Pas dua tahun lalu, saya memiliki kenangan dengan Kiai M. Hefni Mahfudz. Beliau merupakan pemangku wilayah Zaid bin Tsabit (K) sekaligus Koordinator Pusat Pendidikan Ilmu al-Quran (PPIQ) Pondok Pesantren Nurul Jadid. Dulu, sewaktu masih duduk dikelas sebelas Madrasah Aliyah, terdapat tradisi setoran kitab ke kyai atau ustadz senior di Nurul Jadid. Dalam satu kelas, akan dibagi beberapa kelompok dan nantinya mereka akan ditentukan akan setoran ke kyai siapa. Untuk waktu dan kitab yang digunakan bias langsung dikonsultasikan dengan beliau. Yang jelas, untuk pertemuan pertama dan terakhir akan dibarengi oleh pengurus sebagai ‘kata pengantar’ dan ‘prolog’ dalam setoran.
Setiap kelompok memiliki cerita dan keseruan masing-masing. Dan hal itu menjadi obrolan menarik dikalangan kami saat mengisi waktu luang atau jam kosong pelajaran saat di sekolah. Sebenarnya, tidak semua kelompok pasti setoran ke kiai. Kelompoknya Zainur Rizal misalnya, setoran ke Ust. Zainuddin Sunarto (Pak Ije). Meski bukan kiai, tapi untuk keilmuan keagamaan tak perlu diragukan lagi.
Kalau dikelompok saya, setorannya setiap kamis sore menggunakan kitab bidayatul hidayah karya hujjatul islam Imam al-Ghazali. Karena pertemuannya seminggu sekali dan berbagai udzur yang lain, setoran kitab tersebut tidak sampai khatam. Pada pertemuan pertama saja, kiai Hefni menerangkan bacaan basmalah panjang lebar. Saya tak tahu akan berapa mutiara ilmu lagi yang beliau curahkan nanti saat menerangkan kalam demi kalam al-Ghazali berikutnya.
Pada tahun 2018, pulang sekolah di semua lembaga di Nurul Jadid wajib pulang ba’da ashar. Jadi semua siswa wajib sholat ashar berjamaah terlebih dulu, baru boleh pulang ke asrama mereka masing-masing. Akan tetapi, semenjak ada setoran kitab itu, saban hari kamis hamper bias dipastikan ada tujuh anak dari kelas kami yang pulang duluan sebelum sholat ashar. Kalau ditanya bagian keamanan sekolah kok pulang duluan, alasann kami cukup kuat dan menggetarkan.
“setoran ke Kiai hefni pak.” Haha.
seolah-olah, alasan kami mengatakan lebih dari itu. “ini urusannya dengan kiai pak. Ayolah, jangan dipersulit.” Heheu.
Setelah melewati prosuder izin yang telah disepakati, kami menuju asrama. Persiapan dan bergegas menuju musholla gang K untuk sholat ashar disana. Saat perjalanan itulah, kami dituntu untuk memcah pikiran dan tetap fokus. Kami tidak hanya disibukkan dengan memaksa kaki melangkah lebih cepat karena khawatir ketinggalan sholat berjamaah. Tapi ditangan kami harus memegang nadzam alfiyah. Menghafal lima sampai sepuluh bait alfiyah. Karena memang kalau setoran kepada beliau juga harus setoran nadzam alfiyah.
Kalau setoran ke beliau, ba’da shalat ashar berjamaah, kiai Hefni tidak turun dari musholla lagi. Beliau stand bye di tempat pengimaman. Kami ‘auto’ menuju kesana untuk setoran kitab.
Entah pada pertemuan keberapa, saya saat itu duduk dibagian utara saya mendengarkan penjelasan beliau antara bengong dan setengah sadar. Begitulah, kebiasaan buruk yang tak perlu ditiru. Saya juga tidak tahu, pikiran entah sedang kemana. Tak focus. Dan hal ini menarik perhatian kiai Hefni.
Aw, setoran langsung ‘tawajjuhan’ pada sosok sekelas beliau, malu rasanya bila mengerjakan kesalahan.
“kenapa kamu nak ?”
Kira-kira begitu sapanya. Menyadarkan ‘kebengongan’ saya yang tak kunjung reda sepenuhnya. Saya malu tapi pikiran juga belum juga fokus.
“belum dikirim ta?” tanyanya lembut.
Saya mengangguk pelan. Mengiyakan.
Mengingat kejadian ini, ah begitu sederhananya tingkah laku saya. “terlalu jujur dihadapan kyai.” Komentar salah satu temanku saat bercerita setelah kejadian itu.
Kemudian beliau merobekkertas yang ada di mejad kecil tempat beliau menjadi imam. Sejurus kemudian, kertas itu diberikan pada saya. Kertasnya relatif kecil dan dilipat pula. Sehingga cukup padat .
Kata beliau, “jangan dikasih tahu siapa-siapa kecuali sudah sampai dua puluh tahun.”
Saya mengangguk pasrah. Menuruti titah.
teman-teman saat itu memperhatikan betul. Sebagai santri, semuanya sangat takdzim dan patuh pada kiai. Mungkin hanya saya yang ‘cangkolng’ dari yang lain. Sehingga ada ‘ganjaran khusus’ dari beliau bagi santri ‘cangkolang’ ini.
Setelah memberikan kertas tersebut, beliau dawuh dihadapan kami. “kalau ingin lancar rezekinya, baca يا الله يا فتاح يا رزاق 11x. Setiap sholat lima waktu. Insyaallah akan dilancarkan rezekinya.” Intinya begitu.
Kemudian, beliau bercerita tentang pengalaman mengamalkan amalan ini. Beliau pernah tidak mempunyai uang sama sekali. Kemudian ketika membutuhkan uang, terdapat uang dikantong bajunya. Dan itu jumlahnya tidak sedikit.
Tak lama setelah itu, pengajian usai. Kami berdoa bersama. Tak ada komentar apapun setelah kejadian itu.
Sesampai pintu keluar gang K, untuk menuju ke asrama, seharusnya kami berjalan menuju kearah utara. Satu lagi, itulah keseruan setoran di gang K. Kaki kami secara otomatis berbelok kekanan. Kearah selatan. Menuju warung yang sangat populer dikalangan santri putera. Cukup dengan uang Rp. 7000, dijamin anda kenyang banget. Apalagi makannya bareng-bareng, bila kurang bisa nambah. Jadi ndak kira ada kejadian yang merasa kurang saat makan disana.
Di warung favorit (ups, sengaja tidak menyebutkan nama warungnya. Warung favorit hanya istilah saya belaka) inilah, obrolan dan percakapan mulai membahas kejadian tadi saat setoran. Kata Wafi, “tadeklah mun 20 tahun. Tak kerah nyak tanyakan.” Ungaknya dengan bahasa Maduranya yang kental.
“Wouw. Kiai hefni ini menunjukkan karomahnya.” Ucap temanku yang lain.
Dan praduga-praduga lainnya. Obrolan senja itu kami tutup dengan makan ‘tabhek’ di warung itu.
Bila peristiwa itu terjadi pada tahun 2018, berarti tahun ini masih berjalan dua tahun. Butuh 18 tahun lagi ‘izin’ menceritakan isi kertas kecil tersebut. Berarti, pada 3 mei 2038 nanti saya boleh bercerita peristiwa ini. Mungkin, bila saya sudah beristri dan mempunyai dua anak. Wkwkwk...
Tulisan ini hanya mengingat kejadian dua tahun lalu. 3 mei. Sehari setelah hari pendidikan. Itu saja.
.
Ttd
Haidar Ali
*Tulisan ini meruapakan tulisan pertama yang saya kirim ke ceritasantri.id. alhamdulillah, pertama kali mengirim langsung di terima. Anda bisa mengaksesnya di https://ceritasantri.id/seharusnya-rahasia-ini-diungkap-20-tahun-lagi/amp/
0 Komentar