Banyak orang menyebut Ramadhan 2020 atau 1441 H. ini merupakan bulan Ramadhan yang berbeda. Pasalnya, umat muslim dunia dipaksa menjalani ritual ibadah keagamaannya dengan cara yang sangat khas, yakni disiplin untuk menjaga jarak. Meskipun begitu, hal ini setidaknya menjadi warna bagi kehidupan umat muslim sendiri dalam menjalani ibadah. Terutama membuka cakrawala baru untuk tidak hidup seperti itu-itu saja.
Pada libur ramadhan kemarin, ada pengalaman cukup berkesan bagi aku pribadi. Saat itu, menjelang akhir ramadhan, aku disuruh oleh bibiku untuk ke rumahnya sekitar jam 16.00 WIB sore. Meskipun perempuan, aku biasanya memanggil lek Nung. Nama aslinya, Nur Kamila. Kata lek Nung, disuruh bantu untuk mengantarkan kotak nasi buat buka puasa di masjid-masjid.
Aku mengiyakan. Saat itu, ada empat masjid yang menjadi objek tujuan bibi, yakni Masjid Darussalam, Masjid, Besuki, Masjid At-Taqwa dan Masjid Umbulrejo. Aku sebagai orang yang menyetir sepeda motornya, berjalan sesuai perintah. Aku lupa berapa jumlah kotak yang akan disedekahkan saat itu. Tapi, ketika dalam perjalanan, aku iseng-iseng bertanya terkait hal ini.
Katanya, sedekah yang pertama dilakukan bibi adalah sebanyak delapan kotak nasi. kotak-kotak nasi tersebut di taruh di Masjid Darussalam, masjid terdekat dari rumah Bibi. Awalnya tidak ada niatan untuk bersedekah. Tapi, saat hari pertama bulan ramadhan itu, Habibi (anak Bibi yang nomer tiga ) tidak mendapatkan kotak nasi di masjid Darussalam saat momen berbuka puasa perdana itu.
Perlu di ketahui, untuk di Masjid Darussalam ini tergolong makmur. Banyak orang bersedekah atau berlomba-lomba untuk memakmurkan masjid tanpa perlu di minta. Jadi, sejak hari pertama bulan Ramadhan, masjid Darussalam sudah menyediakan takjil dan makanan untuk buka puasa bagi anak-anak, warga sekitar dan siapapun yang kebetulan menghabiskan waktu berbuka disana.
Jadi, saat itu Habibi tidak mendapat kotak nasi. Ia laporan pada ibunya. Ibunya (bibi) bilang padaku, “kok bisa anak kecil ndak sampai kebagian. Padahal kan, anak kecil seharusnya yang di dahulukan. Untuk orang dewasa bisa menahan untuk masalah berbuka. Ngalah.” Kurang lebih begitu ucapnya.
Akhirnya, pada keesokan harinya, hati bibi tergugah untuk menyumbang kotak nasi ke masjid agar kejadian itu tidak terjadi lagi. Saat pertama kali menaruh kotak nasi, kata Bibi, Pak Suwaji (dan orang-orang dewasa disana) bertanya, “nasi apa mbak Nung?”.
“Nasi urap-urap sama ikan.” Jawabnya.
Ternyata, orang-orang disana banyak yang suka dan berebut memilih nasi yang dibuatkan bibi. Setelah itu, “kok banyak yang suka. Ah, besok buat lagi. Kalau sudah ditunggu-tunggu nasinya, jadi ndak enak mau absen nyumbang kotak nasi. Jadinya, setiap hari nyumbang kotak nasi fin.” Jawab bibiku itu.
Hari demi hari, kotak nasi yang dibuat bibi semakin bertambah. Dari delapan, lima belas, dua puluh, dua puluh empat, sampai sebanyak ini. Alhamdulillah, bisa sedekah sebanyak ini. Selain itu, bibi juga bercerita tentang pengalamannya permualaan bisa bersedekah seperti ini.
Katanya, bersedakah itu harus dipaksa terlebih dahulu. Nanti, akan tidak merasa berat seperti baru pertama sedekah. Kalau sebelum Ramadhan, biasanya setiap selesai sedekah, ada pikiran balasan dari sedekahku apa ?. Masih nunggu balasan.
Tapi, untuk sedekah pada bulan Ramadhan ini, efeknya berbeda. Rasanya, balasan dari setiap sedekah sangat cepat terjadi.
Setelah sedekah kotak nasi itu, biasanya toko mulai agak ramai. Ketika agak ramai seperti itu, biasanya bibi punya niatan untuk sedekah lebih banyak. “Pasti itu dah, ada rezeki lebih sendiri.” Kata Bibi. Akhirnya, sedekah kotak nasi ini semakin banyak.
Semakin banyak sedekah, rezeki bibi juga semakin lancar. Katanya, setiap pagi, selalu ada orang – orang yang ngantri di depan toko bibi. Toko bibi terletak didalam pasar Semboro. Padahal toko belum juga buka. Yang dibelipun bukan barang-barang baru, tapi barang lama yang berada tumpukan paling bawah atau yang jarang disentuh. Kata salah satu pembelinya, memang disini tempatnya kalau mau beli taplak meja dan sebagainya.
***
Waktu terus berlalu. Satu demi satu kotak nasi mulai diterima takmir masjid. Ketika perjalanan kembali ke rumah bibi untuk mengambil kotak nasi selanjutnya, bibi juga bercerita tentang kakak perempuanku.
Ternyata, bibi juga menyarankan sedekah ini pada mbakku itu. Tapi, sebagai pasangan muda yang belum stabil keadaan ekonominnya, bibi tetap menyarankan untuk bersedekah. Meski tidak harus menggunakan kotak nasi. Kata bibi, “ya minimal lah, beli air satu kardus. Mungkin harganya tiga sampai lima belas ribu. Taruh di masjid. Nanti biar di minum sama orang yang berbuka puasa. Niatkan, sedekah air tersebut untuk mencairkan hati kita yang terlalu bebal dan keras. Semoga dengan hilangnya haus orang-orang yang berpuasa, hati kita jadi lunak, mudah mendapatkan hidayah, dan selamat dari rasa haus saat kiamat nanti.” Ucap bibi menginspiratif.
“oh ya lek nung, nanti mau saya coba.” Jawab mbakku itu seperti yang diceritakan bibi.
Setelah beberapa hari, mbakku itu bilang ke bibi, bersyukur. Alhamdulillah. Bisa meniru sedekah meskipun tidak sama.
“ya, alhamdulillah. Semoga nanti bisa sedekah lebih banyak dan baik lagi.” Demikian jawab bibi.
Sebenarnya, tambah bibi, ia bersedekah seperti ini juga terinspirasi dari temannya yang tidak mondok. Temannya itu, ternyata lebih rajin dalam beribadah, seperti sholat dhuha, sholat malam, beribadah ke masjid juga bersedekah. “masak, yang lulusan pesantren kalah.” Ujar bibi dengan nada iri.
Pada pertemuan itu, sebenarnya bibi tidak hanya bercerita tentang sedekah. Masih ada kisah hikmah yang cukup membekas dalam hati. Esok hari, aku ingin melanjutkan cerita berikutnya. Tentunya masih berkaitan dengan cerita dari Bibi. Terima kasih.
Ttd,
Alfin Haidar Ali.
0 Komentar