Pada malam jumat ini, saya coba meluangkan waktu untuk menulis. Mencoba untuk lebih mengakrabkan diri menulis langsung ke laptop. Alhamdulillah, saya memiliki laptop pada awal-awal kuliah dulu, meski orang tua agak memaksa membeli barang ini karena ekonomi yang cukup pas-pasan saat, akhirnya saya memiliki juga laptop. Benda ini sangat membantu dalam menunjang karya saya untuk di kirim ke media-media daring maupun cetak. Semoga saja selalu semangat dan rajin menulis agar diterbitkan di media-media.
Sebenarnya, banyak yang sliweran dikepala ini yang menggugah untuk ditulis. Tapi apalah daya, tumpukam males seringkali lebih berat ketimbang melayani ajakan itu. Menulis. Kata As. Laksana, penulis pemalas setidaknya dapat membuat novel dalam jangka lima tahun.
Tapi, menulis rasanya kurang ‘afdhol’ bila tidak membaca. Bahkan ada yang bilang, “untuk menulis itu perlu membaca. Bagaimana mau menulis sedang ia tidak mau membaca ?.” sebenarnya saya kurang setuju sepenuhnya pernyataan ini. Ada banyak tafsiran. Tapi saya tidak langsung menjustisnya salah. Karena setiap ungkapan selalu ada celah untuk dibenarkan maupun disalahkan.
Dilain esainya, As. Laksana juga menerangkan tentang tips membaca. Katanya, untuk dapat membaca dua buku dalam sepekan yaitu dengan meluangkan dua jam setiap harinya untuk membaca. Membaca buku tentunya. Saya pernah mencoba. Tidak sampai dua jam, saya mengantuk dan tertidur. Saya lanjutkan setelah tidur, disela-sela waktu kosong. Kemudian, pada esok harinya justru tidak membaca sama sekali. Memegang buku saja tidak. Saya tidak melaksanakan sarannya.
Saya pernah mendengar kata-kata, “bisa karena terbiasa” atau “perbuatan baik itu perlu dibiasakan.” Dalam hal membaca, barangkali perlu dibiasakan. Agar semakin terbiasa dan bisa melaksanakan saran As. Laksana. Membaca buku dengan durasi dua jam perhari. Kesalahan saya berhenti melaksanakan saran itu karena menganggap membiasakan membaca sejak hari pertama harus langsung dua jam. Padahal tidak juga kan ?
Itu terserah kita. Bahkan tidak melaksanakannya tidak apa-apa. Tapi saya sarankan tetap membaca.
Seharusnya, saya membiasakan membaca secara rutin setiap harinya secara bertahap. Tidak langsung dua jam. Mungkin lima sampai sepuluh menit dulu, baru nambah sedikit demi sedikit. Hingga konsisten membaca dua jam perhari, bahkan lebih. Itu sebuah kabar gembira. Tapi, siapa yang mau melakukannya ? Bahkan saya pun belum.
Salah satu ciri anak milenial adalah belajar melalui benda yang sering dipegang di tangannya, yakni hp android. Biasanya, anak ini belajar melalui aplikasi youtube melalui konten-konten orang yang berpartisipasi untuk menyalurkan bakat atau keahlian dalam bidang editing video. Begitu pula saya, sesekali berselancar ke youtube untuk mencari solusi atas permasalahan ini, yakni malas. Malas membaca buku.
Dari buka sana-sini itu, saya menemukan salah satu teori yang digunakan oleh orang jepang sehingga mereka memiliki etos kerja yang tinggi dan memiliki budaya hidup yang lebih baik. Teori tersebut dinamai KAIZEN.
Intinya, teori itu menjelaskan bahwa orang jepang sejak kecil diajari untuk melakukan suatu hal yang baik setiap satu menit di hari dan di waktu yang sama. Satu menit setiap hari dan diwaktu yang sama.
Hal ini bisa diterapkan pada apa yang anda ingin tekuni. Semisal membaca, menulis, push up, melukis dan lain sebagainya. Teori atau –saya lebih suka menyebutnya prinsip hidup- ini memang kelihatan sepele. Saya pernah menyarankan pada seorang teman terkait hal ini. Ia bilang ingin mengurangi berat badan dan saya sarankan agar ia berolahraga satu menit setiap hari. Ia sepertinya menyepelekan, saya biarkan saja. Toh, ini sebenarnya haknya, mau melakukan saran saya atau tidak.
Dua minggu kemudian, bagaimana hasilnya ? ia sepertinya olahraga tapi tidak rutin setiap hari. Aktivitas sehari-harinya sama seperti biasanya. makan-tidur-main hp, ada pekerjaan lain, tapi tak terlalu menguras tenaga. Padahal kan sepele, satu menit saja setiap harinya.
Sebenarnya, prinsip hidup Kaizen ini tidak berhenti disitu. Dalam setiap harinya, bila anda sukses melaksanakan kebiasaan baik itu setiap harinya, biasanya anda akan merasakan bahagia. Karena anda telah selesai melaksanakan kewajiban yang anda wajibkan terhadap diri anda sendiri. Seiring berjalannya waktu, durasi waktu mengerjakan hal tersebut akan bertambah sendiri. Meski sedikit demi sedikit.
Begitulah, kata temanku, hidup itu tidak spontan. Ada tahapan, ada proses. Ini pemahaman hidup sederhana, tapi banyak yang melupakannya. Karena di dalam kepalanya telah banyak informasi yang ia terima dan sulit lagi untuk berpikir jernih. Menyadari dan memaknai pemahaman-pemahaman sederhana tentang kehidupan seperti barusan.
Apakah saya pernah mencoba prinsip hidup ini ?
Alhamdulillah pernah dan berjalan beberapa hari. Tapi tidak berlangsung cukup lama, mungkin tidak sampai seminggu. Setelah itu berhenti dan tidak melanjutkannya lagi. Ah, sulit juga untuk konsisten.
Dipesantren, konsistensi sering dibahasakan dengan kata istiqomah. Maknanya sama, terus-menerus. Biasanya santri atau ustadz yang membahas perihal istiqomah ini akan melengkapinya dengan maqolah, al-istiqomah ‘Ainul karomah atau maqolah lain al-Istiqomah khoirun min alfi karomah yang artinya istiqomah itu sumber kemuliaan dan istiqomah itu lebih baik daripada seribu kemuliaan.
Begitulah, dipesantren diajarkan betapa pentingnya istiqomah. Konsistensi. Sampai ada maqolah seperti itu. Tinggal kita resapi dalam-dalam lalu mengamalkan. Kata danil carbidge, salah seorang filsuf Eropa bilang, pengetahuan tidak memiliki kekuatan bila tidak dilaksanakan (diamalkan).
Sebenarnya mau nulis apa sih ?
Entahlah. Saya hanya nulis. Barangkali setelah transformasi unek-unek yang ada di kepala saya ini dibutuhkan orang lain.
Ttd,
Alfin Haidar Ali

0 Komentar