Trending

6/recent/ticker-posts

A Hope For Better Day


“hore, aku tak lulus.”
“bareng sama aku.” Tos... Kedua tangan mereka melakukan tos layaknya kawan lama yang berhasil mengeksekusi rencananya.

Aku melihat mereka. Matanya berkaca-kaca. Salah satu temanku bilang, “nilai ini beneran ustadz? Tidak ada prank?”
“tidak ada prank. Ini beneran.” Jawab ustadz itu dengan tenang.

Aku coba mendekat hasil pengumuman itu. Alhamdulillah. Aku lulus. Dari dua puluh lima anak putra seangkatanku, hanya dua belas anak yang lulus. Dua belas anak itu akan diwisuda pada tanggal 9 juli 2020. Aku senang karena lulus, tapi tidak gembira karena kami harus berpisah dari teman-temanku.

Riuh-rendah kesenangan kami malam itu berubah hening seketika. Tidak ada yang menangis. Aku tahu, kesengan mereka hanya untuk menutupi kesedihan saja. Karena bagi seorang laki-laki pantang untuk menangis, tapi seperti yang dikatakan Rusdi Mathahari dalam salah satu judul bukunya, “laki-laki memang tidak menangis dik, tapi, hatinya berdarah.”

Aku terdiam sejenak. Mencoba menangkan diri. Aku yakin, meski mereka bersorak-sorak saat melihat hasil pengumuman tes kenaikan marhalah (baca : kelas), tapi pada hakikatnya mereka sedih. Kami semua sedih. Meski tidak ada yang menangis. Siapa yang bahagia saat tidak bersama lagi dengan teman-teman yang sudah satu tahun lebih bersama saat ajaran baru nanti?

Kejadian itu terjadi (kalau ndak salah) sekitar pukul 22.00 WIB. Beberapa temanku itu langsung menyiapkan kendaraan dan sejumlah uang. Mereka bermalam di luar. Menghilangkan kesedihan. Aku hanya memakluminya. Dalam hati aku berdoa, “semoga mereka diberi ketabahan dan kesabaran.”

*** 

Beberapa harinya, Rony bertanya padaku, “kamu sedih ndak fin, Rofi ndak lulus ?”
“Sedih. Sedih banget malahan. Siapa yang bahagia dalam kondisi seperti ini. Tapi begitulah, keadaan yang kita anggap baik, belum tentu dalam skala besar adalah yang terbaik. Mungkin kita mengira bila semua anak bila tes kenaikan selalu lulus, tapi kenyataannya tidak. Ini yang terbaik. Kita tidak bisa menghindar.” Jawabku agak menguatkan diri.

Waktu terus berjalan. Begitupula dengan takdir tuhan. Keduanya memiliki persamaan, tidak mengenal perasaan manusia apakah siap untuk menerimanya atau tidak. Yang perlu dilakukan manusia adalah membesarkan hati seluas-luasnya, seluas samudera. Agar hatinya mampu menerima segala hal dengan ikhlas, lapang, pasrah dan sabar. Tapi semua itu tidak cukup, perlu ada keyakinan. Bahwa ini bukan segalanya. Masih ada harapan untuk masa depan, untuk kehidupan yang lebih baik. Hope for A Better Day.

Tidak lulus ujian atau sekolah bukan akhir dari kehidupan. Perjalanan masih panjang. Kesuksesan tidak hanya diukur dengan angka-angka yang sangat terbatas. Setiap manusia memiliki keistimewaan masing-masing. Kata Einstein, semua orang jenius. Tapi jika anda menilai ikan dengan kemampuannya memanjat pohon, ia akan menjalani hidupnya dengan percaya bahwa itu bodoh.

Begitu pula dengan teman-teman yang tidak wisuda pada hari ini. Mereka adalah orang jenius (dalam bidangnya). Barangkali yang berada di Ma’had Aly akan paham kitab kuning dan menjadi ulama’, tapi bisa jadi mereka adalah orang-orang yang sangat mengharumkan nama Ma’had Aly, Nurul Jadid, Indonesia bahkan agama Islam dengan potensi dan kejeniusan mereka dalam bidang dan suri tauladan mereka.

Pemahaman ini sangat mudah dicerna. Tapi disaat gagal, sedih, galau, pikiran menjadi kalut dan galau. Perlu ada orang yang mengingatkan mereka akan hal ini. Tapi saat momen-momen seperti ini aku tidak mendengar dan melihat seperti ini.

Aku ingin mengingatkan, tapi ada saja yang mengagalkan rencana ini. Melalui tulisan ini, semoga mereka juga membacanya. 

Sampai, aku bercerita ke Syamsi, “kasian mereka yang tidak wisuda ya si.”
“Iya fin. Biasanya, saat ada panggilan demonstrasi (Baca : kegiatan tanya-jawab seputar kitab kuning untuk ditampilkan saat wisuda), mata Rafi menetaskan air mata. Tapi ia tidak cerita ke teman-teman. Aku tahu cerita ini pun tidak dari Rafi, tapi dari Irul. Teman Akrabnya. Adik kelas kita.” Jawabnya.

Urusan tangguhnya mental seseorang memang urusan pribadi. Tapi, sebagai teman, seharusnya saya turut membesarkan hati mereka untuk tidak sedih berlarut-larut. Memang, sesautu yang tidak sesuai dengan semangat zaman akan tertinggal dan tertindas, tapi kemanakan semangat zaman ini mengantarkan kita ?
Ttd, 
Alfin Haidar Ali

Posting Komentar

2 Komentar