Trending

6/recent/ticker-posts

India, Fathul Mu’in dan Cermin Kita





Akhir-akhir, beredar berita duka suadara muslim kita di India. Sejak pengesahan amandemen Undang-undang Kewarganegaraan India (CAB) oleh perdana menteri India Narendra Modi yang sangat kental anti-muslim pada desember 2019 lalu, menjadi awal polemik yang memicu kerusuhan antara pemeluk muslim dan hindu di New Delhi, India.

UU amandemen kemerdekaan yang kontroversial ini dinilai mempercepat pemerolehan status imigran ilegal dari Afghanistan, Bangladesh dan Pakistan yakni, termasuk Hindu, Sikh, Budha, Jain, Parsis dan Kristen sebagai warga negara India kecuali mereka yang beragama islam.

Di bawah UU ini, umat muslim India juga wajib membuktikan bahwa mereka adalah warga negara India. Sehingga ada kemungkinan mereka akan kehilangan status kewarganegaraan tanpa alasan. Parta oposisi mengatakan UU itu tidak konstitusial karena mendasarkan kewarganegaraan pada agama seseorang, dan akan meminggirkan 200 juta komunitas muslim di India.

Di lansir dari laman tirto.id, kerusuhan pecah sejak Ahad, 23 februari 2020 lalu. Total korban tewas mencapai 42 orang, sementara korban luka sebanyak ratusan. Masjid, pertokoan dan rumah tidak lepas dari objek korban amuk massa. Massifnya serangan dan korban menjadika konflik ini dinilai sebagi kasus serangan bernuansa SARA paling brutal di India dalam beberapa dekade terakhir.

Menurut Teuku Riefky Harsya anggota DPR komisi I dari Fraksi Demokrat menilai pemerintah Indonesia semestinya dapat turut serta menyelesaikan masalah ini. Alasan pertama, karena Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Sementara pada kasus ini korban kebanyakan muslim. Selain itu, "Indonesia dan India memiliki hubungan baik," kata Riefky lewat keterangan tertulis, Ahad (1/3/2020).  

Fathul Mu’in

Di sisi lain, tidak hanya karena hubungan pemerintah Indonesia dan India yang baik, bagi santri sendiri, India adalah sangat dekat. Banyak kalangan yang tidak tahu, bahkan di kalangan santri sendiri bahwa khazanah keilmuan dan pemikiran kosmologi pesantren juga banyak di pengaruhi dari karya ulama klasik dari India.

Salah satunya adalah fathul mu’in. Sebuah kitab yang sangat fenomenal karya syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari ini merupakan bacaan wajib santri yang benar-benar santri. Apalagi di Ma’had Aly Nurul Jadid, kitab ini menjadi standarisasi awal sebagai layak tidaknya seorang santri untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Kitab yang merupakan penjelasan dari kitab Qurrotul Ayn menjadi kitab penanda kompetensi santri dalam penguasaan bahasa arab atau membaca kitab tanpa harakat (syakal). Bukan tanpa alasan, karena kecanggihan dan kerumitan redaksi tata bahasanya. Untuk memahami kitab ini secara utuh, kita perlu membaca membaca kitab syarah (penjelasannya) yakni kitab I’anatut Thalibin karya syekh Abu Bakar Syatta (Ulama Mesir). Bila ingin membandinya lagi, ada pula kitab penjelasan fathul mu’in lainnya yaitu Tarsyihul Mustafidin, karya Sayyid Alawi bin Ahmad Al-Saqqaf (w.1916).

Sebagian besar proses kreatifnya ia karang dinegeri kelahirannya, meski dalam menjalani ia hidup di masa rezim Islam India memuncak, namun tak bias dupungkiri unsur lokal India turut serta menjadi pengetahuan dasar pengetahuannya dalam berkarya.

Hemat penulis, santri yang belum bias membaca kitab ini kompetensi Bahasa arabnya masih belum maju (advance). Kitab fathul mu’in karangan ulama India ini menjadi kebanggan tersendiri bagi kaum santri.

Kitab Fathul Muin. Kitab yang sangat fenomenal dikalangan santri


Cermin Kita

Konfilik sectarian di India dapat dijadikan cermin bagi umat islam di Indonesia. Sebagai mayoritas, hal ini menjadi ancaman tersendiri bagi minoritas non-muslim bahkan minoritas muslim sendiri seperti syiah dan ahmadiyah.

Barangkali yang perlu dilakukan pertama kali adalah mengutuk mengutuk perilaku rezim Narendra Modi yang telah mempersekusi minoritas muslim di Indonesia. Mengutuk perilakunya tidak harus dengan membalasnya dengan setimpal, karena tidak semua orang India berbuat seperti apa yang dilakukan rezim Narendra.

Meskipun sebagai mayoritas umat islam dapat berlaku sama, namun cara terbaik mengatasinya adalah menahan agar kejadian seperti itu tidak terjadi Indonesia. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Justru apakah kita dipandang lemah ? justru kekuatan islam di Indonesia adalah jika kita mampu menahan diri untuk tidak meniru India saat ini.
Meskipun begitu buruknya perlakuan pemerintah India pada penduduknya yang beragama islam, namun India pada masanya pernah melahirkan karya sekelas fathul mu’in sebagai bacaan yang bermutu dikalangan santri di Indonesia.*
*Alfin Haidar Ali
Mahasantri Semeseter Dua 
Ma’had Aly Nurul Jadid

Posting Komentar

0 Komentar