Mendapat bagian kuliah dengan dosen favorit adalah hal yang sangat menyenangkan. Kita barangkali punya kriteria-kriteria masing terkait dosen favorit. Tapi bagi saya adalah dosen favorit adalah mereka yang mendalam ilmunya, terbuka dengan pendapat dan pertanyaan siapa saja dan tentunya mampu memancing peserta didik untuk berpikir terbuka.

Bahkan saat suatu akademik, saya berpikr untuk dapat merekam suara penjelasan beliau. Harus saya akui bahwa mencatat dalam pembelajaran itu baik, tapi sulit sekali untuk detail. Mungkin kita akan mencatat hal-hal yang penting, poin-poin utama dan itupun masih banyak penjelasan kecil tapi sangat bagus dan bernas sekali.

Kalau kita punya rekaman suaranya kan enak ? bisa kita dengarkan kapan saja. Mengulang kembali petuah-petuah para alim yang mengajar para mahsantri disini.

Barangkali ini benar bila ada orang yang mengatakan bahwa orang pendiam dan tidak masyhur dikhalayak umum itu layaknya mutiara. Ia menyimpan sesuatu sangat berharga sekali. Sekali ia menampakkan diri, orang-orang akan berebut untuk mengambilnya.

Begitupula dengan salah satu dosen kali ini. Sosok yang sangat tawadhu’, tidak mau diekspos media, tapi mendalam ilmunya dan terbuka terhadapat pertanyaan peserta didiknya. Hal ini sangat terbalik sekali dengan penjelasan beberapa teman yang ngampus (non-Mahad Aly) tapi dosennya adalah orang yang ekslusif. Mereka memincingkan alis pada muridnya yang kritis. Alih-alih dibimbing, ia malah menjatuhkan semangat belajar muridnya.

Ada banyak poin utama. Ada banyak catatan. Tapi pada artikel ini, saya akan menulis dua poin penting akademik pada malam itu.  Pertama, terkait pesan beliau bahwa dalam menjelaskan teks bahasa arab seperti kitab kuning, jangan pandang sebelah mata undang-undang nahwu. Penggunaan kata bahasa arab dalam ilmu nahwu itu memiliki makna tersendiri.

“Urutan nahwu dari sebuah teks bukan tidak ada maknanya. Penggunaan kata sesuai nahwu menggambarkan alur logika orang yang menulis” kira-kira begitu dawuh beliau.

Kesempatan sebelumnya beliau juga bilang, “mantiq (ilmu logika)-nya orang arab itu nahwu”.

Jadi ketika sang mushonnif menulis menggunakan huruf fa, wa dan penggunaan diksi bahasa arab tertentu, maka hal tersebut menggambar alur pikir dan logika dari sang pengarang kitab. Oleh karena itu, penting sekali bertabahhur (menyelami) ilmu nahwu dan sharaf.

Alasannya kenapa ?

“semakin tidak matang ilmu dasar seseorang, maka semakin besar potensi memahami syariat seseorang”. Karena syariat atau ajaran-ajaran agama islam itu bersumber dari bahasa arab, maka mengetahui ilmu alat adalah sebuah kepastian yang tidak bisa diganggu gugat.

Poin kedua adalah pentingnya menjadi pembelajar sejati. Menjadi manusia yang selalu belajar setiap saat. Sepanjang waktu. Sepanjang hidup. Sebagaimana ucapan yang sangat masyhur di telinga kita, “carilah ilmu sejak dalam kandungan hingga ke liang lahat”.

Ketika sesi pertanyaan dibuka, beberapa mahasantri-pun bertanya. Tentunya tidak semua pertanyaan dan jawaban saya terangkan disini. Ini bukan saatnya laporan kuliah atau liputan berita. Tapi ini adalah esai. Sekelumit narasi bersifar subjektif dari penulis.

Terdapat sebuah penelitian, begitu kira-kira beliau mengawali ceritanya, bahwa di atap gedung pencakar langit diletakkan sebuah bayi (yang sudah bisa berjalan) dan seekor anak kucing. Seekor anak kucing, ketika mendekati area pinggir gedung, secara naluri akan menghindar. Berbeda dengan bayi tersebut. Bayi tersebut tidak akan menghindar dan menahan langkah saat mendekati ujung lantai.

Hikmahnya apa ? manusia harus belajar. Karena untuk mengetahui benar dan salah, baik dan buruk itu manusia harus belajar. Kebutuhan manusia belajar itu dzatiah (intern). Persoalan yang sangat fundamental sekali.

Di sisi lain, sebagai manusia yang hidup dengan banjir informasi yang sangat beragam, daya kritis untuk memfilter informasi itu sangat perlu sekali. Tapi, bukankah hal itu sangat sulit bukan ?

Maka dari itu, kita perlu bertanya. Memang harus bertanya. Dalam konteks keagamaan, islam adalah agama yang tidak pernah takut dengan pertanyaan. Karena bila kita baca dan pahami kitab-kita ulama salaf, penjelasannya sangat rasional sekali.

Jangan takut berpikir. Berpikir se bebas-bebasnya asalkan dengan ilmu. Dari sini kita akan beranjak kepada kesimpulan pentingnya musyawarah. Maksimalkanlah waktu kita, apalagi yang ada di pondok ini. Bila kita berhenti belajar, berarti kita berhenti menjadikan diri manusia.

So, Mari menjadi manusia pembelajar.

*Alfin Haidar Ali, Mahasantri Mahad Aly Nurul Jadid. Biasa menulis artikel keislaman di media sosial. Bisa dihubungi via ig : alfinhaidarali179.