Trending

6/recent/ticker-posts

Menulislah Dengan Senang Hati

Ditengah-ditengah kesibukan mempersiapkan acara musyawarah kitab kuning dalam rangkaian Haul dan Harlah Pondok Pesantren Nurul Jadid ke-72 ini, saya meluangkan waktu untuk menulis. Sebenarnya mau menulis status di Facebook, tapi ada semcam perasaan takut dibilang jelek perihal tulisan. Jadi saya urungkan. Dan berhari-hari tidak menulis di media sosial.


Padahal, bila bicara terkait sharing kepenulisan, saya sering mengatakan: "jangan takut salah, karena takut itu salah" atau "Menulislah dengan jelek". Meskipun adagium diatas biasa saya perbincangkan dengan kawan-kawan atau adik kelas saya, tapi justru saya sendiri yang mengalami perasaan "takut salah dan dibilang jelek itu".


Baiklah. Saya ambil hikmahnya saja. Beberapa kali saya mencoba untuk menaklukan rasa insecure ini. Tapi, entah setelah berapa minggu, barangkali baru hari ini (rabu, 03 Maret 2021) baru teralisasi. Bismillah. Semoga saja. Dari kejadian ini, setidaknya kita dapat mengambil pelajaran: bahwa seperti pekerjaan-pekerjaan lain, menulis tidak semudah yang dibayangkan. Bolehlah kita pernah menulis status, caption hingga sering menulis chat dengan si doi, tapi menulis dengan konsisten dan totalitas, tentu tidak semua orang mampu melakukannya.


Sebagai santri, bila dilihat dari sudut pandang religius, kemampuan dan daya tahan menelurkan tulisan dan karya-karya lainnya harus disadari bahwa ini semuanya merupakan anugerah dan karunia Allah SWT. Sangat ceroboh sekali bila orang yang menganggap bahwa ia dapat melakukan sesuatu, berjasa ini-itu, itu merupakan murni karena usahanya saja. Tidak ada unsur kekuasaan dan kemurahan tuhan.


Hah..Begitulah.


Jadi saya putuskan untuk menulis di blog. Sebuah rumah memposting tulisan saya, tanpa harus diketahui khalayak. Orang bebas berkunjung kesini, tapi tidak semua orang mengetahui dan selalu berkunjung ke blog saya ini. Selain blog ini tidak terkenal sama sekali, saya juga jarang posting. Seandainya posting tulisanpun, barangkali hanya sedikit yang membacanya. Sekali lagi, ini salah satu strategi saya untuk menghilangkan rasa takut dan salah itu. Toh, ini blog saya. Silahkan berkunjung dan membaca. Bila tidak berkenan, tutup saja blog ini dan kembalilah ke aktivitas anda yang menyenangkan lainnya.


Sebagai orang yang suka menulis, ada banyak hal yang sebenarnya ingin saya tulis setiap hari. Seperti Dahlan Iskan yang menulis setiap hari dilaman https://www.disway.id/-nya. Begitulah, sebagai pemula saya harus mencoba dan proses setiap hari agar dapat konsisten menulis setiap hari. Menulis dengan cepat dan mengetahui banyak hal disekitar secara komprehensif (menyeluruh).


Terkadang, saya bertanya pada diri sendiri, mengapa saya tidak sering menulis seperti dulu lagi? Bagaimana agar produktif seperti kiai Romzi, Dahlan Iskan dan Ulama-Ulama islam kita, Imam ath-Thobari misalnya, -kalau tidak keliru- yang menulis sebanyak empat puluh halaman setiap harinya?


Beberapa kemungkinan jawaban saya ajukan pada diri saya sendiri. Semakin banyak alasan, ternyata semakin membuat saya tidak menulis apa-apa sama sekali. Tapi, diantaranya beberapa jawaban itu, saya jadi ingat bahwa saya pernah memiliki buku kliping esai As. Laksana. Dulu ketika masih duduk dibangku aliyah, saya ngefans berat dengan esai-esai As. Laksana. Terkadang, bila kolom tulisan yang biasa terbit setiap hari minggu di koran Jawa Pos ternyata diganti dengan tulisan dari penulis esai lain, biasanya saya merasa kecewa. Ah, padahal saya ini mau baca tulisannya pak Laksana.


Menjelang kelulusan, sedikit demi sedikit tulisan As. Laksana saya kliping. Saya kumpulkan, foto copy dan saya cetak. Cetakan foto copy itu yang saya bawa ke rumah hingga di pondok meneruskan kuliah di Mahad Aly Nurul Jadid. Bentuk kliping asli esai-esai itu saya berikan ke Asrama Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAK), di bagian Badan Pers-nya. BIP namanya. Badan Informasi dan Penerbitan. Saya suruh mereka buat sampul dan cetak sendiri.


Setiap kali mau menulis, saya membaca kembali esai-esai As. Laksana. Tulisannya enak, gurih dan renyah. Tidak membosankan dan monoton. Untuk mencari inspirasi ide dan gaya tulisan, saya membacanya, kemudian menulis gagasan dan wacana yang dikepala saya sendiri. Setiap kali saya badmood dan malas untuk menulis, saya membuka kembali buku kliping As. Laksana itu. Alhamdulillah, semangat menulis saya tumbuh lagi. Meskipun sekadar menulis di diary. Memang, penulis piawai seringkali menyihir pembacanya supaya tidak bosa untuk membaca tulisan-tulisannya.


Barangkali tidak sampai setahun buku itu ada di Mahad Aly, ternyata umurnya tidak cukup lama. Buku itu hilang. Saya merasa sedih. Saya sudah mencarinya kemana-mana. Tapi apalah daya, buku itu tidak ketemu lagi. Apa boleh buat?


Saya berprasangka baik: barangkali saya harus memulai fase menulis secara natural. Tanpa harus meniru dan memodifikasi dari tulisan para tokoh dan penulis hebat lainnya. Saya biarkan saja. Saya membaca buku dan kitab apa adanya, sesekali menulis di media yang berkenan menerima tulisan dari kontributor, mengikuti lomba menulis dan akhirnya semangat saya menulis tidak stabil.


Bila saya semangat, beberapa tulisan selesai dalam sehari. Berlanjut hingga dua hingga tiga hari kedepan. Bila malas, wah, ini lamanya bukan main. Bahkan sampai sebulan lebih saya tidak menulis sama sekali. Saya mau menangis, tapi tidak bisa. Ahh.. entahlah.


Sebenarnya, bila mau jujur, sangat senang sekali rasanya bila memiliki fasilitas yang menunjang kegiatan menulis saya. Laptop yang lancar buat ngetik, akses internet, lingkungan yang tenang tanpa intervensi kawan dan tugas-tugas, lalu ide keluyuran dimana-mana. Tapi, menuntut fasilitas tanpa ada perjuangan menelurkan tulisan adalah sama halnya dengan investasi bodong. Seolah-olah tampak menjanjikan, tapi belum tentu ada hasil tulisan bila memang ada fasilitasnya. 


Apalagi sebagai santri, di pesantren kita ditempa untuk biasa hidup sederhan dan penuh pengabdian. Bukan malah memanjakan diri dengan penuh fasilitas.


Setelah itu, beberapa bulan selanjutnya, saya mendengar kabar adik kelas, bagian BIP yang menangani buku kliping kenang-kenangan saya dulu itu, ternyata hilang. Saya sekadar, menjawab "oh, iya dah." Ah, hati saya tersayat-sayat. Mata saya mau berkaca-kaca tapi tak bisa. Entah mengapa, sulit sekali bagi pria untuk menangis untuk kejadian-kejadian, yang sebenarnya sangat ia sayangkan sekali.


Akhirnya, saya vakum akan idola penulis. Yang biasa saya baca tulisannya berulang-ulang kali setiap hari. Setiap sebelum menulis sesuatu. Setiap malas membaca dan sebagainya. Pada liburan pesantren lalu, saya soba meng-copy paste tulisan-tulisan yang bagus menurut saya bagus di Facebook. Beberapa saya ambil di website tertentu. Saya print dan bukukan. Saya harap tulisan-tulisan itu dapat menjadi pengganti seperti antologi esai as. Laksana hasil kliping koran dulu.


Ah, ternyata tidak seperti harapan.


Saya kembali mencari-cari tokoh penulis idola. Saya coba memotivasi diri dengan Dahlan Iskan. Mencoba untuk membuka dan membaca laman websitenya setiap hari. Ternyata, masih saja tidak. Meskipun saya seringkali membicarakan Pak Dahlan, di usia yang cukup tua begitu, ia masih terus menulis setiap hari. Konsisten. Saluut sebenarnya. Tapi untuk jatuh cinta tidak sama seperti pada As. Laksana dulu.


Saya kemudian berselancar di Google. Membaca esai-esai As. Laksana. Beberapa saya temukan tulisan baru yang belum saya baca ketika mengkliping koran dulu. Beberapa tulisan bagus yang pernah saya kliping, tidak terpublish di media milik Jawa Pos itu. Wah, tidak semua tulisan bagus ada di Internet, batin saya. 


Saya tidak putus asa. Membaca kembali esai-esainya. Ternyata, membaca di layar komputer tidak semenarik dan sesakral ketika membaca tulisan di koran. Barangkali, kadar usaha untuk menerbitkan tulisan di media cetak seperti koran memiliki dampak tersendiri terhadap 'rasa' sebuah tulisan.


Meskipun begitu, sedikit demi sedikit saya mulai menggemari tulisan As. Laksana kembali, meski itu mengharuskan saya pantengi layar komputer terus. Saya membacanya. Terbawa dengan alur tulisan dan saya merasakan ketenangan dan kenyamanan dalam membaca. Biasanya, mood saya akan membaik dan menulis dengan keadaan membaik. Tenang. Tidak grusah-grusuh dengan tujuan menulis supaya dipuji, dikenal dan lain sebagainya. 


Saya menulis, ya menulis. Menulis dengan tenang. Mood membaik dan bukan untuk tujuan-tujuan materi belaka. So, Menulislah dengan senang hati.

*Alfin Haidar Ali (Mahasantri Mahad Aly Nurul Jadid)

Posting Komentar

0 Komentar