Pada tulisan tentang gedang sewu yang kedua, saya menulis akan bercerita tentang alasan mengapa harus gedang sewu sebagai tempat mengisi waktu liburan yang cukup panjang itu. Tepatnya, setelah pelaksanaan ujian nasional, orientasi kelas akhir (Oskar) hingga wisuda MAK usai.
1. Keluarga Dhalem Dari Nurul Jadid Pernah Belajar ke Gedang Sewu
Saya pernah mendengar bahwa Lora Fahmi pernah nyantri ke sini. Bahkan, Kiai Abdul Haq Zaini juga akrab dengan Mbah Baidlowi. Karena kabar (berita) itu sifatnya bisa benar atau tidak, informasi ini hanya mengendap di kepala. Entahlah, kapan-kapan bila berkesempatan ke sana, saya coba mencari tahu kebenarannya.
Ketika takdir telah menentukan saya belajar kesana, akhirnya saya ‘memberanikan diri’ bertanya akan hal ini. Mbah Baidlowi bilang bahwa rumah ini dibangun atas bantuan dari mereka. (rumah ini yang dimaksud adalah rumah bercat putih yang menjadi background foto bareng bersama dua kawan saya yang pamitan akan pulang terlebih dulu dan Mbah Baidlowi) rumah tersebut menjadi dhalem atau kediaman Mbah Baidlowi untuk istirahat, menaruh kitab dan lain sebagainya.
| Dari Kiri : Lora Faiz AHZ, Mbah Baidlowi, Gus Yazid (Putra Mbah Baidlowi), Lora Fahmi AHZ. Untuk semua gus dan kiai, amit ya, saya post fotonya. |
2. Gus Dur pun Pernah Sowan Ke Mbah Baidlowi
Selain cerita itu, saya juga pernah mendengar bahwa Gus Dur pernah sowan kepada beliau. Untuk membuktikan kebenaran kabar ini, Alhamdulillah, saya sempat bertanya langsung pada beliau. Mbah Baidlowi bilang, bahwa gus Dur pernah kesini. (saya lupa, satu atau dua kali). Yang jelas, para tetangga sekitar saat itu banyak memberikan makanan dan buah-buahan pada Mbah Baidlowi dalam rangka menyambut kunjungan Gus Dur ke Gedang Sewu.
Dengan ciri khas beliau yang akrab, santai dan apa adanya, beliau bercerita bahwa Gus Dur ia ajak masuk ke dalam rumahnya. Untuk makanan, buah-buahan dan segala pemberian tetangga beliau siapkan di tempat lain. Dan itu, tidak beliau berikan pada gus Dur. Setelah sowan dan segala keperluan selesai, semua makanan itu beliau makan sendiri. beliau makan sendiri dalam artian beliau tidak menjamu gus dur dengan makanan dan benda-benda duniawai yang tampaknya istimewa. Beliau bercerita ini sambil tertawa terkekeh-kekeh. Seolah kedatangan siapapun adalah sama saja. Tidak ada yang istimewa selama itu masih manusia, bahkan sekelas Gus Dur sekalipun.
3. Prediksi Tentang Kiai Hamid Yang Tidak Jadi Bupati Situbondo
Satu lagi yang cerita yang ingin saya ceritakan dari kabar dan informasi kakak kelas saya adalah tentang Pemilihan Bupati Situbondo. Dikisahkan, bahwa pada (entah tahun berapa) Kiai Hamid Wahid (Kepala Pesantren Nurul Jadid sekarang/salah satu putra Kiai Wahid Zaini) mencalonkan diri menjadi bupati Situbondo. Dalam suatu kesempatan, rombongan kiai Hamid beserta beberapa keluarga pesantren sowan kepada Mbah Baidlowi. Tepat pada saat itu, ada salah satu santri Nurul Jadid yang nyantri disana.
Rombongan tersebut seperti meminta doa agar Kiai Hamid diloloskan menjadi bupati Situbondo. Setelah semua keperluan dan hajat rombongan tersebut selesai, tiba-tiba Mbah Baidlowi bercerita ke santri yang berasal dari Nurul Jadid tersebut. Beliau bilang yang intinya, jangan bilang siapa-siapa, Kiai Hamid akan gagal dalam pemilihan bupati ini. Walhasil, ketika hasil pemilihan bupati Sitobondo, Kiai Hamid tidak lolos dan kemudian Kiai Hamid berkiprah di Pondok Pesantren Nurul Jadid menjadi kepala pesantren.
Ketika kepala kepemimpinan dipegang beliau, banyak pihak mengakui akan revolusi besar-besaran semenjak perahu besar pesantren ini dinahkodai oleh Kiai Hamid. Berangakali, seandainya Kiai Hamdi lolos dan terpilih menjadi bupati Situbondo, mungkin pesantren ini tidak akan semaju dan sepesat sekarang ini.
4. Bilal Tarawih Gunakan Kata Presiden
Kata kakak kelasku, salah satu hal yang unik di sana adalah bilal sholat tarawih. Di mana, bilal sholat tarawih yang biasa menggunakan kata Al-kholifatul Ula Sayyiduna Abu Bakrinis Shiddiq.. dst. Lha, disana itu diganti dengan kata presiden.
Jadi bunyinya kurang lebih begini, “presiden pertama islam Bapak Abu Bakar Shidiiq..” dan begitu pula pada khalifah-khalifah lainnya yang diganti dengan kata presiden.
Jujur saja, ini unik dan berbeda. Tidak pernah terlintas sama sekali akan fenomena seperti ini. Ketika menjalani sholat tarawih perdana disana, saya coba membuktikan informasi ini. Bila benar, saya ingin merekamnya untuk dijadikan kenang-kenangan. Eh, ternyata pada kenyataannya tidak seperti itu. Kejadian yang dialami oleh kakak kelasku itu, barangkali ia kebetulan pernah segenerasi bareng teman yang kreativitas jarang ditemui.
Apakah itu mungkin ?
Mungkin. Sholat tarawih berjamaah di sana tidak wajib. Artinya, apabila ada yang tidak sholat tarawih dan memilih duduk duduk santai atau maen hp di kamar, sah-sah saja. Tidak ada hukuman. Toh, system belajar dan kegiatan disana lebih didasarkan pada kesadaran individu perorangan (al waiyyat al-fardhiyyah).
Tapi, diselain alasan-alasan ini itu tadi, semua hal ini tentunya tidak lepas dari skenario kehidupan yang telah dirancang oleh tuhan. Banyak hal yang tidak bisa di kontrol dan kendalikan, tiba-tiba terjadi saja kejadian seperti ini. Seperti hal nya, keinginan untuk nyantri kilat ke Gedang Sewu. Padahal, semenjak kecil tidak pernah sama sekali memiliki rencana untuk ‘jalan-jalan’ ke area yang sangat dekat sekali dengan kampung Ingirs, Pare, Kediri ini.
Sekian. Terima Kasih.
Ttd
Alfin Haidar Ali.
2 Komentar