Masih dalam suasana hari raya kurban, hati ini masih terasa sendiri dan
sepi. Damai dan tenang sekali. Sesekali sempat bingung, tak ada gairah yang
menggebu-gebu. Semangat untuk mengerjakan sesuatu. Semua terasa datar dan biasa-biasa
saja.
Tapi ada rasa yang lain, yang tak bisa kututupi dalam jiwa, yakni mau ke
mana diri ini. Diri ini serasa masih bimbang. Tak teguh dan masih terbawa ombak
di bibir pantai. Mau kemana ? entahlah. Kunci sukses adalah mempertahankan
fokus.
Aku mau fokus apa ?
Bila nulis, aku mau nulis apa ? dan nanti fokus di bidang apa ? aku harus
bagaimana ? dengan fasilitias seperti ini, akankah aku lebih banyak menyendiri,
berpikir sendiri lalu menulis-nulis sendiri. Apakah nafsu ini sudah mati ? tentu
tidak. Aku masih ada keinginan, meski tak harus jadi yang paling jadi jagoan.
Dulu aku sering merasa sangat ‘wow’, ‘jagoan’lah, atau ‘orang penting’ dan
sebagainya. Intinya ada semacam rasa bangga lah. Tetapi seiring berjalannya
waktu, perasaan seperti itu tak boleh sama sekali. Kita harus belajar mengalahkan
nafsu, meredakan ego dan berusaha untuk tidak merasa paling ‘sesuatu atau istimewa’ daripada yang lain.
Menjadi biasa saja, bawahan dengan tim yang paling kompak barangkali
menjadi hal paling membahagiakan. Seperti di film statr-up, meski Dal-Mi
adalah ceo atau pimpinan perusahaan, ia tak ada apa-apanya bila dibandingkan
tim Nam Do-San.
Meskipun, tim Nam Do-San pernah bekerja di S2TO, sebuah perusahaan terkenal
di Amerika, dan mereka bekerja selama tiga tahu, tapi para pengembang ini perlu
atasan. Atasan yang tepat, dengan ide dan arahan yang baik adalah Seo Dal-Mi. Sejatinya
keduanya saling membutuhkan. Sepintar dan sepandai apapun para pengembang ini,
bila tidak diarahkan ke arah yang baik, maka usaha mereka tak baik pula.
Saat ini aku masih diamanahi sebagai pimred mahadaly.online. aku lebih
fokus pada pengembangan website Mahad Aly. Entah bagaimana arah media online
lembaga ini. Bila ada yang mau gantikan saya, saya sangat bersedia sekali. Tapi
mau bagaimana lagi ? aku yang memulai, aku pula yang harus menuntaskan ini. Aku
bisa, tapi tak sendirian. Tentu dengan kawan-kawan santri yang terjun sebagai
aktivis media online.
Disisi lain, aku adalah koordinator bagian literasi di Badan Eksekutif
Mahasantri (BEMs) Ma’had Aly Nurul Jadid. jadi divisi ini sebagai bagian tulis-menulis.
Setiap ada kajian, acara, hingga musyawarah akan ada dokumentasi tulisan. Jadi setiap
ada kegiatan BEMs, tidak ada yang berlalu begitu saja. Akan ada tulisan yang mendokumentasikan,
akan ada hikmah dan kesimpulan dari setiap kejadian.
Aku akan berusaha menularkan pengalaman kepenulisan saya. Mengajari cara
nulis yang baik, mengirim di media cetak maupun online bahkan hingga
mendapatkan cuan dari menulis. Secara tidak langsung, aku akan mengkader para
penulis. Sebagai penerus dan ganti saya pada masa selanjutnya.
Bagaimana hasilnya ? Wallahu a’lam.

0 Komentar