Acara ini akan diselenggarakan pada hari rabu malam kamis (10/03) ini. Bertempat di aula 1 PP. Nurul Jadid. Acara ini termasuk dalam rangkaian kegiatan Haul Masyayikh dan Hari Lahir (HARLAH) PP. Nurul Jadid ke 72. Ditunjuk sebagai sekretaris, sedikit-banyak saya tahu alur acara ini diadakan perdana kali.
Dalam khazanah per-bahtsul masail dan diskusi kitab kuning-an Nurul Jadid, setidaknya kita bisa runut sejak tahun 2003 silam. Dengan Bpk. Musthofa Syakur sebagai orang yang pertama kali berkecimpung dalam dunia ini. Sejak bulan februari, saya dan teman-teman di Mahad Aly sempat bolak-balik ke rumahnya. Kebetulan, rumah Pak Musthofa cukup dengan wilayah Mahad Aly.
Saya tidak tahu pasti bagaimana perjuangan, jatuh-bangun hingga sepak terjang Pak Musthofa berkhidmah di dunia Bahtsul Masail (BM) Nurul Jadid. Yang jelas, pada tahun 2010 baru ada anggaran untuk BM di Nurul Jadid. Hingga pada tahun 2021 ini, saya baru mendengar kabar bahwa ada biro baru. Sebuah bagian kepengurusan di kantor pesantren yang membidangi Bahtsul Masail. Biro tersebut bernama Biro Lajnah wan Nasyr (LTN). Dan sampai detik ini, belum ada struktural terbentuk. Hanya saja, biro itu sudah dipilih kepalanya, yakni Gus/ Lora Mohammad Fakhri NCZ.
Pada awal bulan Feburari 2021, beberapa teman saya di Mahad Aly ingin mengadakan Bahtsul Masail di Nurul Jadid. Dengan pengurus-pengurus wilayah sebagai pesertanya. Rencananya kegiatan ini dilaksanakanan pada bulan Februari akhir. Agar acara tidak mepet tidak dengan acara Harlah.
Saya yang diajak dalam rencana pengadaan kegiatan itu, akhirnya ikut ke Pak Musthofa. Konsultasi: bagaimana enaknya kegiatan Bahtsul Masail ini. Saat itu, kami belum tahu bahwa kepengurusan bagian Bahtsul Masail sudah diambil alih oleh ra Fakhri. Akhirnya, kami-pun disuruh koordinasi dengan Lora Fakhir. Tapi karena kepengurusan (bawahan) Ra Fakhri belum terbentuk, akhirnya konsultasi (koordinasi, red) ini sekadar mematangkan konsep BM. Ujung-ujungnya, kami pun disuruh koordinasi lagi dengan Pak Musthofa terkait rencana BM se-Nurul Jadid itu.
Sampai titik inilah, jadi tidaknya acara ini melai buram. Tidak ada tanda-tanda kegiatan BM ini akan berlanjut. Disisi lain, beberapa aktivis BM Mahad Aly sudah mendapat tiga undangan pada minggu terakhir bulan februari itu, yakni ke Madura, Kraksaan dan Probolinggo. Jadi, wajar bila seandainya acara ini tidak akan ada. Setidaknya dalam prasangka santri Mahad Aly.
Prasangka itu mulai sirna ketika ra Fakhri mulai mempertanyakan kejelasan lanjutan dari acara ini. Beberapa kali ra Fakhri menyambung komunikasi dengan santri Mahad Aly. Bila ada santri Mahad Aly yang pernah matur ke beliau, biasanya akan ditanyakan secara langsung. Bagaimana kejelasanDi sisi lain, pak Musthofa juga mengabarkan bahwasanya acara BM ini jadi. Untuk dana yang belum teranggarkan, karena acara ini masuk dalam rangkaian Harlah dan ra Fakhri sendiri yang turun tangan, sehingga mau tidak mau dana untuk acara BM ini harus ada.
Ada dua opsi konsep kegiatan ini. Pertama, acara musyawarah kitab ini akan sama seperti konsep awal, dengan peserta musyawarah adalah para pengurus di wilayah. Kedua, mengundang Forum Kajian Pondok Pesantren se Probolinggo (FKPP-Pro). Forum ini merupakan forum kajian kitab fathul qorib yang pesertanya pesantren-pesantren yang ada di Probolinggo.
![]() |
| Potret FKPP-Pro Yang Pernah Dilaksanakan di Nurul Jadid. Sumber: NurulJadid.Net |
Terdapat 60-an pesantren yang terlibat, tapi sekitar 40-an pesantren yang aktif . Jadi, sistem disukisnya begini: ada satu orang dan satu moderator di depan yang bertugas menjadi penyaji. Dan ini biasanya giliran antar pesantren. Begitupula yang akan menjadi tuan rumah, biasanya akan berpindah-pindah dari tiap musyawarah ke musyawarh. Oh ya, FKPP-Pro ini acaranya sebulan sekali ya. Dan sudah masyhur pula, bahwa acara diskusi, musyarawah dan kajian kitab di Nurul Jadid ini sangat ditunggu-tunggu sekali. Karena menurut mereka, pelayana -terutama prasaman- sangat istimewa sekali.
Bagaimana tidak, setiap ada acara BM, keluarga pengasuh sangat antusias sekali. Bahkan, Nyai Bisyaroh (isteri dari pengasuh Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini) bila mendengar kabar ada acara BM di Nurul Jadid bilang kepada panitia, "Sudah, saya yang nanggung bagian konsumsi dan prasamanan-nya. Kalian jangan kepikiran."
Sehingga, sempat terdengar isu dan kabar yang belum pasti kebenaranya akan ada acara FKPP-Pro di Nurul Jadid, tak sedikit pesantren yang menyanggupi akan hadir. Padahal pada bulan maret ini, rencananya FKPP-Pro libur terlebih dahulu. Mengingat kebanyakan kegiatan pesantren, bila sudah memasuki bulan rajab, akan ada banyak ujian dan sebagainya.
Tapi, setelah beberapa pengurus bagian BM yang lama, seperti Pak Misbah, Pak Musthofa, Ust. Hidnul juga dengan dua Lora muda Nurul Jadid: Ra Fakhri dan Ra Roik (Gang K), selain itu dengan santri-santri Mahad Aly, akhirnya mengadakan rapat di kantor Mahad Aly. Menyamakan persepsi dan menge-fix-kan model acara yang akan diadakan nanti.
Memang, Ra Fakhri mengajak Ra Roik untuk ikut andil dan terlibat sebagai aktor dibelakang layar. Sebenarnya, Ra Fakhri juga mengajak Ra Barizi (menantu Alm. Kiai Romzi) untuk ikut terlibat pula. Akan tetapi, beliau kebetulan ada agenda bepergian keluar kota. Jadi, beliau memasrahkan masalah ini kepada santri-santri Mahad Aly.
Selain itu, Ra Fakhri juga melibatkan Ust. Hisnul (pengurus Wilayah Diniyah) juga Ust. Alaik (Pengurus MAK). Kedua pengurus ini sama-sama murid dan pernah mengaji kitab kuning secara langsung pada ra Fakhri. Tapi, karena Ust. Alaik ini bukan aktivis BM di Nurul Jadid, jadi ia sekadar sam'an wa tha'atan. Bila ikut rapat, ayo. Bila tidak, boleh-boleh saja. :D
Rapat saat itu berlangsung ba'da dhuhur hingga menjelang pukul empat sore, akhirnya diputuskanlah acara dengan model NGOPI yang akan saya pada artikel berikutnya. Ternyata, rapat tidak berhenti disini. Imam Thobroni (Roni), selaku ketua panita, diajak oleh ra Fakhri mendata pengurus-pengurus yang akan mengikuti acara ini di Gang K.
Supaya acara ini tidak didominasi oleh santri Mahad Aly, turut terlibat aktif pula, langkah demi langkah acara NGOPI ini adalah Ust. Hisnul. Ia juga ikut ke Gang K. Berkisar pukul sebelas malam, Roni baru sampai di Mahad Aly.
Hari-hari berikutnya, hari-hari penuh rapat, pergerakan dan perubahan. Waktu yang biasa kami gunakan tidur, santai-santai dan belajar yang teratur, harus kocar-kacir. Kami harus menyesuaikan diri. Apalagi ini dibawah naungan Ra Fakhri. Salah seorang keluarga pengasuh. Sebagai santri, tentunya kami tidak mau tidak mengindahkan petuah dan arahan beliau.
Akhirnya, dengan niat mengabdi dan berproses, satu per satu kawan kami yang biasa bergelut dengan musyawarah kitab kuning seperti ini, kami ajak untuk berpartisipasi. Mulai dari Mustain Romli. ia memang aktivis bahtsu senior, bukan hanya di Mahad Aly, tapi di Nurul Jadid. Jadi, posisinya dalam acara ini sebagai konsultan (untuk menghindar dari kecangkolangan). hehe. Ada Lutfillah, Muzayyin, Faiq Julia Iqna'a, Nur Syamsi, Farhani dls.
Ra Fakhri bahkan sampat beberapa kali datang ke Mahad Aly langsung. Mengawal acara ini. Beliau sangat antusias dan semangat sekali. Sempat, suatu ketika pada malan selasa, saat akademik. Berkisar pukul 21.00 Wib. Ra Fakhri datang ke Mahad Aly. Dan salah seorang santri memanggil roni, dan saya tentunya (karena saya sebagai sekretaris) langsung menghadap beliau.
![]() |
| Dari kiri: Lora Fakhri, Pak Arif, Lutfi, Mustain, Saya Sendiri. Foto: Roni. |
Ditemani dengan Mustain, Lutfillah yang menyusul kemudian, Pak Arif (selaku panitia Harlah) berada di Musholla saat itu juga. Pada malam itu pula, kami membahas susunan panitia, agenda acara, taksasi dana, tata letak meja peserta, perumus hingga mushohhih, serta penentuan siapa saja yang ditunjuk menjadi perumus dan mushohhihnya, hingga kop suratnya pun diurus pada malan itu pula.
Majelis berakhir pukul 00.00 dini hari. Karena acara ini dalam rangkaian harlah, jadi kop suratnya harus kop surat harlah. Saat itu, kami tidak memilikinya. Harus meminta terlebih dahulu pada panitia Harlahnya. Tapi, entah mengapa, kop surat itu tidak segera terkirim.
Kemudian, dengan nada yang sedikit diplomatis, saya bilang pada ra Fakhri, "Kop suratnya masih belum dikirim. Mungkin besok saja. Besok kami akan matur lagi."
Akhirnya, beliau mengiyakan. Sedikit cerita sebentar. Lalu beliau pun pulang menggunakan kendaraan mobil. Kami pun leyeh-leyeh sebentar. Tak lama kemudian, setelah tidak menemukan nasi karena lapar malam-malam, saya melanjutkan tidur. Eit, saat itu kop surat sudah dikirim. Saya menunda memasang kop surat itu pada esok hari saja. Waktu sudah malam.
Keesokan harinya, berkisar pukul 09.30, Hadam ra Fakhri, Agil namanya sudah ada di Mahad Aly. Menjemput kami. Menanyakan kejelesan kop surat yang tadi malam. Wah, saya cukup terkejut. Saya langsung bergegas makan dan tentunya, memasang kop surat.
Akhirnya, kami (saya dan Roni) ke dhalem (rumah, red)nya ra Fakhri dibonceng hadam beliau. Disana, selain menyerahkan file kop surat Harlah yang resmi, kami membahas taksasi dana lagi. Pada tadi malamnya, taksasi dana ini sudah dibahas. Total Rp. 750.000. Tapi, beliau minta digenapkan menjadi satu juta rupiah.
Angka tersebut masih dianggap murah oleh panitia harlah. Karena ini dalam rangkaian acara harlah. Ulang tahunnya pesantren, tentu tidak sedikit anggaran yang dipersiapkan. Ketika panitia harlah, khususnya bagian konsumsi, yakni pak Ali mengetahui anggaran acara kajian kitab kuning 'hanya' sebesar demikian, akhirnya ia sendiri yang mau matur ke Nya Bisyaroh.
Sampai sekarang, saya tak tahu dan tak bertanya-tanya perihal dana itu. Sebagai santri, utamanya panitia, tentunya berharap agar acara NGOPI ini berjalan dengan lancar. Lancar dalam artian, kajian kitab kuning di Nurul Jadid semakin ramai dan semarak.
Dalam suatu kesempatan, Ra Fakhri bahkan pernah bilang, bahwa rencananya acara NGOPI ini akan diadakan setiap seminggu sekali. Untuk pertimbangan dan sebagainya, tentunya semua saya pasrahkan pada pembaca.
Sekian.



0 Komentar