Trending

6/recent/ticker-posts

Nyantri ke gedang sewu : Aktivitas sehari-hari dan percakapan yang terkenang (3/5)

Sumber : RadarKediri-JawaPos

Setelah lama tak melanjutkan cerita tentang gedang sewu, pada kesempatan kali ini saya coba untuk menulis kembali kenangan setahun lalu. Dengan ingatan yang terbatas dan semampunya tentunya. 

Selama disana, tak pernah terbersit sama sekali pertanyaan, 'mengapa desa ini dinamai gedang sewu?' gedang sewu kan artinya seribu pisang. Apakah dulu disini banyak pohon pisangnya, atau bagaiman? Saya juga tak tahu. 

Yang jelas, hari-hari disana sebenarnya terasa menyenangkan. Serius tapi santai. Digedang sewu, khususnya pada bulan ramadhan mengadakan pengajian bandongan/muroq dua kitab, yakni kitab tentang mantiq dan balaghoh.  Kalau pas saya disana, dua kitab tersebut dikhatamkan selama -kalau ndak salah- 13/14 hari. Kitabnya tidak terlalu tebal dan tipis. 
Beda halnya kalau diluar Ramadhan. Ada tiga kitab yang dikaji, yaknj alfiyah, mantiq dan balaghah. Kalau alfiyah ini dibagi menjadi tiga juz, sedang mantiq dan balaghoh pengajiannya juga sama seperti yang dilaksanakan ketika Ramadhan. Kitab alfiyah ini dikaji selama satu bulan. Khatam. Selang beberapa hari, nyantai, terus ganti kitab. Begitu seterusnya. Hanya tiga kitab ini. 

Sehingga kemudian orang-orang yang pernah belajar kesana lebih menyebut tempat tersebut dengan nama “ALABAMA”. Sebagai singkatan dari alfiyah, balaghoh dan mantiq.  Oh ya, kiai Baidlowi juga mengaji kitab jurumiyyah dan amtsilatut tashrif pada jam 8. Kalau pengajian jurumiyah ini hanya sebagian saja yang ikut. Bagi mereka yang masih belajar dan mau mutholaah kembali ilmu alat ini. Oleh karenan itu, gedang sewu juga dikenal sebagai tempat belajar spesialisasi ilmu alat saja. Nahwu, shorof, balaghah dan mantiq. 

Setahu saya, tidak ada nama resmi untuk tempat tersebut. Karena memang dari awal tidak ada niatan buka pesantren, tidak ada pengenal tempat ini dan pengelolaan tempat di kelola secara kemasyarakatan. Kesadaran. Dan juga tradisional sekali. 

Dalam sehari (ketika Ramadhan), pengajian bisa berlangsung empat pertemuan. Untuk kitab yang pertama dikaji adalah kitab balaghah. Pengajian dimulai ketika ba’da shalat shubuh, lalu sekitar jam 10, kemudian sekitar jam 2 dan terakhir ketika setelah melaksanakan shalat tarawih. 

Dalam mengaji kitab, ada yang berbeda dari pengajian yang diadakan pesantren pada umumnya. Nurul jadid khususnya. Setiap selesai menjelaskan satu materi, mbah baidlowi sering bertanya pada santri-santrinya. 

“Paham? Kalau ndak paham tanyako!!”
Kalau lagi semangat, biasanya ada beberapa santri yang bertanya. Kalau pas ‘badmood’ ya ndak juga. Beliau sangat senang bila ada yang bertanya. Tapi pertanyaan yang berkaitan materi. Bukan pertanyaan yang tingkatannya seputar nahwu/shorofnya. 

Beberapa kali saya sempat bertanya. Setidaknya dari beberapa kali pertanyaan itu, saya akhirnya saat itu cukup dikenal kiai. Karena ketika baru bertanya, biasanya ditanya namanya terlebih dahulu. Tapi bukan dengan nama alfin haidar, tali alfin siregar. Ya, alfin siregar. Meski saya ulang beberapa kali, dalam waktu-waktu senggang beliau terkadang memanggil saya dengan nama alfin siregar. Katanya, dulu ada santri dari Batam. Namanya siregar. Dan setiap melihat wajah saya, katanya teringat siregar. Anak yang dari Batam itu. Entah, bila saya kembali kesana kiai baidlowi akan tetap mengingat saya sebagai alfin siregar atau tidak. 

Dan ketika mengaji kitabpun, itu terserah kiai. Pernah suatu ketika setelah traweh dan habis dhuhur, beliau mengkaji kitab sebentar sekali. Biasanya setiap satu kali pertemuan dapat keterangan 3-5 halaman dalam jangka waktu satu jam. Saat itu hanya menerangkan satu halaman saja. Mungkin sekitar lima belas menitan. 

Untuk masalah makan, disini makannya seperti biasa pesantren pada umumnya. Dua kali sehari. Sahur dan buka puasa. Untuk masalah menu, disana menu utamanya adalah terong. Hampir setiap hari kami makan nasi dengan olahan terong yang bervariasi. Karena banyak warga sekitar yang menyumbang terong dan setiap kiai baidlowi ke pasar, beliau juga sering dikasih terong oleh orang-orang dipasar.

Untuk menghibur hati teman-teman agar tidak bosan makan terong, ada salah satu guyonan yang muncul saat masak bareng persiapan buka puasa. 
من اكل بَادِÙ†ْجَان دخل الجنة
Artinya : barangsiapa yang makan terong, ia akan masuk surga. 

Hahaha.. Celutakan tersebut saat itu berhasil membuat kami yang sedang menunggu terong itu berhasil tertawa.

Tentunya ini bukan hadits yang disandarkan pada nabi. Kalau gitu, guyonan ini bisa-bisa viral dan menimbulkan kontroversial. Seperti kabar akan munculnya dukhon atau kiamat pada 15 Ramadhan ini. 

Kalau masakan terong ini biasanya buat agak banyak. Persiapan buat nanti sahur. Jadi untuk persiapan sahur nanti, seandainya mau masaka, tidak masak terlalu banyak. Jadi sekitar jam 10 malam, setelah nyantai habis ngaji biasanya kami ada pergi kebelakang. Menanak nasi buat sahur nanti. 

Tentunya bukan nasi dan olahan terong saja. Ada tempe dsb. 

Entah pada hari keberapa, saya merasa kebingungan untuk memahami materi balaghah yang disampaikan kiai. Saya coba mempelajarinya lagi, ternyata masih tetap tidak mengerti. Akhirnya, saya memutuskan untuk bertanya pada pak salam. Seorang senior, cukup paham baca kitab kuning dan sering diajak kiai baidlowi untuk menemani beliau pergi. Entah kemana. 

“ini gimana pak? saya ndak paham.” Tanyaku.
“oh, gini. Gini dan bla. Bla. Bla” jawabnya cukup memahamkan. 

“Makanya, santri sekarang kenapa kok merosot keilmuannya? Karena mereka tidak belajar dulu sebelum belajar kepada guru. Mereka tidak ‘kosongan’ saat nanti guru menerangkan pelajaran. Imam Syafi’i kan sudah mencontohkan, bahwa beliau hafal dan paham kitab al-muwattha’ (sebuah kitab tentang hadits) sebeluk belajar ke pengarangnya Imam malik. 

Pendiri mazhab maliki. Setelah hafal diusianya yang cukup beliau, kemudian beliau belajar ke Imam Malik. Siap. Tidak Kosongan.

Makanya, nanti belajar dulu sebelum ngaji ke kiai. Aku lho, itu sudah paham dan sudah tak pelajari sendiri sebelum ngaji ke mbah yai. Makanya, ketika disuruh nanya saya hanya diam. Saya sudah mengerti. Kalau tetep tanya, nanti malah debat dan panjang urusannya.”

Ouh. Gitu. Pemahaman sederhana. Tapi jarang disampaikan dan disadari oleh para santri. Termasuk saya. Semenjak itu saya coba menerapkan pemahaman belajar yang diilhami dari percakapan tadi. 
Suasana di Kamar. Sebelum Pulang. Dari kiri : Izul, Daku, Pak Salam, Anaknya Pak Faizin (sekretaris pesantren) dan Dony.


Disela-sela menunggu adzan maghrib tiba, setelah menyiapkan makanan siap santap, munpung ada kiai baidlowi di dekat saya. Saya akhirnya membuka percakapan untuk melepas keheningan menunggu waktu berbuka. 

“kiai, budayanya disini sama di Nurul Jadid berbeda.”

“iya beda. Kalau disana kiainya angker ya. Kalau disini ndak. Guse, kiai sama santrinya makan bareng. Kalau masak ya masak bareng. Kalau mandi di tempat yang sama. Ya wes begitu.”

Mendengar kiai pondok angker, saya tertawa kecil. Kiai angker katanya. Tapi saya tak ambil pusing dan serius. Toh, dari nada dan ekspresi beliau tidak ada niat melecehkan. 

Percakapan yang terakhir adalah ketika semua pengajian telah usai. Semua kitab telah khatam (meskipun tak terlalu paham). Saya ‘sowan’ seolag sebagai perbincangan terakhir sebagai pesan-pesan yang akan saya bawa pulang. 

Pada senja yang tenang itu, saya bertanya :

“kiai, saya kan masih dalam proses belajar. Kalau mencari ilmu itu Kuncinya apa biar sukses?” tanyaku pelan. Berharap akan ada wejangan atau amalan yang diberikan beliau. 

“mencari ilmu ndak usah kunci. Yang perlu kunci itu pintu. Mencari ilmu ndak usah kunci.”

Hahaha.. Cukup terenyueh mendengar jawaban beliau. Sebagai kiai yang paham mantiq, sah-sah saja jawaban seperti. Beliau memakanainya secara denotasi. Dhohirnya saja. Saya diam. Tak mau menjawab, apalagi berdebat. Takut cangkolang (ngelamak, kalau kata orang Jawa).

“saya mau lanjut kuliah di nurul jadid kiai. Di ma’had aly.” Ungkapku. 

“ya monggo. Silahkan. Saya ndak bayari kok.”
Aw. Sekali lagi. Jujur, saya tertawa karena jawaban yang singkat, jelas dan apa adanya. Saya baru tahu ada kiai seperti ini. Untung saya kesini, dapat belajar langsung ke beliau. Saya jadi paham, bahwa orang panda ilmu agama bahkan sampai mendapat ‘titel' kiai harus jaga muruah dan eksklusif. Ada pula kiai model seperti ini. Apa adanya. 

“tapi masih ndak tau, kapan masuknya. Rencananya, kalau masih lama liburannya habis hari Raya nanti mau kesini lagi. Tapi kursus bahasa inggris dikampung inggrisnya kiai.”

“iya monggo kalau mau kesini. Disini selalu terbukak kok. Kalau mau belajar bahasa inggris, mending disini aja. Lebih murah, bisa belajar kitab sama bahasa inggris. Kalau disini cukup bayar 200 ribu untuk biaya makan sebulan sama kitabnya, terus seratus ribu buat bayar @Bung Kobay Kan dia mentor dikampung inggris. Kamu bisa belajar sambil ngopi atau ngajak jalan kemana mana. Dia pasti mau kok”

“oh, injeh kiai.” Aku meng-iyakan.
Di percakapan yang terlalu serius tadi, beliau kemudian bilang :

“Belajar agama kok di timur. Belajar agama itu dibart di lirboyo itu lho.”

Begitu katanya. Istilah timur itu untuk menggambarkan daerah probolinggo dan sekitarnya. Sedang barat untuk menggambarkan lirboyo, Kediri. Karena secara geografis, Probolinggo letaknya berada jauh disebelah timur lirboyo, Kediri. 

Tapi, apa mau dikata. Keputusan tetap mondok di nurul jadid sudah fix sejak dari awal. Mustahil mau berubah rencana. Bisa panjang urusannya dengan orang tua. Akhirnya, waktu terus berlalu. Saya tetap di nurul jadid. Tepatnya di ma’had aly.

....

Btw. Barangkali setelah membaca cerita tentang gedang sewu ini, ada tan saya yang berminat. Ingin ‘kursus’ juga katanya. Perlu digaria bawahi, di ALIBAMA ini hanya semuanya santri putra. Tidak ada santri putrinya. Entah kalau anda perempuan sowan dan mau mondok ternyata ndak papa. Ya monggo. 

Trus, disini kalau ngartikan kitabnya pakai bahasa Jawa. Bukan bahasa madura apalagi bahasa Indonesia. 

Bisa jadi pertimbangan.

Sekian. Terimakasih. 
Ttd, 

Alfim Haidar Ali. 

Posting Komentar

0 Komentar