Sebenarnya, banyak hal Yang bisa ditulis dalam keseharian kita. Dari bangun sampai tidur lagi.
Mulai dari percakapan Yang mengandung hikmah, peristiwa menyenangkan Dan kejadian - kejadian Yang kita anggap perlu ditulis Dan dikenang.
Seperti kejadian pada tiga hari lalu.
Malam itu, suasana sepi-sepi ramai. Hanya kami beranjak menuju sebuah kafe yang berada didekat alun-alun kecamatan. Meski kecamatan, daerahku ini memang terkenal ramai bahkan hingga memiliki alun-alun sendiri.
Suasana ramai oleh pemuda, beberapa pemudi berkerudung Dan berpakaian sedikit seksi tampak berbincang disana-disini bersama gerombolan lelaki. Entah mereka pacaran atau sekadar teman, atau bahkan sudah menikah.
Waktu tak berhenti berputar. Kami gunakan waktu malam hari dengan berbincang-bincang layaknya pemuda lainnya.
"Kopi satu bang. " kataku.
"Iya mas. Temennya mesen apa mas? "
"Kamu mesen apa bro ?"
"Hhmm... Extra jos tiga. Pakai gelas besar."
"Kok beli tiga? Satunya siapa? "
"Abduh katanya mau kesini"
Aku tetap dengan kopiku, Dan kami tetap ngobrol layaknya pemuda biasanya. Ngomong sepeda gede, temen-temen kelas, handphone terbaru Dan Yang tak lupa adalah wanita.
Ketika ngobrol dibagian seru-serunya inilah, Abduh datang dengan sepeda ninjanya. Dengan Suara motornya yang khas dan keras, beberapa gerombolan pemuda lain sempat menoleh pada kami.
Tiba-tiba, abang yang berjualan minuman pada malam hari itu langsung menaiki montor ninja milik Abduh. Kami tidak menyangka hal itu akan terjadi demikian Dan sangat cepat. Kami terperanjat, semua mata terpetangah.
Aku melihat meja kedai abang tersebut, ada beberapa botol alkohol. Ah, ia pasti mabuk, ucapku dalam hati.
"Ayo!! Kita kejar, ia pasti mabuk Dan tidak jauh dari sini.
Kamipun bergegas, tanpa aba aba langsung kebut kebutan menuju jejak suara motor ninja itu. Akhirnya, disebuah pemakaman umum ninja merah itu kami temukan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 00.15 WIB. Dini hari sekali.
Malam hari membuat kami agak kesulitan menemukan abang tersebut. Tiba-tiba terdengar suara sesenggukan. Ada orang disana, entah siapa.
Ternyta, abang itu tidak terlalu sadarkan diri. Bau alkohol dari mulutnya masih semerbak. Aku masih sempat menutup hidungku. Ia masih sesenggukan, agak tertidur. Ia tergeletak disebuah makam.
Dari matanya keluar air. Air mata. Merembes, mengalir membasih pipinya. Dengan sedikit keberanian, aku mencoba lihat nama pada batu nisan tersebut.
"Sumiati"
Ah, itu nama ibunya. Kuburan ibunya.
😞
~
22 Desember...
Selamat hari ibu..
Nb : ini hanya fiksi, bukan kejadian nyata. OK.
0 Komentar