Setelah sekilas aku telah menulis narasi tentang kesan ngaji ke Kiai Imdad
Robbani, kini ku ingin bercerita tentang dosen baruku lagi, yakhi pak Temmy
Wijaya. Awal masuk mata kuliah adalah pada hari ahad, 27 Juni 2021.
Saat itu sedang ada pengajian Ihya’ Ulumiddin. Sebuah kitab yang sangat
sakral di kalangan pesantren. Pengampunya tentunya bukan sembarang ustadz atau
tenaga pengajar biasa. Beliau merupaka K. Muhammad al-Fayyadl. Mudir Mahad Aly
Nurul Jadid.
Berkisar pukul 06.00 WIB, teman-teman semester lima dipangggil untuk masuk
kelas pak Temmy yang bertempat di kantor
Mahad Aly Nurul Jadid. Aku masih saja santai-santai. Ke kamar dan tak langsung
pergi ke kelas akademik.
Akhirnya, aku pun telat. Beliau sudah memulai perkenalan. Aku telat
beberapa menit. Jadi aku tak tau secara detail profil pak Temmy sebagaimana
perkenalan pertemuan perdana. Yang jelas, pak Temy sudah terkenal sebagai dosen
praktisi yang sudah melanglang buana di dunia keuangan dan bank di Indonesia.
Pak Temmy mengampu mata kuliah bursa efek syariah. Ia menerangkan materi
demi materi dalam bentuk power point. Awalnya, pak Temmy mengajarkan tentang
apa itu bursa, efek dan syariah. Kemudian menjalar hingga bab demi bab yang dirasa
penting.
Menariknya, pengajaran pak Temmy dapat membuat saya (entah kalau
teman-teman yang lain) untuk penasaran. Tertarik menyimak dengan seksama.
Mencatat poin demi poin yang aku rasa penting. Pak Temmy sangat terbuka sekali.
Ia menyilahkan kepada para mahasiswanya untuk bertanya apa saja. Bahkan, ia
juga mempersilahkan kepada kami untuk bertanya tentang hal-hal seputar bursa
efek. Bisa tentang personal branding, mencari jodoh, hingga ia juga
mengungkapkan akan menjadi dosen 24 jam. Ia akan menjadi mentor, meski melalui
chat dan media virtual.
Sebelumnya, aku memang mempunyai ketertarikan tentang dunia keuangan.
Tentang bitcoin, investasi dan lain-lain. Keinginan ini bermula saat aku
menonton sebuah video yang menjelaskan tentang seorang pemuda, berusia 20
tahunan, sudah menghasilkan uang satu milyar.
Aku menontonnya di chanel youtube milik Raditya Dika. Nama pemuda itu
adalah Timothy Ronald. Setelah itu, aku beberapa kali berselancar di dunia maya
menelusuri tentang Timothy Ronald hingga ternak uang. Sebuah aplikasi yang ia
buat untuk mencetak 1000 investor di Indonesia.
Kebetulan, pada mata kuliah pak Temmy, pembahasan ngalor-ngidul bahas
tentang investasi. Kapasitasnya sebagai dosen praktisi, pemabahasan teori yang
seakan-akan njlimet menjadi mudah sekali. Sebelum memulai slide baru,
pak Temmy selalu mempersilahkan kami untuk bertanya. kami banyak bertanya. Pak
Temmy menjawab dengan penuh semangat.
Kata pak Temmy, “saya selalu lupa waktu bila mengajar dan para murid saya
semangat juga”
Ketika mengajar, pak Temmy selalu berdiri. Sesekali duduk untuk minum kopi
dan makan pisang goreng yang disediakan oleh pengurus Mahad Aly. Ia juga
bercerita, ketika di UNUJA pun, ia mengajar juga berdiri.
Bayangkan saja, selama sehari kurang lebih pak Temmy mengajar di Mahad Aly
dari jam enam sampai jam delapan. Lalu berlanjut ke Unuja berkisar pukul
sembilan sampai jam dua belas. Lanjut dari jam satu hingga jam empat. Kemudian
mengajar kami lagi mulai pukul delapan hingga setengah sebelas. Kira-kira
selama 10 jam lebih ia sudah berdiri untuk mengajar.
Waktunya yang selalu sibuk, beberapa jabatan penting seperti salah satu
bagian satgas Covid-19 Surabaya, membuatnya mengajar selama berturut-turut.
Selama dua hari lalu, yakni hari ahad hingga senin, ia mengajar kami sebanyak
tiga pertemuan. Satu pertemuan minimal dua jam.
Mumpung ke Nurul Jadid, sekalian materi sebulan ia tuntaskan sekaligus. Di
sela-sela mengajar, ia juga bercerita bahwa biasa diundang untuk kuliah tamu
atau seminar di Blokagung-Banyuwangi, Sukorejo dan lain-lain. Ketika mendapat
telfon untuk mengisi acara seperti, pak Temmy biasa mendapat honor kisaran 100
juta. Seratus juta bukanlah angka yang kecil bagi kami yang masih nyantri.
Pak Temmy juga becerita, perjuangannya dulu dari bawah (nol). Ia dulu
pernah bekerja sebagai tukang yang mengisi uang di bank. Sebuah pekerjaan yang
paling bawah di bank. Namun, ketika ada kesempatan promosi jabatan, ia
mengikuti event itu di perusahaannya. Dari empat orang yang ikut, hanya pak
Temmy yang lolos.
Setapak demi setapak, karir pak Temmy semakin meningkat. Gajinya sedikit
demi sedikit mulai bertambah. Pak Temmy sangat menjaga integritas. Setiap
proses ia jalani dengan sabar dan senang hati. Sayangnya, pak Temmy tak
menjelaskan sampai akhir perjalanan panjang menjadi praktisi keungan sebesar
ini.
Ada lagi cerita yang ia sampaikan. Saat pak Temmy menjabat sebagai ketua
tim untuk memperoleh investasor atau nasabah di sebuah perusahaan di bursa
efek. Entah apa itu jabatannya. Saya lupa. Yang jelas, pak Temmy menjadi
ketuanya.
Untuk menggaet para investor itu, pak Temmy punya strategi jitu. Pada mulanya,
pak Temmy menyuruh timnya untuk mendata para orang kaya yang memiliki ketertarikan
untuk menjadi investor. Target yang ditetap perusahaan sebanyak 500 investor,
tapi pak Temmy mendata sebanyak 1000 investor.
Pak Temmy mengundang makan malam dan acara seremonial lainnya di sebuah
hotel berbintang lima di kawasan Surabaya. Makan malam tersebut gratis. Bayangkan,
siapa yang tidak mau hadir ? makan gratis di hotel berbintang lima. Semua fasilitas
di tanggung oleh tim dari pak Temmy.
Sebanyak 1000 investor yang pak Temmy undang, sekitar 700-an yang hadir. Hebatnya,
setelah mendapat peluang bisnis dan investasi kepada perusahaan bursa efek
milik pak Temmy, sebanyak 600-an orang tertarik menjadi investor. Jadilah, pak
Temmy beserta timnya mendapatkan 600-an nasabah hanya dalam semalam.
Terakhir, ada banyak penjelasan, kesan dan cerita yang ingin saya sampaikan.
Doakan saja supaya saya dapat menulis secara konsisten (istiqomah). Artikel selanjutnya,
saya ingin membahas pertemuan terakhir pada hari itu, saat teman-teman yang
lain sudah kembali ke kamar masing-masing.
Aku dan beberapa musyrif Mahad Aly duduk melingkar menemani pak Temmy. Pak Temmy
bercerita tentang covid-19. Selain praktisi keuangan, sebagaimana aku singgung
tadi, ia juga bagian dari satgas Covid-19 Surabaya.
Selain itu, aku juga mau bahas soal apakah Indonesia bisa terjual ke negara
asing atau tidak? Bila kita lihat Indonesia memiliki banyak utang ke luar negeri.
Triliunan lagi. Lalu bagaimana solusinya ? bagaimana peran kita sebagai anak
muda untuk melunasi hutang Indonesia. Artikel ini akan membincang soal politik
di Indonesia.
Ngomong bareng orang berilmu plus berpengalaman memang beda. Isinya daging
semua. Ingetin ya kawan dan para pembaca blogku ini supaya aku nulis soal dua
tema ini. Semoga tidak lupa dan gak terlalu lama.
Oke. See you next time.

0 Komentar