Akhir akhir ini, bangsa kita dalam keadaan ‘waspada’
virus corona atau yang sering disebt dengan Covid-19. Virus ini disebut
sebagai jenis virus baru yang menular kepada manusia. Virus ini bisa menyerang
siapa saja, baik bayi, anak kecil, remaja, ibu hami, ibu menyusui bahkan hingga
lansia.
Virus ini pertama kali muncul di Wuhan, China, pada
akhir desember 2019 lalu. Virus ini dengan cepat menular ke negara lain,
termasuk diantaranya adalah Indonesia. Corona merupakan kumpulan virus yang
bisa menginfeksi pernapasan manusia, bahkan virus ini juga dapat menyebabkan
infeksi pernapasan berat, menyerang paru-paru hingga berimbas pada kematian.
Tepatnya di bulan januari lalu virus ini ditemukan
dengan tingkat penyebaran yang begitu masif, maka pemegang otoritas di China
langsung bergerak tangkas dan sigap. Mereka tidak memedulikan reaksi dunia,
baik dunia maya maupun nyata terhadap kemunculan virus ini dari negaranya. Di
Indonesia saja, banyak dai yang sibuk membahas apakah virus ini azab atau ujian
sebagai tentara Allah. Tapi, dengan mengerahkan segala usaha, kerja keras
dibantu dengan pengalaman dalam bidang peradaban dan pikiran, tak menggoyahkan China untuk
tetap berusaha dalam menanggulangi wabah yang menjangkiti penduduknya.
Semua daya dikerahkan, baik materi, pengalaman maupun pemikiran, China
bekerja dan memulai mengisolasi atau lockdown di kota Wuhan. Tidak boleh
aktivitas keluar masuk ke kota ini, lantas di waktu yang bersamaan dengan gerak
tangkas pembangunan rumah sakit khusus bernama Houshensan, rumah sakit ini
memang diperuntukkan pasien terinfeksi virus Corona dalam hitunga 8 hari saja.
Diantara yang paling banyak berperan di sini adalah tenaga medis. Mereka
diterjunkan secara totalitas meskipun resiko bagi mereka terjangkit virus ini
lebih besar. Peneliti dan ilmuwan bahu membahu ikut andil menemukan model
sebaran virus serta mencari obat penangkalnya. Masyarakat juga dituntut menaati
semua aturan, dan pihak pemegang otoritas menggunakan sumber daya, baik materi
maupun dukungan politik untuk mengambil alih situasi menegangkan ini dengan hak
otoritas dalam satu komando yang dimiliki.
Akhirnya, usaha mereka tidak sia sia. Menurut laporan yang dikeluarkan duta
besar Indonesia di China, Djauhari Otmangun, per 13 maret 2020 tercatat ada
penuruan kasus baru terjangkitnya virus ini menjadi 8 kasus saja, lima
diantaranya terjadi di provinsi Hubei yang sempat di lockdown. Sementara
tujuh provinsi lainnya, yakni Tibet, macau, Xianjiang, Qinghai, Fujian, Anhui
dan Jiangxi dinyatakann terbebas dari virus COVID-19.
Awalnya, kita tidak merasa khawatir akan penyebaran
virus ini. Media sosial saya, banyak meme dan postingan status yang dalam tanda
kutip meremehkan virus ini. Tapi, di pertengahan maret ini, Lembaga-lembaga dan
pemilik otoritas seakan akan serentak mengeluarkan kebijakan libur empat belas
hari demi menanggulangi dan mencegah penyebaran virus ini. Situsasi diharapkan
agar masyarakat kita menggunakan waktu ini dengan sebaik baiknya, dengan mengikuti
saran pemilik otoritas kita yakni mengisolasi diri di rumah dan langkah langkah
yang dijelaskan oleh pihak kesehatan.
Disadari atau tidak, kita dibuat kagum dengan China.
Itulah mengapa china disebut sebagai negara dengan peradaban yang sangat tinggi,
bahkan sampai disebutkan dalam sebuah hadits rasulullah, “Carilah ilmu walau
sampai ke negeri China.” Banyak hal yang bisa ditiru dari negeri tirai
bambu ini.
Apa yang telah dialami dan dilakukan Cina dalam menghadapi masalah
menjadikan bukti bahwa china merupaka bangsa yang memiliki peradaban tingkat
tinggi. Disisi lain, kesempatan ini bisa dijadikan momentum untuk mengaca pada
diri kita sendiri, lebih lebih sebagai bangsa Indonesia. Karena dari sekian
komentar dan update status di sosmed, beberapa menggugah hati nurani saya.
Dulu, ketika masih kecil, saya sering dimarahi oleh orang tua karena
‘kurang memperhatikan’ sholat berjamaah. Katanya, “Sudah Adzan Nak, ada
panggilan Allah, cepet ambil wudhu”. Saya hanya diam, tak berani menjawab
apa-apa. Karena masih bandel, saya juga seringkali masih kurang memperhatikan
sholat berjamaah.
Sampai suatu ketika ibu bilang, “coba kalau dipanggil kyai, kepala sekolah
atau presiden, kan terburu buru. Kenapa kalau dipanggil Allah kok ndak
terburu-buru. Ini kan konyolnya manusia.”
Setidaknya apa yang ibu ucap dan ajarkan itu yang cukup membekas di dalam
hati. Dalam konteks kali ini, seringkali kita memang melalaikan perintah dan
larang Allah. Baik itu sifatnya horisontal (hubungan hamba dengannya secara
pribadi) maupun vertikal (hubungan tuhan dengan hambanya).
Oleh karena itu, tanpa haru menunggu kita situasi ‘waspada’ ini berakhir,
alangkah baiknya bila kita coba menelisik dalam perilaku kita sehari-hari, yang
seringkali mengabaikan perintah dan larangan-Nya, apalagi mendahulukan perkara
dunia. Setidaknya agar tidak termasuk konyolnya manusia sebagaimana cerita tadi.
Oleh : Alfin Haidar Ali
Mahasantri Semester Dua Mahad Aly
Nurul Jadid
Paiton – Probolinggo.

0 Komentar