Trending

6/recent/ticker-posts

Kiai Romzi : Potret Figur Ulama Produktif Nurul Jadid

    

    Beberapa hari lagi, tepatnya tanggal 12 juli 2020, pemangku wilayah al-Amiri (J) sekaligus Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid akan berulang tahun. Tepatnya pada tanggal tersebut, beliau resmi berumur lima puluh satu tahun. Diusinya yang memasuki usia senja itu, tercatat beliau telah melahirkan lebih dari tujuh puluh karya, baik berupa buku atapun kitab berbahasa arab. Bahkan, kabarnya sebelum pulangan santri kemarin ini beliau telah selesai menggarap karya terbarunya tentang fiqih yang ia gubah dalam bentuk syair-syair bahasa arab (nadhom). 

 Ketika masih awal-awal mengikuti pembelajaran di Ma’had Aly Nurul Jadid tahun 2019-an lalu, beberapa ustadz disini seringkali memotivasi untuk selalu berkarya, lebih-lebih dalam hal menulis buku atau kitab. Mereka biasanya akan memberi contoh yang paling dekat dan jelas, yakni kiai kita sendiri di Ma’had Aly, Kiai Romzi Al-Amiri Mannan. Disela-sela kesibukannya sebagai dosen di Universitas Nurul Jadid, kiai yang jadi tempat konsultasi para masyarakat, juru dakwah yang sering diundang bercerama, aktif di bimbingan manasik haji, beliau masih sempat melahirkan karya-karya yang cukup berbobot dan itupun beraneka ragam disiplin keilmuan. Sebagai bukti fisiknya, karya-karya beliau dapat dilihat di lemari etalase depan musholla wilayah al-amiri (J). Sampai saat ini, karya-karyanya banyak dijadikan buku acuan atau pedoman di sejumlah sekolah dan santri di Pondok Pesantren Nurul Jadid. 

 Tak hanya itu, saya pun juga pernah mendengar kesaksian sopir mobil beliau yang kebetulan kenal dan menjadi teman di Ma’had Aly, namanya kak Ainun, kalau bahwasanya Kiai Romzi ketika dalam perjalanan undangan untuk ceramah masih menyempatkan untuk membaca al-Qur’an. Katanya, biasanya beliau membaca satu juz setiap melakukan perjalanan karena beliau memang membacanya pelan-pelan. 
 
Dalam hal ini, teladan beliau mendapat legitimasi dari nabi Muhammad SAW. yang berbunyi : 

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ 

Artinya : Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara, yakni masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa mudamu, masa sempatmu masa kayamu sebelum masa miskinmu, waktu senggangmu sebelum waktu sempitmu, masa hidupmu sebelum masa kematianmu,. 

Imamuna al-Ghazali dalam masterpiece-nya Ihya’ Ulumiddin menegaskan, lima perkara ini tidak diketahui kadarnya kecuali setelah hilangnya perkara tersebut. 

Ini menunjukkan, beliau yang dikenal sebagai sosok yang bersahaja, ramah dan suka guyonan ini adalah teladan dalam menggunakan waktu sebaik-baiknya. Dan dari gambaran aktivitas sekilas dan karya-karya beliau ini menunjukkan bukti baiknya keislaman kiai asal Madura tersebut. Hal ini dapat diidentifikasi dari hadits nabi yang berbunyi : 

مِنْ حُسْنِ اِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيْهِ 

Artinya : Termasuk dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya. 
Mengamati keseharian dan produktifitas beliau, sebagai santri di Nurul Jadid yang kegiatannya tidak sesibuk beliau, saya jadi terpukul oleh hadits dari nabi yang cukup membekas dalam ingatan saya untuk menghargai waktu sebaik-baiknya, yaitu : 

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثْيْرٌ مِنَ النَاسِ الصِحَةُ وَ الفَرَاغ 

Artinya : Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu daya olehnya ialah kesehatan dan waktu senggang. 

Dalam beberapa kesempatan, apabila beliau kedatangan tamu istimewa yang diundang dalam suatu acara yang diadakan atas nama Ma’had Aly Nurul Jadid, tak jarang beliau memberikan bingkisan sejumlah karyanya kepada tamu tersebut. Tak kurang dari empat puluh judul. Bila disimak lagi, sebagian besar karyanya menggunakan bahasa arab, padahal bahasa arab bukanlah bahasa beliau sendiri. Salah satunya adalah kitab tsamrotul yaniah, kitab tentang ilmu kalam yang mengulas akidah beserta aliran (sekte-sekte) di dalam ajaran agama islam. Ini menunjukkan kefashihan beliau dalam gramatikal bahasa arab yang menjadi pengantar warisan kitab-kitab turats di dunia islam. 

    Saya yakin, untuk mencapai keistimewaan seperti beliau ada masa lalu yang pernah digunakan untuk berproses mencapai itu semua. Ada kecerdasan, kesabaran, semangat yang gigih, biaya, bimbingan guru atau masyayikh, waktu yang lama sebagaimana yang termaktub didalam syair Imam Ali bin Abi Thalib tersebut. Hal ini bisa dibaca dari profil singkat karya-karya beliau yang pernah menjalani rihlah ilmiah dan tabarrukan ke sejumlah pesantren di Indonesia. Dimulai dari pondok pesantren Hidayatut Thalibin asuhan kedua orang tua beliau di Sumenep, kemudian ke PP. Annuqayah Guluk-Guluk, PP. Al-Munawwir Krapyak-Jogjakarta asuhan KH. Ali Maksum hingga PP. Al-Anwar Sarang asuhan KH. Mbah Maimoen Zubair. 

    Bagi saya pribadi, beliau merupakan sosok potret figur ulama produktif yang sangat perlu dicontoh dan diteladani oleh para santri, lebih-lebih Mahasantri Ma’had Aly sendiri. Karena para mahasantrilah yang menyaksikan sendiri kesibukan dan aktivitas beliau yang begitu padat. 
Dengan teladan seperti itu, keyakinan saya semakin bertambah untuk menulis dan berkarya karena mengikuti ajaran Nabiku, nabi Muhammad dan tabarrukan pada kiaiku, kiai Romzi untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya dan menjadi pribadi yang produktif. 

*Alfin Haidar Ali. 
Paiton, 30 Juni 2020. 

*Tulisan ini untuk merayakan hari ulang tahun beliau dengan sedikit tulisan yang remeh sekali. Semoga kita tabarrukan pada beliau. Amiin

Posting Komentar

0 Komentar