Trending

6/recent/ticker-posts

Panduan Membuka Bisnis Tanpa Modal Ala Mas Edi Ah Iyubenu

Dari kiri : Aku, Agil (Temen yang nemenin selama di Jogja) dan Mas Edi 

Sebagai mahasantri Probolinggo, bisa berkunjung ke Kota Gudeg Yogyakarta adalah hal yang sangat menyenangkan dan patut disyukuri. Karena tidak semua teman-teman saya di pondok dapat berkunjung ke sini, apalagi dalam mengikuti event atau acara tertentu. 

Sejak hari Rabu-Jum’at (14-16/10), saya mengikuti acara yang diadakan oleh Puslitbang Diklat Penda di bawah naungan Kemenag RI, yakni Presentasi Karya Tulis Ilmiah (KTI) dalam rangka penguatan KTI dikalangan santri. Pada acara tersebut, dua puluh santri terpilih 
mempresentasikan hasil penelitian mereka dihadapan narasumber dan audien yang notabene memiliki gelar prof. Doktor, dosen dan sejumlah tenaga pengajar di kampus-kampus di Jogjakarta. 

Pada hari sabtunya saya pulang. Sebelum pulang, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke Kafe Main-main. Sebuah kafe yang pemiliknya cukup terkenal dan masyhur di Jogjakarta, lebih-lebih dikalangan aktivis dan mahasiswa yang menikmati wacana-wacana dan gagasan idealisme. Malam itu, saya sudah janjian dengan pemilik kafenya, yakni Mas Edi AH Iybenu. Dalam chat pribadi melalui twitter, kami ketemuan pada malam hari. Saya datang duluan, menunggunya. Saya chat, Mas Edi tidak on-line. Sembari menikmati susu yang telah dipesan saat itu, ternyata salah seorang teman se-SMA dulu yang kuliah di Jogja juga berada di kafe main-main. Kami duduk satu meja, sambil menunggu balasan mas Edi. 

Setelah basa-basi sebagai prolog pertemuan kami, saya menjelaskan tujuan saya ngafe di main-main. Ingin bertemu mas Edi dan sudah janjian. Ia terkejut, raut mukanya berubah seketika. Katanya, “wah, hebat samean. Orang baru di Jogja, sudah bisa janjian sama Mas Edi.” Katanya
“Memangnya kenapa?” saya memancing pendapat teman saya itu yang sudah setahun berada di Jogja. 

Ia menjelaskan dengan wajah berbinar-binar. Seolah Mas Edi adalah orang paling sukses di Jogjakarta ini. Temanku itu bilang, bahwa para aktivis senior kalau nerbitin buku itu ke Mas Edi. Mas Edi ini selain memiliki penerbit DivaPress yang kualitas bukunya sangat apik dan paling dicari kalangan pemuda, mahasiswa dan aktivis organisasi di Jogja, ia juga seorang penulis yang sangat produktif. Bahkan Gus Ulil Abshar Abdalla mengakui keproduktifan mas Edi. Kafenya saja, yakni Kafe Basa-Basi dan Main-main total semuanya ada tujuh cabang. Semuanya rame dan jarang sekali sepi pengunjung meski situasi sedang pandemi seperti ini. 

Apakah Mas Edi Ah Iyubenu itu santri? 

Saya kurang tahu. Saya tidak kepikiran untuk menanyakan hal itu. Tapi, mas Edi adalah orang Sumenep Madura. Anda tahu sendiri, realitas kehidupan religius-islam sangat kental sekali disana. 
 
K. M. Faizi, seorang kolumnis, budayawan dan pengasuh PP. An-Nuqoyah madura ini pernah bilang, “Edi AH Iyubenu ini tergolong manusia komplet: punya basic pesantren, akademisi strata tertinggi, dan piawai menganggit analisis dan narasi.”

Kiai Faizi pernah bilang Mas Edi punya Basic pesantren, barangkali ini bisa menjadi dalil bahwa mas Edi memang santri. Atau kalau anda masih kurang puas, saya akan kutip ungkapan Gus Mus perihal santri ini. Kata beliau, “santri bukan yang mondok saja, tapi yang berakhlak seperi santri dialah santri.” Jadi, entah Mas Edi pernah mondok dimana, yang jelas banyak orang yang mengakui bagusnya akhlaknya mas Edi. Dan asumsi saya, ia layak disebut juga bagian dari santri. 

Sambil mendengar cerita kekaguman mahasiswa Jogja itu tentang mas Edi. Mata saya sesekali menelusuri penjuri kafe, barangkali mas Edi sudah datang. Ternyataa mas Edi sudah datang. Saya melihatnya, bahkan Mas Edi sempat melewati meja yang kami tempati. Chat saya masih centang satu, mas Edi belum On-line. Hingga beberapa menit kemudian, saya membuka hp kembali, chat saya sudah dibalas. Kami disuruh menuju ke depan. Meja dan kursi khusus milik mas Edi. Temanku pergi, ia bilang bahwa ia mau menjemput temannya. Kemudian aku menuju ke mas Edi dan jadilah anak muda yang masih semester tiga ini bisa duduk bersama dan berbincang-bincang dengan “beliau.”

Meskipun sedemikian suksesnya, Mas Edi sangat ramah dan terbuka sekali. Saya sangat senang bisa bertemu dengannya. Banyak hal yang ia ajarkan pada pertemuan malam itu. Saya mencatatnya, ada beberapa poin yang dapat kami peroleh. Secara diam-diam, saya merekam percakapan kami dan berharap suara Mas Edi tetap jelas meski suara musik yang ada di Kafe itu cukup nyaring dan didengarkan oleh semua pengunjung kafe Main-main. 

Tapi, dalam artikel ini saya ingin menulis tentang tips bagaimana berbisnis meski ditengah pandemi seperti ini. Bahkan tanpa modal sekalipun. Karena, permasalahan klasik, klise dan umum bagi para pemuda, pemula dan orang yang ingin membuka bisnis tertentu adalah modal. Oleh karena itu, saya tanyakan, apakah bisnis bagi orang yang tidak punya modal itu harus berhutang dulu? 

Mas Edi menjelaskan, sederhananya begini, bisnis bila ada modal itu tentu akan berjalan lebih enak, baik dan mudah. Akan tetapi tidak berarti orang yang lalu tidak modal berbisnis itu tidak bisa, tapi memang membutuhkan perjuangan yang lebih. Lalu, mas Edi Menjelaskan bahwa modal pertama dan paling utama (selain uang) yang harus dimiliki adalah: anda harus bisa dipercaya orang. Agama seringkali menyebutnya dengan istilah amanah. 

Ia bercerita, bahwa semua bahan-bahan di kafe ini hutang semua. Dari beras, indomie, aqua dan lain-lain. Tapi mereka (suplier) mau nenghutangi saya, sedangkan bila anda membuka kafe disebelah misalnya, belum tentu mereka mau menghutangi pada anda. Karena mereka percaya pada mas Edi. Jadi, tugas utama yang harus dibangun adalah membangun Citra, image dan brand: aku bisa dipercaya. Percakapan kami terjeda, seorang pelayan memberikan gorengan dan minuman untuk mas Edi. Ternyata, mas Edi juga memesankan nasi goreng kepada kami. 

Tapi (kepercayan) ini butuh pembuktian. Nah, disinilah solusinya adalah dengan membuka jaringan. Semisal, anda kenal dengan dosen anda yang punya uang, akrab sampai bisa dipercaya, kan bisa bekerja sama dengan dia. Memang hal ini bukanlah perkara yang mudah. Seperti nasehat diawal tadi, kalau memiliki modal terbatas atau tidak memiliki modal sama sekali adalah perlu kerja keras yang lebih. Tapikan bukan berarti hal ini tidak bisa memulai bisnis dengan modal seperti itu. Itu poin pertama. 

Poin kedua, saya beri nama: melonggarkan janji. Seseorang dapat dikenali bisa dipercaya atau tidak melalui omongannya. Dalam berhutang, semisal kita bisa membayarnya selama seminggu, bilanglah pada si pemilik modal bahwa kita akan membayarnya dalam waktu dua minggu. Kita harus mengantisipasi plesetan-plesetan yang terjadi dari konsumen dan perkiraan kita belaka. Karena memang tidak ada jaminan bahwa kita akan memegang uang yang cukup untuk dikembalikan pada si pemilik modal. 

Seandainya kita bisa mengembalikan satu minggu (lebih cepat daripada yang dijanjikan) otomatis pemilik modal akan senang. Atau bahkan kita memang benar-benar tidak memiliki modal untuk mengembalikan uang hutangan yang digunakan untuk modal, maka jangan menghindar dan menghilang apalagi sampai matikan hp tidak ingin dihubungin. Ini adalah mental pengecut. Pebisnis bukanlah pengecut. Hadapilah. Jangan sampai pemilik modal bertanya lebih dahulu. Katakan yang sebenarnya, bahwa memang kita benar-benar tidak memiliki uang misalnya untuk mengembalikan. Si pemilik modal tidak akan marah. Justru sikap inilah yang menunjukkan kita memang komitmen dan dapat dipercaya.

Poin yang ketiga adalah sabar berproses. Sabar berdarah-darah. Sabar dalam berprihatin. Sabar berhemat. Sabar menurunkan gaya hidup. Karena kebanyakan pebisnis pemula, tampak sukses sudah beli motor/mobil, pulang kampung dan mendapat tepuk tangan orang. Tapi, itu semua buat apa? Bila keuangan bisnis belum sepenuhnya kukuh. Disaat kita terjatuh, bisnis kolaps, orang tidak akan berbondong-bondong menolong. Mereka lebih banyak senang melihat kita sengsara. Oleh karena itu, bila ada modal lebih, investasikan dulu. Tahan untuk hambur-hamburan dulu. Suatu saat nanti kita akan memanen juga. Asal kita mau bersabar menjalani semua proses ini. 

Terakhir, bila perputaran bisnis sudah kuat dan kukuh, cobalah untuk memasuki psosisi memberi manfaat sebanyak-banyaknya pada orang lain. Hal itu membuat berkah. Mas Edi melanjutkan ceritanya diawali peemintaaf maaf, karena kalau bahasa kasarnya “apa sih yang ndak bisa saya (mas Edi) beli? Lalu, saya mua ngapain?”

Sebagaimana ia biasa sharing dengan banyak pemuda dan melakukan observasi, bahwa setidaknya kehidupan hedon dan materialis yang ingin dicapai banyak orang itu setidaknya adalah ingin rumah mewah atau bagus, ingin kendaraan Bagus, ingin pakaian Bagus, ingin makanan yang enak, ingin anak-anak punya kehidupan yang Bagus. Lalu, bila seseorang sudah memiliki itu semua, omset terus meningkat, pendapatan selalu lancar, uang banyak yang ditabung, uang terus ditumpuk, buat apa juga? 

Bila sudah tiba waktu seperti itu, sewajibnya menurut mas Edi yaitu mulai berpikir dan bergerak memberikan manfaat sebanyak-banyaknya pada orang lain. Itu membahagiakan. Mas Edi bercerita usaha yang sekarang ia geluti. Saat ini, mas Edi memiliki tujuh kafe. Masih ada tiga lahan yang masih kosong. Sebanyak ratusan mahasiswa yang menjadi pekerja. Padahal, kata mas Edi, meskipun tidak ada kafe, ia dan keluarga sudah bisa hidup dengan cara hedon. Duit yang ia miliki sudah cukup. Tapi, mas Edi tetap buat kafe, supaya membuka lapangan kerja. Banyak mahasiwa yang terbantu dengan pekerjaan ini. 
Realitanya begini, anak muda yang merantau, ingin kuliah dan tidak punya biaya sangat banyak sekali. Dan dikafe ini saya menampung mereka. Mereka jauh datang dari kampung, saya kasih tempat istirahat. Makan sehari full. Artinya, mereka boleh makan sehari tiga kali bahkan lebih, otomatis mereka tidak usah memikirkan tempat tinggal. Masih kerja secara gantian. Belum lagi masih digaji, akhirnya mereka juga tidak memikirkan uang bulanan. Selain itu, mereka juga disubsidi biaya pendidikan. Jadi begitu strategi menolong orang menurut mas Edi. 

Harapan mas Edi dari semua yang ia berikan adalah suatu hari mereka menjadi sarjana, orang-orang terdidik yang tentunya secara pengalaman, akses pekerjaan, pergaulan dan pola pikir lebih matang daripada lulusan SMA semoga mereka sukses dibidang apapun kemudian mereka ingat pada masa lalu sehingga berpikir untuk banyak melakukan kebaikan dan kebaikan pada orang lain. Dan entah itu bagaimana nantinya, wallahu a'lam (Allah lebih tahu) yang penting mas Edi sudah memberikan sarana. 

Oleh karena itu, dalam suatu kesempatan, Pamannya mas Edi pernah bilang bahwa Mas Edi lebih baik berhenti membuka kafe karena kehidupan mas Edi sudah mapan. Tapi, mas Edi bilang, ia bisa saja menutup kafenya dan berarti ia hanya memikirkan kehidupannya saja. Tapi ia tidak begitu, ia akan membuka kafe, karena memiliki cabang-cabang kafe baginya adalah urusan yang tidak merepotkan dan apabila kafenya semakin menggurita memiliki banyak anak cabang, hal ini tentunya akan menyedot banyak tenaga kerja. Sehingga ia bisa membuka lapangan kerja dan membantu banyak orang. Begitu seterusnya. 

Mas Edi juga bilang, entah berapa tahun lagi kafenya akan memiliki berada banyak anak cabang. Rencanya, kafenya akan buka si Malang. Ia juga berpesan pada saya dan anak muda yang masih kuliah seumuran saya, “jadi kalau masih diusia kalian, kuliah yang bener sembari mencari jaringan. Karena jaringan itu penting.” Pesanan makanan mas Edi tadi tiba tepat waktu saat cerita pengalamannya usai. Melalui makanan yang saya makan saat itu, saya berharap pesan-pesan dari pentingnya amanah, tidak neko-neko, membangun kepercayaan, hingga bagaimana membantu orang juga ikut mendarah daging dalam kehidupan saya sehari-hari. Setelah habis cerita dan makanan ini. Sekian. Terima kasih. 


*tulisan ini merupakan tulisan terbaik ke dua dalam lomba essay nasional yang diadakan Darus-Sunah, 18 Oktober 2020 lalu.

Posting Komentar

0 Komentar