Malam ini, hendaknya kita bersyukur masih diberi segala kenikmatan yang diberi oleh-Nya tanpa kita minta dan seringkali kita tidak menyadarinya. Seperti nikmat hidup dalam keadaan rukun, aman, damai hingga tubuh sehat, hidup enak dirumah dan masih lancar untuk mengeluarkan air seni. Ups, maaf agak jorok. Tapi begitulah, bisa kencing, kentut hingga kantuk beberapa diantara nikmat yang luput dari perhatian kita.
Kata Allah, وان تعدوا نعمة الله Ù„Ø§ØªØØµÙˆÙ‡Ø§ (Apabila kalian menghitung nikmat Allah, maka kalian tidak akan mampu menghitungnya).
Untuk seri tulisan-tulisan ini, saya akan menulis sesukanya. Setelah menulis, serasa cukup, edit tata bahasa sebentar lalu akan saya post di blog. Namanya alfinkarangan.blogspot.com. Bila masih kesulitan mengaksesnya, anda bisa mencari link tersebut di bio fb saya.
Kok tanpa judul ?
Iya, biasanya sebelum menulis nemu ide, judul lalu kerangka tulisan yang akan saya tulis. Tapi pada masa liburan ini, saya coba untuk merefleksikan kejadian sehari-haru, pembacaan pikiran sekaligus membiasakan diri menulis tanpa harus menemukan judul terlebih dahulu. Meskipun saya sering menulis ketika sudah menemukan judul sebuah tulisan. Postingnya tidak kemana-kemana, di blognya saya.
Sebenarnya, dari muqoddimah hingga barusan ini adaah basa-basi. Dari tadi saya masih belum menulis apa yang ada dikepala saya. Dikepala ini, ingin sekali menulis yang dimulai dengan kata “malam ini” yang bercerita suasana hujan tidak henti-hentinya dari siang hari tadi.
Baiklah, kita mulai.
Malam ini, keadaan seikitar mulai sepi. Hujan sudah selesai tinggal meninggalkan embun di dedaunan, juga kenangan dalam ingatan. Tak ada yang benar-benar sepi, kita saja yang ingin menenangkan diri. Pada hakikatnya semua benda berbunyi, termasuk ingatan-ingatan pada masa lalu.
Para manusia, lebih-lebih penyair sastrawan, penyair dan budayawan sering menyebut ini kata ini, namanya kenangan.
Oleh karena itu, penting sekali yang namanya kontrol diri. Menguasai diri ini dari hal-hal yang tidak perlukan. Termasuk kenangan yang memilukan hingga keresahan yang tidak diundang.
Hujan telah selesai menari-menari.
Barangkali, tuhan telah selesai membuka pintu langit dan menurunkan rahmatnya. Pintu langit ditutup kembali dan akan dibuka selebarnya-lebarnya beberapa jam lagi. Di sepertiga malam, saat para malaikat turun menjemput doa-doa.
Rahmat tuhan kini sedang bersemayam pada tetumbuhan, pepohonan dan juga hati para hamba-nya. Melembutkan hati yang keras melebihi batu, menjernihkan hati yang keruh seperti air, melapangkan dada orang mukmin yang senantiasa bersabar, bersyukur dan berprasangka baik atas setiap kejadian yang menimpanya.
Malam jum’at, salah satu malam yang cukup istimewa. Entahlah, istimewa mengapa. Pada hari kamis, semua amal diangkat kelangit sampai pada hari ini disunahkan untuk berpuasa. Kata nabi, beliau lebih menyukai amalnya diangkat bila ia sedang dalam keadaan berpuasa.
Tadi, h+ 5 sampai 6 lebaran. Masih awal dari bulan syawal. Bulan yang disunahkan untuk umat islam berpuasa enam hari. Tidak harus berturut-turut. Bisa kapan saja, asal masih bulan syawal. Kata nabi, barangsiapa yang berpuasa di bulan ramadhan lalu dilanjutkan berpuasa enam hari di bulan syawal, maka ia seperti berpuasa satu tahun lamanya.
Waktu menunjukkan pukul 00.05, tulisan haru segera diakhiri meski masih ada kata didalam kepala. Waktu sudah larut malam, kita harus tidur untuk melanjutkan mimpi, menenangkan fikiran dan mengistirahtkan badan.
Wassalam...
*tulisan selanjutnya insyaallah akan saya lanjutkan besok. Doakan saja selalu istiqomah. Amiin...

0 Komentar