Begitulah, orientasi manusia rupanya "menjadi". Jadi dokter, tentara, polisi, dan lain sebagainya. Sewaktu kecil dulu, ketika ditanya cita-citanya, pikiran manusia sudah diajak untuk berfikir ke arah "menjadi". Jadi ini, jadi itu dan jadi apalah itu.
Mengapa hidup manusia tidak ala kadarnya saja?. Makan ya makan, minum ya minum, tidur ya tidur. Menempatkan sesuatu pada tempatnya. Sudah. Cukup. Bereskan?
Ah, itu kan kamu, bukan saya, dia atau siapa saja. Dunia berubah, bergerak dan tidak diam. Berevolusi katanya. Dari zaman batu hingga zaman media sosial seperti ini.
Proyek dan temuan dari berbagai disiplin ilmu semakin marak, dan manusia dituntut bergerak sedemikian cepat mungkin. Kalau tidak, silahkan. Mati kau ditelan zaman.
"Kalau hidup sekedar hidup, babi hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja. " kata buya hamka. Entah , salah apa tidak. Kurang lebih begitulah.
Jadi, apa yang perlu ditambah?
Niat beribadah kah agar hidup banyak pahala? Berinovasikah yang berasal dari asil dari eksplorasi ilmu pengetahuan dan teknologi ? Atau sekadar hasrat agar dibilang maju oleh negara negara dunia ?
Ah, aku tak paham mengartikan semua yang ada dibalik semua ini.
Siapa yang tidak mau maju?
Orang normal, apalagi orang-orang berpendidikan, terdidik ilmu pengetahuan dan terpelajar pasti mau maju. tapi, maju seperti apa dulu ? maju dalam hal apa dulu ?
Tapi, istilah maju/kemajuan/madani dan semacamnya mau kau artikan bagaimana ? Bagaimana ya, bukan apa dan kapan dan dimana.

0 Komentar