“Bukan masalah upload tulisannya, tapi tentang menulisnya. Menulis setiap hari. Anda mampu tidak ?”
Kalimat itu saya ucapkan pada diri sendiri. Meski ada dua tulisan yang telah saya buat untuk di upload di blog, saya mencoba memaksakan diri untuk menulis. bukan menulis di buku, tapi di laptop. Karena posisi saya sebagai mahasantri, jadi menulis di laptop setiap hari ada tantangan tersediri. Seperti padatnya kegiatan, peraturan yang melarang hingga rasa malas yang terus berdatangan.
Tapi tak apalah. Toh, menulis ini perlu kebiasaan. Bukan sekadar untuk suatu kejuaraan, lomba dan menang - menangan.
Kegiatan menulis setiap hari ini sebenarnya sudah muncul ketika liburan lama akibat pandemi Covid-19. Dan itu pun baru berjalan dua tulisan setengah, setelah itu tidak menulis lagi.
Kemudian, beberapa hari yang lalu saya mendengar kabar kalau Ahmad Rifai Rif’an, salah satu penulis yang bukunya banyak best seller di tanah air membuka lowongan menulis buku antologi.
Mumpung ada uang lebih, akhirnya saya mencoba untuk mengikutinya. Pendaftaran terakhir tanggal lima juli, dan panduan menulisnya dikirim pada tanggal tujuhnya.
Pada tanggal tujuh itulah, saat pihak tim Mas Rifa’i memberikan panduan menulis buku antologi tersebut, ternyata saya tidak hanya menerima itu saja. Tapi juga e-book “beginilah saya menulis” yang berisi tentang cerita mas Rifa’i berproses menjadi seorang penulis yang cukup dikenal di Indonesa.
Dalam salah satu bahasannya, ia mengulas tahapan untuk menjadi penulis.
Setidaknya, ada empat tahapan untuk menjadi penulis :
1. Asal suka nulis
2. Asal jadi satu buku
3. Asal terbit
4. Asal best seller
Setelah mengkhatamkan e-book yang berisi tujuh puluh halaman tersebut, saya tertegun. Diam. Gairah menulis saya kembali lagi. Dimana akhir-akhir ini disibukkan dengan kegiatan persiapan wisuda, saya bertekad untuk menulis di blog lagi. Setelah lama. Luama sekalii. Bahkan ketika liburan yang cukup panjang itu sepertinya tidak ada satu tulisanpun yang saya upload di blog.
Uh..
Satu lagi, saya menyesal. Rencana untuk menulis setiap hari yang pernah berjalan dua kali, lalu mogok berkali-kali itu, akhirnya terasa. Saya menyesal, kenapa dulu kok berhenti menulis ? mengapa harus kalah dengan rasa malas ? dan lain sebagainya.
Dengan kejadian ini, setidaknya ini menunjukkan saya adalah manusia biasa. Yang tidak selalu idelis dan selalu berjalan di garis yang lurus. Terkadang alpa, lebih sering lagi berbuat dosa.
Jadi, apabila ada pembaca ingin unek-uneknya saya narasikan, silahkan komentar di kolom komentar di blog saya. Terima kasih. 😊
Ttd
Alfin haidar ali

0 Komentar