| Foto Bersama :) |
Sore ini, kondisi tenang sekali. Rasanya semilir angin berhembus
menyejukkan. Diriingin alunan suara bacaan al-Q’ur’an menjelang maghrib. Syahdu
sekali. Ya Allah, aku sangat bersyukur, engkau selalu membuat hatiku bahagia.
Semoga aku termasuk orang-orang yang selalu bersyukur. Menggunakan nikmat,
karunia dan anugerah-Mu dengan sebaik-baiknya.
Juga, semoga aku tercegah dari pikiran aneh-aneh. Hidup tenang, bahagai dan
menyenangkan di Indonesia harus disyukuri sebaik-baiknya. Lihat berita, cerita
dan mendengar kabar dunia membuat hati ketir dan runyam. Padahal kalau lihat
kondisi sekitar, kehidupan berjalan baik dan normal-normal.
Kehidupan yang baik-baik saja saat ini, bisa saja akan gundah, gelap gulita
dan penuh dengan kekacuan. Bila kita lengah dari bersyukur, tingga menunggu
waktu saja. Negeri ini akan berubah. Tentunya, bersyukur dengan makna
seluas-luasnya.
***
Wah, kan, begini jadinya bila menulis tidak selesai dalam sekali duduk.
Tadi sekitar pukul 18.30, sambil menunggu rawuh-nya lora Imdad Rabbani
di aula mini, aku mulai menulis. Dapat 3 paragraf lebih. Tapi setelah keluar
sebentar, Ra Imada rawuh. Masuk. Dan, malam ini, menulis dengan konsep
awal akan amburadul.
Entahlah. Mau bagaimana lagi. Jadwal menulis untuk tanggal 21 sudah
berlalu. Malam ini dini hari, tanggal menunjukkan 22 Agustus 2021. Awalnya tadi
ingin membahas takhossus baru. Fan kaidah fikih. Dengan pertemuan, pengenalan
sejarah tumbuhnya ilmu ini. Hingga cerita ustadz aku yang ke mana-mana. Menambah
pengetahuan lain yang sangat menyenangkan sekali.
Cerita dan pertemuan tadi pagi aku catat di buku tulis. Tapi, saat
mengetiknya di laptop, buku itu tertinggal di aula mini. Sedang kepalaku sudah
mendapat asupan baru hasil dari akademik Ra Imdad tadi. Jadi ada dua tema.
Ingin kutulis. Ah, entahlah.
Aku berselancar di blog aku sejenak. Ternyata ada satu seri tulisan yang
belum aku selesaikan. Rubrik gedangsewu. Aku mau nulis : perjalanan pulang.
Mengenang saat-saat sebelum pulang ke rumah. Selamat membaca.
Jadi awalnya begini, berkisat tanggal 15-16 Ramadhan, aku berniat untuk
pulang. Karena kitab yang dikaji sudah khatam. Sebelum pulang, Mbah Badhowi
sudah bertanya-tanya terkait Ra Fahmi dan Nurul Jadid. Kiai Baidhowi ada
rencana silaturahmi ke Nurul Jadid. Ra Fahmi sekeluarga tepatnya.
“Di Nurul Jadid, kalau tanggal 17 Ramadhan, gerbangnya dibuka ?” tanya Mbah
Baidhowi.
| Pimpin Do'a |
Aku agak ragu-ragu. Itu waktu liburan santri. Tentunya ramai santri pulang
liburan (saat itu belum ada pandemi seperti ini). Kalau buka sih iya
tapi bagian keamanan dan ketertiba (KAMTIB) juga berjaga. Malah repot urusannya
kalau orang se-tua beliau masih berurusan dengan keamanan.
Oh ya, catatan: beliau ingin silaturahmi secara surprise. Kejutan.
Jadi beliau tidak mau menghubungi Ra Fahmi agar masuk Nurul Jadid mendapat
akses yang mudah.
Kemudian Kiai Badlowi tampak menganggukkan kepala. Serasa berpikir ulang.
Keputusan bepergian tentunya tidak hanya ditangan beliau. Ada Gus Yazid. Gus
yang paling keren dan kece. Yang selalu siap jadi asisten abahnya dimanapun dan
kapanpun. (jadi kalau mbah Baidlowi kemana-mana, selalu ada Gus Yazid ini yang
mendampingi). Kalau daerah dekat-dekat pondok, Mbah Baidlowi tak jarang
melakukannya sendiri atau minta tolong ke santrinya.
Beberapa jam berlalu. Percakapan tadi itu masih menggantung. Tapi inti
pembahasan mengarah pada: aku, Mbah Baidlowi dan Gus Yazid masih ada
kemungkinan ke daerah bagian timur Jawa Timur secara bersamaan.
Tiba-tiba saja, Mbah Baidlowi dan Gus Yazid memutuskan untuk pergi bareng.
Aku pulang. Dan, kebetulan mereka berdua ada tujuan yang sama. Masih sejalur.
Aku ke Jember. Mereka hendak ke Lumajang.
Karena ini berangkat bareng, akhirnya aku sam’an wa tha’atan terkait
perjalanan pulang ini. Gus Yazid memutuskan untuk naik kereta. Aku ditanya oleh
Gus Yazid mau duduk dimana. Nomer kursi mana. Aku duduk bersama Mbah Baidlowi. Mbah
Baidlowi meminta supaya duduk yang dekat pintu kereta. Kalau terlalu jauh dari
pintu, tidak enak ke orang-orang yang kita ganggu kenyamanan duduknya gara-gara
kita lewat disampingnya. Sedangkan Gus Yazid duduk bersama temannya. Jadi
selama pulang, nambah satu orang yang ikut. Temannya Gus Yazid.
Aku juga dipinjam KTP saat itu. Untuk registrasi pembayaran. Ternyata, Gus
Yazid juga yang membayari tiket kereta apiku. Aku berterima kasih saja. Aku
juga lupa berapa harga tiket Jombang-Jember.
Singkat cerita, kami-pun berangkat dari staisun Jombang. Kami menunggu
waktu berangkat cukup lama. Lebih dari dua jam sepertinya. Tapi aku tak ingat
persis dari jam berapa sampai jam berapa. yang jelas, Mbah Baidlowi tidak ingin
terburu-buru. Beliau menyiapkan segala kebutuhan dan persiapan dengan matang.
Akhirnya kereta tiba. Ketika baru masuk, aku duduk bersama Mbah Baidlowi.
Kereta berangkat. Sejak awal, Kiai Baidhowi sudah berpesan supaya jangan ada
yang merokok. Memang peraturan di kereta dilarang merokok. Tapi pelanggaran ?
siapa saja bisa berbuat. Dalam hal ini Mbah Baidlowi selaku kepala rombongan
sangat mewanti-wanti sekali.
Kereta-pun berangkat. Dengan ciri khasnya, Mbah Baidlowi mengamati keadaan
sekitar melalui jendela kereta. Beberapa rumah, gedung dan pabrik-pabrik
terlewati. Mbah Baidlowi pun angkat bicara. Tentunya menggunakan bahasa jawa.
“wong-wong iki podo bangun bangunan dukur-dukur. Lha nek mati gak
digowo” (orang-orang semuanya bangun bangunan yang tinggi. Nah, kalau mati
tidak ada yang dibawa)
Mendengar ucapan Mbah Baidlowi, aku iseng-iseng menjawab apa adanya.
“kan untuk pembangunan. Supaya islam berkemajuan.” Heheuy.. (tawaku
saat menulis ini)
“kemajuan opo ?” jawab Mbah Baidlowi. Tampaknya ia tak berkenan
melanjutkan percakapan dengan diskusi lebih intensif lagi.
| Khas |
Saat itu aku bingung juga, bagaimana mengukur standart kemajuan dan
kejayaan dalam islam. Aku sering terbawa romantisme kejayaan islam pada masa
silam. Kemajuan dan kejayaan islam memang dambaan semua orang. Tapi ketika
ditanya standar dan ukurannya, semuanya diam. Kata salah satu teman di
whatsappaku, pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa kita secara tidak
langsung dimasuki virus materialis.
Saat di kereta, ada sebuah kejadian. Berhenti sejenak di stasiun adalah hal
wajar. Biasanya diisi dengan makan. Untuk makanan, Mbah Baidlowi juga
mempersiap sejak di pondok. Jadi tak perlu bayar mahal-mahah beli di kereta.
Nah, setelahnya makan itu, temannya Gus Yazid ini ke pintu belakang. Di depan
kamar kecil gerbong.
Ia foto-foto. Bareng Guse tentunya. Aku ke situ sebentar. Ke kamar kecil.
Saat balik duduk di kursi semula, aku ditanya oleh Mbah Baidlowi. “Amri (anggap
saja itu namanya) mana ?”
“ada di belakang mbah,” jawabku.
Secara spontan Mbah Baidlowi ke belakang. Ternyata Amri itu terciduk.
Rokoan di dalam kereta. Wah, habis sudah riwayat hidupnya. Heheuy....
Maksudnya, Mbah Baidlowi marah besar saat itu. Aku sesekali melirik. Takut
menimbulkan kegaduhan di kereta. Kejadian ini usai. Kereta akhirnya pun sampai
di stasiun Lumajang.
Kira-kira, mengapa ke Lumajang ? ada keperluan apa?
Jadi, sesaat sebelum pulang cerita di atas tadi itu, Gus Yazid ditelpon
oleh salah satu temannya yang kenal di GedangSewu itu. Bahwa ibu dari temannya
Gus Yazid itu meninggal dunia. Mbah Baidlowi dan Gus Yazid diundang ke sana.
Disuruh mendoakan. Teman Gus Yazid yang pernah nyantri ke Mbah Baidlowi itu
ternyata adalah putra kiai di Lumajang. Aku lupa siapa namanya. Juga nama
pondoknya.
Kami sampai di Lumajang berkisar pukul 19.00 WIB. Sebelum diantar ke dhalem,
kami ziarah terlebih dahulu ke makam ibunda gus tadi. Selesai mengaji dan
berdo’a, perjalanan dilanjutkan ke dhalem. Jaraknya tak terlalu jauh. Namun
begitu, kami tetap naik mobil hingga masuk halaman rumah gus itu yang cukup
luas.
Sebagai tamu istimewa mungkin, karena jauh-jauh dari Kediri dan yang datang
adalah kiai, aku jadinya ikut kecipratan kemuliaan orang alim (kiai/Mbah
Baidlowi) ini. Aku juga diajak makan prasmanan. Kami sempat berbicang-bincang
sebentar dengan tuan rumah di ruang tamu. Kemudian pada titik intinya adalah
istirahat. Kamar khusus tentunya.
Kebetulan, ruangan istirahat itu ada wifinya. Aku main wifi sebentar.
Disuruh injak-injak Mbah Baidlowi sebentar pula. Lalu terlelap dan tidur
di kamar itu. Lega rasanya. Esok pagi sekali, setelah sholat shubuh, aku kemudian
diantar ke terminal Lumajang. Terminal yang tak asing bagiku. Tentunya sekalian
pamit dengan tuan rumah yang memegang kendali mobil, Mbah Baidlowi, Gus Yazid
dan temannya.
Aku berangkat naik bus, menuju perjalanan rumah berkisar pukul 05.00 WIB. Pagi
sekali. Matahari masih belum muncul sepenuhnya. Bus juga sepi. Hanya aku
seorang yang menjadi penumpang perdana. Sesampai di Tanggul, aku kemudian naik
ojek dan sampailah di rumah.
Setidaknya, dari perjalanan ini aku ceritakan pengalaman-pengalaman ini ke
orang tua. Juga, aku cerita perihal Gus Yazid yang bertanya tentang harga jas.
Ku perkenalkan pula, bahwa ayah adalah ahli jas. Ayah biasa membuat jas milik
kepala sekolah hingga Kiai Romzi. Tapi begitu, kualitas sekelas harga. Ayah tak
segan-segan menarik harga tinggi karena memang menjaga kualitas hasil dari jas
buatannya.
Baginya, membuat jas seharga setengah hingga satu juta itu sudah biasa.
Ketika ditanya harga buat jas oleh Gus Yazid yang rencananya akan ia gunakan
saat menikah nanti, aku jawab seadanya. “kalau ayah biayanya tidak tentu. Ayah
buat jas dengan harga satu juta itu pernah.”
“iya, nanti biasa buat jas ke Alfin kalau mau nikahan,” jawab Gus Yazid.
“Nggeh gus. Nanti aku bisa dihubungi,” jawabku.
Setelah aku ceritakan percakapan ini ke ayah, wajahnya tampak berubah.
Suaranya agak meninggi.
“Jangan nentukan harga kepada orang, nak. Kalau harga ke guru kamu
itu beda,” kata ayah.
Semenjak itu, aku tidak pernah menentukan harga jas pada siapapun yang
bertanya-tanya tentang jas. Bicara sendiri saja. Buat kesepakatan dengan ayah
langsung. Jangan lewat aku.
***
Barangkali, cukup sekian kisah aku nyantri ke Gedang Sewu. Ada niatan bisa
silaturahmi ke sana lagi. Entahlah. Meski kemungkinannya mungkin kecil sekali.
Bila takdir ? apa yang tidak mungkin. Terakhir, semoga keluarga Gedangsewu
beserta santri dan masyarakat yang pernah bermalam disana selalu mendapatkan
hidayah, kesehatan dan dalam perlindungan-Nya. Amiin. ~
22 Agustus 2021
0 Komentar