Trending

6/recent/ticker-posts

Kisah Sholawat: Dari Bibi Hingga Kiai Romzi




Pertemuan itu, bibiku juga pengalaman pribadinya. Diantaranya, masalah rumah tangga. Bibi merupakan seorang istri yang pernah melahirkan anak dalam keadaan keguguran. Keguguran yang alami. Artinya, gugur mendapat momongan itu bukan sengaja atau direncanakan. Kejadian tersebut tidak hanya terjadi sekali, tapi dua kali. Untungnya, bibi tetap sabar dalam menghadapinya.

Entah kapan tahun itu terjadi, yang jelas, pada kondisi seperti ini, suaminya melakukan “pelanggaran” yang menurut akal sehat tidak layak dilakukan. Entah karena frustasi atau apa, suami bibi tiba-tiba membeli motor gede. Saya lupa merknya, ninja atau CBR. Yang pasti, motor itu ia gunakan untuk membonceng wanita lain. Ia seperti orang berpacaran. Pergi janjian dengan wanita lain dan pulang malam. Bahkan tak jarang ia tidak bermalam di rumahnya. Padahal, ia adalah suami dari seorang istri yang menjadi bibiku itu.

Peristiwa ini cukup sering terjadi. Bibi sebagai isterinya justru diam. Tidak melakukan protes hingga menimbulkan pertikaian dalam rumah tangga. Bibi yakin, semua yang terjadi selalu dalam garis takdir tuhan. Katanya, “yang menggerakan ia seperti itu siapa lagi, fin ? pasrah pada Allah. Sholawat lagi.” Begitu jawabnnya.

Suatu ketika, aku menceritakan hal ini pada ibu. Ibu jelas sudah tahu. Ibu adalah kakak dari bibiku. Di antara saudara yang lain, sepertinya bibi ini adalah orang yang paling akrab dengan ibu. Lalu, ibu bercerita bahwa bibi itu adalah orang yang kuat membaca sholawat. Dalam sehari, bibi sudah biasa baca sholawat sepuluh ribu kali dalam sehari. 

Aku geleng-geleng. Heran dibuatnya. Sesekali saya mencoba mencobanya. Tapi tidak kuat. “ah, aku masih terlalu payah untuk menirunya.” Batinku.

Cerita itu tidak berhenti disitu, muncullah isu-isu bahwasanya suami bibi akan menikah lagi. Hingga suatu ketika, bibi mengungkapkan semuanya kenapa suaminya bisa seperti sekarang ini, yakni menjadi sadar dan tidak sampai menikah lagi. Katanya, “kalau ada apa-apa ya, sholawat fin.” Begitu ucapnya.

Kalau malam, kata bibi, biasanya sholat sambil nangis. Mohon pada Allah apa hajatnya. Selain itu sholawat wes. sebanyak-sebanyaknya. Nanti keajaiban akan datang sendiri. 

Setiap kali berada di rumah, bibi dengan sabar dan telaten melayani suaminya. Ia menyediakan makanan dan minuman dengan baik. Katanya, kalau menyediakan begituan, di sholawati dulu. Semoga dengan perantara sholawat, suami menjadi pribadi yang lebih baik. 

Hari demi hari, pekerjaan ini ia lakukan dengan sabar. Hari demi hari pula, perubahan pada diri suami bibi mulai ada perubahan. Yang biasanya suami bibi itu suka makan di luar, menghabiskan uang kerja dengan makan di luar, hingga sering keluyuran, perubahan kecil-kecilan mulai terjadi. Tentunya perubahan itu tidak spontan. Tapi bibi tetap sabar.

Sampai suatu ketika, suami bibi itu bilang, “dek, kenapa ya, kok aku merasa ndak enak lagi kalau makan di luar ?.” 

“Ndak tau, Mas.” Jawab bibi pada suaminya.

“Padahal, mungkin itu gara-gara shalawat fin. Tapi aku memilih diam.” Ujar bibi saat bercerita padaku.

Waktu berlalu. Daun – daun berguguran, begitu pula dengan takdir tuhan. Suami bibi semakin menjalani hidup dengan baik. Baik dalam menjalankan syariat agama, juga sebagai kepala rumah tangga. 

Suatu ketika, suami bibi bilang kepada istrinya, “dek, ini lho aku nemu di status facebook, ada yang bagus. Kalau buat makanan atau minuman, bacain sholawat. Biar berkah. Banyak khasiatnya.” Menurut bibi, dalam batin ia tertawa. Ia seperti ingin berbicara, “kalau itu mas, sebelum sampeyan bilang gitu, saya sudah ngelakuin. Lihat, sampeyan jadi sering dirumah dan kehidupan rumah tangga semakin membaik.” Begitu inginnya. Tapi, bibi malah memilih diam sebentar. menyunggingkan senyumnya dan berkata, “iya mas.” Simply.

***

Setiap kali membaca sholawat diba’ yang biasa dilaksanakan pada malam jum’at, sesekali terbersit kesadaran bahwa Nabi Muhammad bukanlah orang – orang biasa seperti pada umumnya. Meskipun saya akui, dalam banyak riwayat nabi menjahit atau melakukan pekerjaan rumahnya sendiri, tapi, peran beliau sebagai nabi dan utusan Allah di muka bumi ini merupakan sosok yang luar biasa. 

Meskipun, Michael. H. Hart pernah menulis bahwasanya Nabi Muhammad merupakan tokoh paling berpengaruh di dunia. Tapi, tetap saja ada kalangan yang berpendapat bahwa memasukkan nama agung beliau seolah–olah mensejajarkan dengan tokoh–tokoh besar yang lain. Dan itu tidak pantas. Kata mereka, nabi tidak bisa di bandingkan dengan yang lain.

Begitulah, intinya, membaca sholawat sangat banyak faidah, manfaat dan khasiatnya. Banyak cerita, saksi sejarah hingga dalil–dalil atau riwayat dari khazanah turats (kitab kuning) yang mengabarkannya. Tapi, pada kesempatan kali ini, izinkan saya untuk bercerita sedikit dari penuturan Kiai Romzi sendiri, pemangku wilayah Al–Amiri (J) sekaligus Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid tersebut.

Pada senin (14/07) malam ini, jamaah shalawat nariyah Al–Amiri mulai aktif kembali di Musholla gang J itu. Kegiatan rutin dilakasanakan dua minggu sekali. Kegiatan inti ini adalah membaca shawalat Nariyah sebanyak 4444 kali yang dibaca secara dibagi rata oleh masyarakat sekitar pesantren atau siapapun yang ukut pada jamaah tersebut. Akan tetapi, acara ini aktif kembali setelah sempat mengalami kevakuman selama tiga bulan. Kevakuman ini terjadi karena bangsa kita sedang dalam keadaan dicekam bayang–bayang wabah virus Corona.

Setiap selesai kegiatan ini, Kiai Romzi selalu memberikan tausiyah singkat atau istilah yang biasa dikenal saat ini, kultum. Kuliah tujuh menit. Tapi, berhubung objeknya adalah warga atau masyarakat desa sekitar, sehingga Kiai Romzi dalam memberikan kultum atau pesan–pesan dan ajaran agama dengan cara sangat bermasyarakat juga. Di antaranya adalah menggunakan bahasa Madura. 

Ada beberapa poin yang saya catat malam itu. Tapi, sedikit saya paparkan terkait sholawat yang beliau tuturkan. Menggunakan bahasa Indonesia tapi, karena objek tulisan saya adalah masyarakat luas. Selain bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang menjadi permersatu dari keragaman bahasa daerah di Indonesia.

Saat itu, mengawalinya dengan bercerita tentang Habib Ali Semarang yang di datangi oleh Rasulullah dalam mimpinya. Kemudian, Habib Ali matur atau konsultasi pada Nabi Muhammad terkait virus Corona ini.

“Ya Rasul, wabah virus Corona ini sudah menyebar di Indoesia.”

“perbanyaklah sholawat kepadaku.” Jawab Nabi Muhammad SAW. singkat.

Oleh karena itu, salah satu untuk memperbanyak sholawat adalah menggelar kembali jamaah sholawat nariyah Al–Amiri ini. Ternyata, ada beberapa warga yang ikut dan tertarik dengan kegiatan seperti ini. 

Selain itu, Kiai Romzi juga menuturkan bahwasanya sholawat ini banyak faidahnya. Di antaranya adalah di nukil dari Kiai Khotib Umar. Kalau kita ingin ke Makkah dan Madinah, baca sholawat empat puluh satu kali setiap malam. Insya Allah hajatnya terkabul. 

Selalu ada kisah yang dituturkan oleh Kiai Romzi selepas acara rutin seperti ini. Sayangnya, saya baru kali ini mengetik dan mengunggahnya di media online, blog pribadi ini misalnya. Itupun yang saya tulis sebatas yang berkaitan dengan sholawat. Bukan yang lainnya. Ada beberapa kisah dan hikmah. Saya ingin menulisnya. Tapi, tetap dalam batas “semampunya dan seadanya”.

Tambahan, saya juga ingin mengutip hadits yang sering disampaikan para muballigh bila berbicara tentang sholawat, yakni :

Ù…َÙ†ْ صَÙ„َّÙ‰ عَÙ„َÙŠَّ صَÙ„َاةً ÙˆَاحِدَØ©ً صَÙ„َّÙ‰ اللهُ  عَÙ„ًÙŠْÙ‡ِ بِÙ‡َا عَØ´ْرَا

Artinya : Barangsiapa yang membaca sholawat kepadaku (Nabi Muhammad SAW.) dengan satu kali sholawat, Allah akan  bersholawat kepadanya sepuluh kali.

Bayangkan, kita yang bukan siapa–siapa dan bukan apa–apa dihadapannya, bila kita bersholawat kepada nabi saja Allah akan bersholawat kepada kita sepuluh kali. Kan wow gitu. Intinya, banyak baca sholawat. Ini bukan hanya anjuran untuk pembaca, terutama bagi saya.

Kalau di rumah, salah satu ustadz yang sering didengerin ceramahnya dan cukup getol menyuarakan untuk membaca shalawat adalah Ust. Yusuf Mansur. Kata beliau, bila kita ingin hajat apa–apa, baik dunia maupun di akhirat, di sholawatin aja. Anda bisa membaca penjelasan beliau lebih baik dan lengkap dari membaca tulisan saya disini. 
Sekian, Terima Kasih.

TTd,
Alfin Haidar Ali.

*cerita ini merupakan cerita lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Pelajaran Sedekah Dari Bibi.” Pada permulaan menulis tulisan ini diwaktu menjelas sholat ashar tiba, tiba–tiba pikiran saya buntu. ide–ide dan alur cerita yang sedikit tersusun dalam kepala runtuh. Entah kenapa. Saya tidak tahu. Akhirnya, saya jeda terlebih dahulu hingga pada hadiran isya’. Barangkali berkah darikegiatan membaca sholawat nariyah itu, pikiran saya dibuka kembali. Ada semacam inspirasi. Gairah menulis saya kembali dan tulisan ini akhirnya selesai.

 Akhiran, mari kita membaca sholawat kepada nabi Muhammad berikut juga dengan fatihahnya, beserta kepada guru–guru kita semua. Semoga yang menulis dan membaca bisa bertabarrukan dan mengambil faidah dari mereka semua. al–Fatihah.....

Posting Komentar

0 Komentar