Trending

6/recent/ticker-posts

Gus Ulil: Kritik dan Teladan Beliau



Mendengar kabar Kiai Ulil mengadakan pengajian pasanan kitab al-munqidz dan ihya’ ulumiddin, jujur, hati saya bergembira dan dugaan saya tentang beliau ketika mengenal nama “Ulil Abshar Abdalla” ketika duduk dibangku Aliyah semakin terbukti.

Dulu, saat masih sekolah di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) Nurul Jadid, saya iseng-iseng ingin belajar islam liberal, yang dalam gambaran saya saat itu adalah islam yang dipahami oleh sebagian kelompok untuk melakukan tindak kejahatan, kekerasam dan gerakan ini sudah popular di dunia. Cari buku sana-sini di perpustakaan MAK, ternyata tidak ketemu juga. Pada suatu kesempatan, tiba-tiba saja saya menjumpai teman sekelas saya membaca buku yang judulnya “Menjadi Muslim Liberal.”

“wah, ini buku yang saya cari.” Gumamku dalam hati.

Saya kira, buku ini akan menerangkan islam garis keras, paham ekstrimisme dan sangat jauh dari ajaran ahlussunah wal jamaah sebagaimana yang di ajarkan oleh ulama Nahdlatul Ulama (NU). Tapi, isi buku tersbut jauh dari yang saya kira. Justru saya dibuat terkagum-kagum oleh isi buku itu. 

Gagasan-gagasannya jarang saya temui, bahasanya ringan, mudah dipahami dan progresif.

Saya lalu penasaran dengan penulisnya, Ulil Abshar Abdalla. Seingat saya saat itu saat membaca biografi penulis, beliau merupakan menantu dari Gus Mus dan pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL).

Mendengar kata liberal yang disandingkan dengan kata Islam, saya tidak mengernyitkan alis ataupun marah. Karena pada saat itu saya akhirnya tahu pemikiran beliau tidak melawan dan melenceng dari ‘doktrin’ NU. Meskipun, pada saat itu pula saya juga membaca beberapa majalah yang mengkritik orang yang bernama ‘Ulil abshar Abdalla.’ Kata mereka, duri didalam daging. Maksudnya, orang yang lahir dan tumbuh di kalangan NU, belajar keluar negeri, dan pulang ke Indonesia lalu menjadi ‘liberal.’ 

Secara sekilas kan ngeri dengernya.

Saya semakin penasaran, seperti apalah sosok orang ini. Menyeramkankah ? kok beliau dikritik begitu kerasnya.

Lalu, dalam suatu kesempatan, saya searching nama beliau di facebook. Setelah muncul, hari demi hari facebook beliau disesaki oleh postingan tulisan beliau. Membaca tulisan-tulisannya, saya semakin yakin kalau beliau adalah orang yang progresif. Beliau bertindak tidak seperti kebanyakan kiai-kiai NU yang notabene masih ‘tradisional.’

Dalam salah satu postingannya, beliau mengungkapkan bahwa pada tahun 2001, beliau bersama kawan JIL menyerang pemikiran HTI. Saat itu masih jarang para tokoh NU atau Muhammdiyah yang mengetahui bahayanya kelompok ini. Saat ini, kerja JIL sudah diambil oleh kalangan NU dan Muhammdiyah yang lebih teroganisir. Kini ‘jihad’ beliaupun bertransformasi, yakni Ngaji Online Ihya’ ulumiddin. Baginya, untuk menghadapi pemikiran HTI, orang-orang perlu mendapat ajaran tasawuf dari sumber yang otoritatif. Karena pemahaman keagamaan yang keras biasanya dilandasi oleh kemarahan dan absennya dimensi sufistik atau tasawwuf didalamnya.

Bagi saya pribadi, dengan adanya ngaji online kitab ihya’ ulumiddin dan al-munqidz (autobiorafi Imam al-Ghazali) ini semakin menunjukkan kapabilitas keilmuan beliau. Meskipun sudah banyak pujian yang disematkan pada beliau, seperti kata-kata "kiai ulil abshar, dulu di kritik dan kini dipuji." tapi tetap bagi saya, Seolah-olah beliau seakan membalas para pengkritik beliau saat baru beraksi dengan kelompok bernama JIL dengan santun dan sopan, “yakin masih menganggap saya liberal ?”

Padahal di kalangan pesanten saja, sedikit sekali santri yang dapat membaca dan memahami kitab ihya’ yang sering diaggap masterpiece-nya Imam al-Ghazali. Seandainya ada, itu dapat dihitung dengan hitungan jari.

Kata Kiai saya di pondok, kitab Ihya’ ini bukan sembarang kitab. Para ulama sampai mengatakan, orang yang mempunyai kitab ihya’ didalam rumahnya -insyaallah- rumahnya tidak akan kebakaran. Di lain kesempatan beliau juga sempat dawuh bahwa kitab ihya’ ini bukan kitab biasa. Ini biasanya diajarkan pada wali (wali Allah). Tapi, kiai saya tetap mengaji kitab ihya’ di pondok pada santri-santrinya meskipun tidak semuanya akan menjadi wali Allah karena mendapat ‘intruksi’ langsung dari gurunya, yakni KH. Maimoen Zubair.

Akan tetapi, di tangan dingin Kiai Ulil, ‘sakralitas’ kitab ini dapat dinikmati oleh semua kalangan (yang ikut ngaji tentunya). Ngaji online ini, seperti kata mbak Ienas Tsuroya di akun twitternya, ngaji online ini diikuti dari berbagai kalangan. Baik muda ataupun tua. Jawa maupun luar jawa. Bahkan ada yang dari luar negeri. peserta ngaji online ini telah menembus sekat-sekat geografis.

Apalagi, Kiai Ulil juga menulis artikel setiap harinya pada bulan Ramadhan yang diterbitkan di mojok.co tentang “wisata akidah bersama al-Ghazali.” Ini satu teladan bagi saya. Beliau tidak hanya berbicara keagamaan di media massa dengan ngaji onlinenya, tapi beliau menulis. Ini yang spesial. 

Bukannya membandingkan, tidak banyak kiai seperti beliau yang seringakli berbicara mengenai keilmuan keagamaan yang ia kuasai, tapi sedikit yang bisa menulis. Meskipun saat ini mulai digalakkan kegiatan-kegiatan untuk mencetak peneliti atau penulis dari kalangan pesantren.

Kita sebagai santri di pondok saja, yang banyak mengikuti pengajian kitab kuning, tidak menulis bahkan tidak terbayang untuk menulis artikel setiap harinya setiap selesai mengaji. Barangkali menulis artikel setiap hari terlalu berat, seminggu sekali, dua minggu sekali atau bahkan sebulan sekali barangkali belum ada yang mencobanya. Tapi ini dugaan saya, dan saya sangat senang bila dugaan saya salah.

Terimakasih.. 

#kuisngajiihya’
#kesanngajionline
CC Ulil Abshar Abdalla
Ienas Tsuroiya

*Artikel ini ditulis saat Gus Ulil & Mbak Admin mengadakan "lomba menulis" kepada jamaah santri online pengajian beliau. Tulisan ini diambil dari laman facebook saya, meski dengan sedikit perubahan di dalamnya. 

Posting Komentar

0 Komentar