Trending

6/recent/ticker-posts

Belajar Mencintai Belajar


Ketika menjalani proses belajar, terkadang kita memiliki keinginan dan keidelan pada masa tertentu. Semisal mendapatkan nilai yang bagus ketika ujian. Atau aktif ketika berdiskusi dan masih banyak contoh lainnya. Ketika seperti itu, sangat manusia sekali kita bersedih. Murung. Lalu pikiran-pikiran aneh memasuki ruangan hati sehingga menyebabkan kendor semangat untuk belajar.

“biasalah. Proses belajar” kita coba membisiki telinga kita.

“namanya juga belajar, tidak semuanya mulus” sekali lagi kita dibujuk.

“ah, aku pingin tidur aja. Biar nanti bisa fresh dan semangat lagi,” kita semakin mendorong diri sendiri supaya bangkit lagi.

Kira-kira begitu. Tapi memang nilai dan capaian-capaian tertentu sebenarnya bukan tujuan utama. Proses menjalani sebuah pelajaran belajar itulah yang menjadi topiknya. Kadang kala, ketika ingin menyendiri, saya sempatkan untuk membuka youtube. Lalu mendengarkan ceramah gus baha yang isinya selalu mendorong umat untuk bahagia.

Bagaimana mau bersedih ? sedangkan segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini sudah ada yang mengatur. Apapun yang terjadi tentu sudah mendapat ACC, rekom atau izin dari sang maha kuasa. Jadi apa-apa, baik yang terlewat hingga capaian kebaikan yang kita lakukan sejatinya Dia yang menggerakkan. Yang menghendaki. Lalu, mengapa kita sedih berlarut-berlarut ?

Itu poin tentang kesedihan. Bila dalam kebahagian, misal kita meraih prestasi. Baik dalam duniawi maupun ukhrawi. Juara lomba se-nasional misalnya, atau bisa khatam satu juz tiap harinya hingga khatam. Capaian semua itu pada hakikatnya adalah Allah yang menjadikan kita pintar. Allah menjadikan kita mampu membaca al-Qur’an. Satu juz per hari hingga khatam dalam waktu sebulan. Lalu apa yang menjadikan kita sombong dan terlalu berbangga diri ?

***

Begitupula dengan keinginan menulis di blog ini. Wah, saya sudah merencanakannya beberapa hari lalu. Saya berdo’a. Mau nulis selalu ada halangan, ketidak mampuan, keterlewatan dan banyak alasan lainnya. Ya sudah. Mungkin takdir saya sudah begitu. Kalau tidak bisa menulis di blog serta mempostingnya, setidaknya saya menulis tipis-tipis di buku tulis. Menulis seadanya. Semampunya.

Dua hari ini saya mulai membaca disway.id. Sebuah media, semacam blog atau website-lah tempat bapak Dahlan Iskan menulis. Pak Dahlan, yang biasa dipanggil abah oleh banyak pembaca setia disway.id itu menulis setiap hari. Diusia yang tidak bisa dikatakan muda lagi, tapi semangatnya tetap muda. Saya membacanya supaya termotivasi menulis setiap hari.

Pembicaraan tulisan-tulisan Pak Dahlan tidak sepopuler Tere Liye, Ulil Abshar hingga Gus Dur di telinga saya. Tapi kaidah, “setiap karya memiliki penggembarnya masing-masing. Jadi jangan takur berkarya” selalu berlaku. Kaidah ini baru terlintas sekarang. Padahal sudah banyak diamalkan oleh banyak penulis dan para manusia yang gemar berkarya.

Para pembaca disway.id ternyata sangat banyak juga. Dalam satu tulisan, share dan komentar tulisan pak Dahlan biasa mencapai ribuan. Jumlah yang bagi saya tidak sedikit. Dalam dua hari ini, saya jadi tau permasalahan garuda. Sedang pailit. Lalu, ada istilah komisirasi hingga tulisan tadi membahas tentang Taliban yang menduduki negara Afghanistan. Saya jadi tau, presiden Asghanistan yang kabur ke negara tetangga tapi tidak diterima lalu pindak ke Amerika. Saya juga jadi tau, bahwa ge-nose, teknologi tes pendeteksi covid-19 itu temuan anak bangsa. Tepatnya dari universitas Gadjah Mada (UGM). Biayanya murah. Tapi tidak disambut dengan baik di Indonesia sendiri.

Dari perjalanan kegagalan demi kegagalan itu, setidaknya kita tidak patah semangat. Kata temanku, “aku pingin hidupku sepenuhnya adalah belajar. Kalau ada kegiatan organisasi atau ibadah, baik aku akan kesana. Setelah selesai aku kembali lagi untuk belajar”. Untuk semangat belajar seperti ini, aku mengistilahkannya sebagai : belajar mencintai belajar.

Kalau dipikir-pikir, kita yang ada di pondok ini sangat enak sekali. Banyak di luar sana jauh dari lingkungan belajar agama. Tapi aku disini, belajar agama, lingkungan penuh dengan pengetahuan dan ibadah. Sesekali males tak apalah. Yang penting masih mau berproses. Tidak memutuskan untuk marah dan murung selalu. Tidak menerima keadaan bila nanti kita punya harapan, ekpestasi dan keinginan justru malah tidak terjadi sebagaimana yang kita inginkan.

Gagal sekali, dua kali, tiga kali hingga berkali-kali pun tak apa. Asalkan masih mondok. Mau berproses memperbaiki diri. Kita belajar, supaya hidup kita tidak lepas dari belajar. Masih mau membaca buku dan kitab. Masih mau menerima nasehat. Masih mau membuka diri terhadap lingkungan. Meskipun proses ini tidak selalu mudah.

Posting Komentar

0 Komentar