimana hati kita tidak tunduk pada syahwat, hawa nafsu dan hasrat duniawi. Bagaimana kita supaya berpikir positif, berprasangka baik kepada takdir tuhan. Seberat apapun situasinya.

Pun, tidak bisa dipungkiri pula bahwa ada yang menganggap mengatur hati itu sulit. ‘Nyeter ateh’ begitu kata orang Madura. Saya pun pernah menyangka bahwa mengatur hati, supaya tidak merasa lebih atau memandang buruk orang lain itu rasanya sulit.

Tapi, bagi Gus Baha’ itu semuanya tidak sulit. Ulama ahli Al-Qur’an dan Tafsir asal Rembang KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dalam suatu pengajian kitab bersama para santri pernah menjelaskan mudahnya mengatur hati.

“Asal mau mempelajari ilmunya Allah, insyaallah mudah.”

Baik. Itu kata kunci pertama: asal belajar ilmunya Allah (hakikat).

Sebagaimana firman Allah :

اِلَّا مَنْ اَتَى اللهُ بَقَلْبٍ سَلِيْمٍ

Artinya : Kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat. (Q.S.  Asy-Syu’ara’ : 89)

Cara membuat hati selamat itu mudah. Misalnya, saya alim. Sangat alim sekali. Atau siapa sajalah yang mendapat kelebihan dan anugerah. Kita semua tahu bahwa itu semua adalah kehendak Allah yang sudah ditulis di Lauh Mahfudz. Bagaimana mungkin saya bangga ? Toh, kita semua hanya diberi.

Diberi kepintaran. Dijadikan orang pintar. Dikasih kepintaran. Artinya, kita di depan Allah itu hanya dikasih dan diber aset. Kita sebagai makhluk yang pasif. Begitu pula sebaliknya. Kalau kamu bodoh itu juga ditakdirkan dan dikehendaki oleh Allah. Semuanya baik.

Baik yang bodoh atau pintar harus ridha dan menerima ketentuan Allah.

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ 

Artinya : supaya kalian tidak berputus asa atas apa yang terlewat pada kalian.

Agar orang yang bodoh, dan yang bergantung pada pemberian, dan lain sebagainya tidak putus asa pada nasibnya. Dan, bagi yang hidup mulia yang harus dipegang kuat-kuat ini :

وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَا اَتَاكُمْ

Artinya : janganlah kalian bahagia berlebihan sebab apa yang Allah berikan kepadamu.

Jadi jangan bahagia berlebihan, sehingga membuat kita jadi sombong. Begitulah maksud Allah menciptakan qadha dan qadar. Makanya tak heran bila ada orang alim itu hidupnya kayak orang biasa. Tidak mau sangat dan begitu dimuliakan. Tidak menuntut kepada santri dan umat untuk hormat kepadanya.

Dalam hal ini, Gus Baha; memang menyukai salaman. Hanya saja, rata-rata orang mencium tangan tiap kali salaman kan jadinya repot. Makanya, Abdullah bin Mas’ud itu tidak suka jika santrinya mencium tangan atau mendampinginya.

Ucapan Abdullah bin Mas’ud yang cukup masyhur adalah :

ذِلَّةً لِلتَّابِعِ وَفِتْنَةً لِلْمَتْبُوْعِ

 Artinya : sebuah bentuk kehinaan bagi pengikut dan bentuk fitnah bagi orang yang diikuti.

Penerapannya begini : orang yang mencium tangannya Gus Baha’ itu menjadi hina dan Gus Baha’ selaku orang yang dicium tangannya jika tidak mampu menjaga hati dari sifat sombong, ‘ujub (bangga diri) itu menjadi fitnah dan cobaan tersendiri baginya.

Tak heran bila Gus Baha’ sering menolak salaman. Dari seribu orang paling-paling ya dua orang yang salaman. “jangan banyak-banyak.”

Makanya, Abdullah bin Mas’ud mengatur hatinya tiap ada santri yang mendampinginya dengan berkata, “menjauhlah dariku.”

Gus Baha itu biasa naik bis atau sepeda motor sendirian. Ke Pati misalnya. Sesekali ketika mau mengisi pengajian di Sarang, juga biasa menggunakan sopir. Sesekali terhormat juga tidak apa-apa. Biasa saja. Tujuannya itu tadi, supaya menjaga hati. Kalau Gus Baha’ tidak mau sama sekali dengan penghormatan, berarti ia menyalahi sunnatullah bahwa orang alim itu mulia dunia-akhirat.

Tapi jika sebaliknya, terlalu mulia di dunia nanti malah menyebabkan bahaya. Hati jadi ‘ujub dan sombong. Bisa bangga diri. Ini penyakit hati. begitulah manusia. Hatinya mudah terbolak-balik. Sekali lagi, mari kita ingat-ingat ucapan Abdullah bin Mas’ud tadi.

Kehinaan bagi pengikutnya (terlalu nurut), dan bagi panutannya berpotensi jadi ujub.

Gus Baha saat ngaji dan ngajar kitab pada santrinya

Gus Baha’ lagi-lagi memberikan contoh begini, semisal ia menyuruh Rukhin (salah satunya santrinya) untuk menemani Gus Baha’ tidur. Kemudian Rukhin mengiyakan. Lalu, tiba-tiba menjelang waktu yang telah disepakati, Rukhin ada kepetingan mendesak. Semisal anaknya sakit. Sedang ia juga butuh dan ingin ‘main’ dengan istrinya. :D

Dan, ‘main’ dengan istrinya itu penting sekali bagi Rukhin karena hiburan satu-satunya adalah itu. Sehingga tidak jadilah Rukhin memenuhi janjinya kepada Gus Baha’ dengan sekian kepentingan dan alasan tadi.

Sikap yang seharusnya diambil oleh Gus Baha : tidak marah gara-gara Rukhin tidak menepati janjinya. Bila Gus Baha’ marah, berarti ia menyalahi hukum Allah. Bahwa kepentingan menemani Gus Baha’ itu lebih penting daripada mengurusi keluarganya Rukhin.

Padahal disisi lain, Gus Baha’ juga mengajarkan bahwa tanggung jawab dan mendahulukan keluarga itu penting sekali. Tapi bila Gus Baha’ menolak kehormatan sama sekali berarti ia juga menentang sunnatullah bahwa orang alim itu mulia dunia-akhirat.

“kuncinya itu tadi, latih! Jangan sampai umatnya Nabi jadi hina karena kita sebagai orang alim.”

Baik. Kata kunci kedua adalah : latihan dan terus latih. Supaya hat ini tunduk, pasrah dan mau menerima takdir Allah. Baik itu takdir baik dan buruk.

Kata salah seseorang yang saya tulis diawal kalimat tadi, “semuanya minta ke Allah cong. Kalau hati kita aghulih, (dalam artian merasa insekyur atau merendahkan orang lain, minta maaf kepada Allah. Istighfar.” Begitu.

Oleh karena itu, Gus Baha’ mengkritik kalau ada kiai yang rokok saja dibawakan. Kalau mau dinyalakan rokoknya saja, minta dinyalakan oleh santrinya. “kok ada kiai yang begitu ?”. kalau mau rokokan, tinggal hidupkan sendiri saja. Apa susahnya ?

Begitulah, kadang Gus Baha’ atau kiai-kiai lainnya tidak mau salaman ya begitu. Ingin menjaga hatinya. Yang masyhur tidak mau salaman itu Uwais al-Qorni. Beliau tidak mau salaman bukan karena mengharamkan. Beliau melawan dirinya sendiri, karena takut ujub.

Ada lagi contoh lain, semisal Syekh Abdul Qodir Al-Jailani itu kalau mengajar menggunakan kursi yang tinggi. Karena beliau ingin orang alim itu tinggi (derajatnya). Orang alim harus terhormat. Tapi banyak ulama yang mengajar seperti Gus Baha’ yang tempat duduknya dengan santrinya itu setara. Contoh lain model seperti Gus Baha’ itu Sufyan Al-Tsauri. Sebagai pengingat bahwa ia dengan santrinya atau umat Nabi lainnya itu setara.

Dalam pembahasan kitab-kitab pun, ada bab yang menerangkan bahayanya ilmu. Termasuk bahayanya ilmu itu membuat seorang alim jadi sombong. Sampai hal yang tidak penting, baginya dianggap penting lalu memarah-marahi santrinya karena tidak nurut. Padahal santrinya punya urusan yang lebih penting.

Ya begitulah. Jalani saja. :D. Semoga kita termasuk hamba Allah yang hatinya selamat dari berbagai penyakit hati.



Posting Komentar

0 Komentar