Trending

6/recent/ticker-posts

Lanjut Lirboyo: Sedikit Kisah Perjalanan Daftar M2 Ma'had Aly Lirboyo - Menetap di Talun

                      


Pada hari Rabu, 23 Mei 2024, kira-kira waktu Maghrib setempat, aku dan Ust. Muzayyin sampai di depan Pondok Lirboyo. Kamu melakukan perjalanan dari Paiton sekitar jam setengah 11 siang. Menuju Surabaya, nyantai sebentar. Makan, lalu kami berangkat dengan naik bis menuju Kediri, tepatnya Lirboyo.

Sesampainya di depan Lirboyo, aku dan Ust. Muzayyin masih duduk di tempat duduk pelanggan Alfamart. Kami ngobrol santai, lalu menjelang isya' kami menuju Rusunawa. Rusunawa Lirboyo memang diperuntukkan bagi tamu atau tempat sambang walisantri yang hendak menginap atau sekedar rehat sejenak.

Kami datang lebih awal. Keesokan harinya, Kamis siang, aku menjalani proses tes tulis. Lalu Jumat siang (bada sholat Jumat), aku menjalani tes lisan. Ujian itu tentunya tidak mudah, aku sempat gelagapan saat baca kitab Kanzurroghibin. Tapi, secara umum Alhamdulillah lancar. Terimakasih atas semua proses ini.

Sebenarnya, kami hendak beranjak pulang Jumat sore itu. Setelah tes mau langsung pulang, tapi aku coba mencari kawanku sore itu. Namanya Yasin, teman seangkatan dulu ketika sama-sama duduk di bangku aliyah. Ternyata tidak ketemu. Tapi, setelah tanya kesana-kemari, setidaknya ada petunjuk: asrama Yasin kemungkinan besar tidak di induk (pusat). Wilayah satelit atau pondok unit yang kemungkinan besar ditempati Yasin adalah asrama Haji Ya'qub (HY).

Waktu sudah masuk Maghrib. Kami memutuskan untuk kembali ke Rusunawa. Aku sebenarnya mendapat amanah dari ibu untuk survei tempat kursusan di Pare, mana tempat terbaik yang akan ditempati adikku untuk belajar atau kursus bahasa arab selama beberapa bulan kedepan. Akhirnya, rencana untuk pulang dari Lirboyo dan menuju Pare malam itu ditunda. Karena memang waktu tidak memungkinkan.

Sabtu keesokan harinya, kami bersiap-siap pulang. Setelah ke makbaroh Masyayikh Lirboyo tadi malam, cari nasi dan bontot pada pagi harinya, kami berangkat. Berada di depan Lirboyo, kami menunggu bis jurusan Pare. Hampir sejam kami menunggu, ternyata memang tidak ada bis jurusan ke Sana.

Aku memutuskan untuk naik grabCar. Sekitar satu jam an kami sampai di tempat tujuan, yakni kursus An-Najah. Kami sholat Dzuhur di sana. Lalu menuju Markaz arabiyah, dan terakhir menuju kampung arab al-azhar.

Waktu ashar telah tiba. Kami melangsungkan perjalanan menuju ke terminal Pare menggunakan grab car. Sekitar setengah empat sore kami langsung mendapat bis menuju terminal Bungurasih, Surabaya.

Di Surabaya, kami tiba waktu Maghrib. Tidak sempat sholat ashar, akhirnya kami qodhoan. Saat di bis perjalanan menuju Surabaya itu, kami bertemu dengan santri Tebuireng. Ia berasal dari Surabaya. Aku lupa ia pulang karena apa, yang jelas meminjam hpku untuk menghubungi keluarganya agar dijemput di titik tertentu. Aku dan Ust. Muzayyin membantunya untuk memesan grab. Tak lama setelah itu, ia berangkat.

Aku dan Ust. Muzayyin makan malam di warung dekat terminal Bungurasih. Dengan makanan Bontotan beli di salah satu warung Lirboyo. Setelah itu, kami menunggu di pinggir jalan. Menunggu bis menuju arah Probolinggo. Bada isya', akhirnya bis itu pun tiba.

Perjalanan panjang dimulai lagi. Aku sampai di Tanjung sekitar pukul setengah 10 - 11 malam. Di Tanjung, ternyata sempat macet karena bis menurunkan penumpang. Penumpang itu tidak lain adalah kami.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan menuju pondok. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ada mobil putih yang berhenti di depan kami. Minggir. Tak lama kemudian, ada seseorang menghampiri Ust. Muzayyin, usut punya usut, ternyata ia adalah hadamnya Ra Fakhri dan yang menyetir mobil itu adalah Ra Fakhri sendiri.

Singkat cerita, kami ke Gang J diantar menggunakan mobil putih itu. Duduk di belakang. Di mobil, selain Ra Fakhri, ada istrinya duduk di sebelah beliau, di tengah ada duo orang hadaman (sepertinya), lalu di belakang ada kami berdua. Setelah ditanya dari mana dan lain sebagainya, kami pun tiba di tempat tujuan. Aku mengucapkan terimakasih dan kamipun tiba.

Pada Hari Ahad (26/05), ternyata hasil kelulusan M2 sudah keluar. Alhamdulillah aku termasuk dari nama-nama yang lulus itu. Aku sangat senang dan bahagia. Puji syukur kehadirat ilahi Rabbi.

Tapi, sebenarnya ini bukanlah final, tapi perjalanan yang sesungguhnya akan segera dimulai. Aku mulai memberitahukan pada orang-orang terdekat. Keesokan harinya kau langsung mengurus boyongku. Lalu finishing, hari Selasa (28/05), aku sowan ke Gus Fayyadl. Aku izin pamit bersama orang tua, tepatnya ibu dan adikku. Pesan beliau, "ini bukannya berhenti tapi pindah ngaji".

Di dhalem Ra Fayyadl, kami membahas beberapa hal, mulai dari hafalan Qur'an, ibu yang minta izin pamit aku agar dimaafkan segala kesalahan serta minta keridhoannya, lalu aku yang minta tanda tangan surat boyong. Di kertas itu, Gus Fayyadl menulis doa dan terakhir, setelah ibu salaman dengan istri Gus Fayyadl, aku diberi hadiah (tepatnya, kenang-kenangan) berupa surban hijau. Terharu sekali, dawuh beliau, "ini untuk kamu fin. Ini surbannya sering saya pakai".

Terimakasih anugerah demi anugerah mu Ya Allah.

.
.

Selasa itu, kami langsung menuju Lirboyo. Sebenarnya, aku mengkhawatirkan asramaku. Apakah aku perlu bawa lemari, terus di mana asramaku. Karena memang, yang masuk M2 Lirboyo itu kebanyakan yang sudah jadi pengurus di pondok induk, mereka boleh bawa hp dan perkuliahan M2 memang butuh hp. Lalu, bagaimana dengan diriku ? Aku mau di induk Lirboyo, tapi aku bukan alumni Lirboyo yang biasanya jadi pengurus sekaligus legal bawa hp. Kalau seandainya di kamar santri Jember, aku jelas gak boleh pegang hp. Aku mungkin akan bersama dengan anak-anak Tsanawiyah, Aliyah dan mungkin mustahiq/pengurusnya adalah adik kelasku. Ah, entahlah.

Jujur, aku sangat bingung saat itu.

Singkat cerita, kami sampai Maghrib di Lirboyo. Kami langsung menuju Rusunawa. Ini adalah tempat transit bagi para tamu yang sudah aku tempati beberapa hari lalu.

Sebenarnya di perjalanan aku sudah menghubungi beberapa pengurus Lirboyo, tanya sana-sini, akhirnya kami ditemui oleh pengurus, namanya Pak Salim. Ia orang Madura. Setelah dijelaskan bagaimana kronologinya, akhirnya aku diantar menuju Pondok Talun atau Pondok Hidayatul Mubtadiin Talun. Tempat aku sekarang di sini.

Di pondok ini tidak terlalu ketat. Santri boleh pegang hp, tapi dibatasi dari jam 6 pagi sampai 5 sore. Boleh bawa sepeda, baik montor atau onthel, santri boleh kerja dan beberapa peraturan lainnya.

Malam itu, pertama kali sampai di pondok ini, aku sangat tidak kerasan. Karena di sini gelap, sepi dan santrinya sedikit. Aku membayangkan akan menjadi santri Lirboyo yang menetap di Lirboyo pula, dengan lingkungan saling membawa kitab di mana-mana. Mutholaah dan diskusi di mana-mana, tapi realitas berkata sebaliknya. Kenyataannya tidak begitu. Aku di pondok bukan Lirboyo. Aku agak sedih malam itu. Aku ingin menangis sebenarnya. Tapi, ku tahan, lebih tepatnya aku tidak bisa mengungkapkan perasaan ini di depan orang lain.

Hari demi hari berlalu. Aku coba beradaptasi dengan lingkungan. Mulai dari model kegiatan, para santri hingga peraturan pondok.

Malam ini adalah hari Ahad malam Senin, 16 Juni 2024. Hampir sebulan aku di sini. Malam ini pula adalah malam hari raya idul Adha. Sebuah momen hari raya perdana di pondok baruku. Ah, entahlah, bagaimana aku menceritakan semua lika-liku ini. Yang jelas, aku hanya bisa berpasrah kepada-Mu Ya Rabbb.

Peluk jauh untuk orang-orang tersayang. Ibu, adik dan kakak. Tak lupa untuk guru-guru ku di Nurul Jadid, Darusholah dan lainnya. Juga, teman-teman yang kukenal baik di Nurul Jadid. 




Posting Komentar

0 Komentar