Ada hari jum’at (25/07) malam sabtu ini, kegiatan akademik atau perkuliahan Ma’had Aly aktif kembali. Seperti biasalah, kalau awal tidak langsung nge-jos mengejar target materi yang sudah ditetapkan. Masih ada basa-basi, cerita-cerita, kitab yang belum tersedia, pembagian kelompok hingga arahan dan metode pembelajaran selama setahun ke depan nanti.
Tadi, jam pertama di kelasku kosong. Tidak ada dosen yang mengajar. Aku menyempatkan diri untuk menulis berita tentang hari ini, yaitu aktifnya kegiatan kuliah atau akademik di Ma’had Aly. Berita ini saya kirim ke infokom nuruljadid.net. Sebuah website miliki pesantren Nurul Jadid. Kebetulan, yang pegang media ini saya kenal orangnya.
Setelah selesai menulis, aku mengambil foto kyai yang kebetulan muroq (ngajar) di semester pertama putra di Musholla. Setelah selesai, saya coba mengirimkan tulisan dan foto ini. Tapi, oleh editornya, yakni Pak Po menjelaskan bahwa tulisanku banyak salahnya.
Ah. Barangkali ini teguran bagiku yang merasa bisa dalam menulis berita.
Bagaimana tidak? Saya menggeluti bidang jurnalistik, meski tidak terlalu intens membuat berita, sejak kelas satu Aliyah. Hingga menjadi pimred al-Amiri Pos, lalu sekarang di mahadaly.online.
Barangkali seperti itu, pesan dalam kehidupan santri untuk tidak meremehkan ilmu harus tetap di jaga. Ilmu apa saja.
Jangan merasa bisa, apalagi pintar. Kyai Romzi saja pernah berpesan untuk memberi makna kalimat demi kalimat kitab meskipun sampean sudah tahu artinya. Toh, perasaan sudah mengetahui dan bisa, pada hakikatnya hanyalah perasaan-perasaan saja. Bukan ilmu yang sesungguhnya, yang sebenarnya. Ilmu ini sangat luas sekali. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa, seandainya semua lautan didunia ini menjadi tinta dan pepohon seluruh dunia ini dijadikan pena, niscaya tidak akan habis ilmu yang ada di sisi-Nya.
Bahkan, Rusdi Mathari menuliskan buku cerita-cerita sufi dari Madura yang sangat saya rekomendasikan untuk di baca dengan judul, Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya. Karena seringkali apa yang kita alami dalam proses mencari pengetahuan sekadar “perasaan” ini-itu saja. Sehingga, buku ini semacam kritik bagi orang-orang seperti saya ini.
Kemudian, saya disuruh ke rumahnya pada esok harinya, mau diajarin buat berita. Oke. Saya terima. “namanya juga proses.” Gumamku.
Jam pertama itu usai. Urusan berita akan dilanjutkan esok hari. Kemudian saya memasuki jam kedua malam perdana akademika itu. Ustadz Faizin yang mengampu mata kuliah qowaidul fiqhiyyah muqoronah hadir tepat waktu. Karena pertemuan pertama, malam itu di isi dengan perkenalan, cerita dan tentunya terselip nasehat dan hikmah bagi kami pendengarnya.
Dulu, angkatannya itu santri yang ler-meler (nakal, red). Nakalnya santri sekarang tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan dulu. Kalau shubuh, Kiai Romzi yang bangunin santrinya. Kalau masih tidak bangun, Kiai Romzi bangunin lagi. Kalau ndak beliau, ya bu Nyai. Kalau bu nyai, banguninnya lewat jarak jauh, yaitu dengan hujan kerikil dan batu-batu yang dilemparkan. Atau kalau tidak begitu, beliau menepukkan tepuk tangan berkali-kali sebagai isyarat untuk segera bangun tidur.
Kalau Kiai Romzi, langsung datang ke kamar langsung. “ya begitu. Kiai Romzi dulu yang jadi ubudiyah.” Tutur Ustadz asal Bondowoso tersebut.
Tidak berhenti disitu, pak Faizin juga menceritakan bahwa meski angkatannya seperti itu, “Alhamdulillah, sepuluh orang ini jadi orang semuanya.” Ucap beliau. Jadi kiai maksudnya. Pak Faizin bilang, bahwa angkatannya itu ada sepuluh orang laki-laki, dan satu orang perempuan. Dalam hal belajar, pak Faizin berpesan agar proses belajar tidak hanya belajar di kelas saja. Kalau ingin alim, tapi mengandalkan belajar di kelas, ya tidak bisa.
Kalau angkatannya pak Faizin itu belajarnya di kamar. Diskusi setiap hari, setiap saat. “mun terro alem, pe odik kamarrah. Mun kamar tak odik, tak kera alem.” Artinya, kalau ingin alim, kamarnya harus hidup (dengan diskusi). Kalau kamarnya tidak hidup (dengan diskusi), tidak akan alim.” Begitu ucapnya.
Ketika di masanya pak Faizin, dulu di gang J hanya ada empat kamar. Kamar pertama itu kamarnya pak Faizin dan kawan-kawan. Kamar ini bagi orang yang serius ingin mendalami kitab kuning. Kamar kedua itu kamarnya kepala wilayah dan sekretaris. Kamar ke tiga itu kamarnya hadaman. Dan kamar terakhir, itu bagiannya yang ler-meler. “jadi kalau saya ingin refreshing, saya ke kamar terakhir sini (keempat). Disana nobar dan sebagainya. Karena kalau di kamar saya bagiannya tidak ada yang punya laptop.” Ungkap beliau.
Setelah cerita selesai, beberapa dari kami tampak semangat sekali untuk berdiskusi. Ia sepertinya meresapi dengan betul dawuh pak Faizin tersebut. Tapi, juga ada yang biasa-biasa saja. Ketika waktu pertemuan perdana itu usai, teman saya yang semangat itu langsung sangat terobsesi untuk berdiskusi. Ia bahkan menulis di atas pintu kamar ucapan pak Faizin itu dan menjadikannya sebagai semboyan kamar. Ia menulis, “Mun kamar tak odik, tak kera alim.”
“Siap. Siap. Kalau kayak gini kan kompak. Lebur.” Komentarku.
Setelah bincang sana-sini terkait diskusi, seluruh mahasantri takhossus Ma’had Aly menuju musholla. Terdapat sosialiasi terkait sistem pembelajaran selama setahun kedepan. Dari Ustadz Irfan, Ustadzah Zainab, Ust. Taufiquurohman (guru tugasan dari PP. Bata-bata), Ust. Qusyairi hingga Pak Suli selaku Naib Mudir memberikan sambutan. Ada pesan-pesan, juga kesan. Tapi saya ingin menyampaikan beberapa kalimat sambutan dari orang terakhir tadi.
Ustadz Suli membeberkan langsung kelemahan Ma’had Aly. Kelemahan disini tentunya sesuatu yang wajar dan kita tidak perlu alergi. Justru dengan ada yang memberi tahukan celah pada tubuh di lembaga ini, kita jadi tahu letak kesalahan dan bagian mana yang harus di perbaiki.
Beliau mengawalinya dengan ucapan diplomatis kepada kami, “bukan mau membandingkan ya, kalau di Ma’had Aly Situbondo itu anak-anaknya kalau diskusi tidak pernah diatak (baca : disuruh).
Mereka ada kesadaran sendiri. Jadi, dalam masalah belajar –kalau kita mau mengaca kesana dan introspeksi pada diri sendiri- kita seharusnya tidak diatak lagi dalam masalah belajar, lebih-lebih diskusi.” Itu poin pertamanya
Dan lagi, beliau juga menekan poin kedua, yakni terkait semangat belajar. Ustadz Suli sangat menekankan agar mahasantri semangat dalam belajar. Ada kesamaan beliau dengan saya, yang tertegun dan tergugah saat mendengar dawuh dari Lora Imdad Rabbani saat iftitahud dirosah kemarin malam.
“saya itu tertegun ya, saat Ra Amak bilang bahwa, masak kita kalah dengan para orientalis yang belajar berjam-jam di perpustakaan. Mereka belajar dengan sungguh-sungguh, padahal untuk kejelakan, yakni menghancurkan agama islam. Tapi kita, yang berada di jalur yang benar, kok tidak seperti mereka. Jujur, ucapan itu membuat saya tersinggung.” Ungkap Pria asal pulau Ra’as tersebut.
Terkait ucapan ra Amak yang terakhir tadi, saya sempat menuliskannya di dalam buku “latihan untuk calon penulis” karya Puthut Ea. Saya menulisnya dengan judul, “Sebuah Permintaan Maaf: Surat Untuk Lora Amak”. Saya tertegun dan tergugah, tapi apalah daya semua usaha dalam belajar memang harus dimulai dari yang terkecil, terus menerus, hingga mendarah daging bahkan rasa semangat atau rasa ingin tahu yang besar dalam khazanah ilmu keislaman itu masuk ke dalam tulang sumsum kita.
Sebagai penutup, tulisan ini ditulis lewat dini hari pada sabtu, 25 Juli 2020 dan selesai (dengan koreksiannya) berkisar pukul 10.39 WIB.
Sekian, terima kasih.
Ttd
Alfin Haidar Ali.
0 Komentar