ket: Numpang lewat saja fotonya. Tak ada yang pas ngena perihal cerbungnya ini. 

Tiga bulan waktu lamaran telah berlalu. Waktu yang dinanti-nanti oleh calon pasangan baru itu akan segera datang. Mereka merasa harap-harap cemas. Sangat berharap momen pernikahan mereka sangat indah dan berlangsung satu kali saja dalam seumur hidup, serat cemas dengan ketidak mungkinan yang tidak ingin terjadi apa-apa suatu hari nanti.

Andini : Hai hai... kamu sudah siap dengan acara pernikahan ini?

Indah : begitulah, aku tak sabar menunggu hari itu.

Andini : Semoga lancar dan tidak ada kendala. Oh ya, ngomong-ngomong, mas Arya itu orang mana?

Indah : oh, Mas Arya itu dari kota sebelah Pasuruan. Ia merupakan pengusaha sukses termuda didaerahnya.

Andini : wah, beruntung sekali kamu. Pokok doaku yang terbaik menyertai kalian berdua. Oh ya, kata nenekku, kamu jangan sering keluar rumah dan jalan kemana-mana. Kalau tidak ada keperluan yang sangat mendesak, lebih baik di rumah saja.

Indah : Kenapa din?

Andini : Ada banyak buaya berkeliaran di depan rumah. Hahaha...

Indah : ih,... kamu din. Tak kiraiin serius.

Andini : heheh... bercanda. Sebelum kita jarang ketemu. Tapi ini bener lho.. aku nggak bohong. Kata nenekku sih, harus jaga diri dan lebih banyak dirumah. Pokok nurut aja dah sama omonganku.

Indah : kalau jaga diri baik-baik mah, aku selalu diingettin terus sama ibu, kamu tentunya sama mas Arya. Hahaha....

Andini : hemmm.. begitu ya kalau mau jadi pengantin baru. Okelah. Jaga diri baik dan jangan keluaran ya..
Percakapan sahabat karib itu sangat mengalir sekali. Hingga suatu ketika, Andini diajak keluar oleh salah satu anggota keluarganya unutk menjemput kakaknya. Abdullah namanya yang sudah lima tahun lamanya berpuasa untuk liburan dirumah. Pada hari ini, ia menyempatkan diri untuk pulang dan menemani pernikahan adik tercintanya itu. Setelah sampai distasiun, Andini akhirnya bertemu dengan kakaknya. Abdullah.
Andini : Kakak... apa kabar ?
Abdullah : baik dong. Gimana adek kabarnya?
Andini : alhamdulillah, sae cak.
Abdullah : wih... tiga tahun mondok ternyata bagus juga bahasa maduranya kamu ya. Hahaha...
Andini : iya dong. Aku punya sesuatu lho, buat kakak. Istimewa banget.
Abdullah : apa? Kok jadi penasaran ya.
Andini : ada deh..
Abdullah : mana?
Andini : Ada satu syarat. Kaka harus tutup matanya sebentar, ya.
Abdullah : oke.
Hari itu menjadi hari berharga bagi Andini. Bisa bertemu dengan kakaknya, yang sudah lama sekali tak berjumpa. Untuk merayakan hal ini, membawakan hadiah untuk kakaknya itu. Tapi ia taruh di mobil. Ia sengaja membiarkannya di sana. Lalu, tanpa aba-aba, Andini berlari menuju ke arah mobil. Disisi lain, iseng-iseng kakaknya itu membuka mata untuk melihat Andini. Ternyata Andini sudah tidak ada ditempat. Andini ternyata sedang dalam berlari menuju arah mobil.
Saking semangatnya, saat menyebrang ia tidak melihat arah kanan dan kiri. Tiba-tiba sebuah sepeda yang dikendarai oleh anak muda sangat kencang menuju ke arah Andini. Seketika itu, Andini tertabrak dan tergeletak ditempat.

Abdullah : Andini....

Kakak Andini itu berteriak dan kaget sekali dengan kejadian.. Dengan segera ia menuju pada Andini. Mendeteksi urat nadinya dan bersefera menuju ke rumah sakit. Akan tetapi, nyawa Andini tak juga tertolong dan terpaksa ia harus segera dibawa menuju ke rumah mereka.

Sekian...