Trending

6/recent/ticker-posts

Aku, Buku dan Kitab

Barusan tak sengaja melihat status berupa video satu menitan yang diposting oleh -aku memberi nama kontak tersebut- Jojo BS. Aku menyimpan nomernya karena kepentingan lomba esai yang diselenggarakan oleh Darus Sunah-Ciputat, Jakarta. Dalam video tersebut, seseorang bernama Ayu Alfiah Jonas menjelaskan isi buku yang berjudul: Bumi Yang Tak Dapat Dihuni karya David Wallace-Wells. 

Buku tersebut menjelaskan perubahan iklim yang tak dapat dihindari oleh umat manusia. Ia mengawali dengan kalimat, lebih buruk dari apa yang anda pikirkan, perubahan iklim yang panjang adalah dongeng. Sama seperti dongeng kalau perubahan iklim itu tidak akan pernah terjadi.

Artinya, perubahan iklim itu pasti terjadi dan tidak mungkin lambat. Dan catat, kalaupun ada cara untuk menunda perubahan iklim, itu membutuhkan biaya yang sangat besar. Dengan membaca buku ini, anda akan tahu mengapa suhu bumi ini naik dan turun lalu dampaknya bagi kita. Bukan untuk menakut-nakuti, akan tetapi menjadi pengingat bahwa apa yang kita lakukan akan bisa berdampak panjang.

Menonton sekilas video tersebut, rasanya ingin membaca buku tersebut. Membaca buku lagi, lagi dan lagi. Ingin rasanya memiliki ruang pribadi, lalu tenggelam bersama dengan buku-buku dan tulisan. 

Sebagai santri di Ma’had Aly, sebuah perguruan tinggi pesantren yang basisnya adalah “kitab kuning”, terdapat kejanggalan yang sesekali terlintas dalam pikiran, apa bedanya buku dan kitab? Meskipun santri di Ma’had Aly, saya lebih menyukai membaca buku ketimbang kitab.

Setidaknya ada orang yang pernah memberikan jawaban perihal pertanyaan ini. Pertama adalah Ustadz Faizin, seorang ustadz senior di Ma’had Aly mengatakan sebagai santri kita tidak boleh membeda-bedakan antara buku dan kitab. Sebagai santri milenial, kita hendaknya meneladani sosok seperti Gus Nadir.

Diantara bukunya adalah saring sebelum sharing. Saya membaca dan menyaksikan kebenaran perkataan ustad Faizin, bahwasanya gus Nadir itu yang menjabat sebagai ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia menulis tulisan disertai dengan ibaroh kitab. Beliau yang menjadi dosen tetap bidang hukum internasional di sebuah universitas Australia tidak hanya pandai berbahasa asing, menulis banyak buku, jurnal, artikel ilmiah, akan tetapi budaya literasi kitab kuning masih kental sekali.

Kedua, adalah konsultasi dengan Badrus. Ia merupakan senior saya di MAPK. Ia bilang bahwa kitab itu juga buku. Kitab-kitab yang isinya berupa pemikiran (non-fiqih) itu banyak. Kita tentunya tidak asing dengan nama al-Khawarizmin, Ibnu Thufail, Ibnu Majah, Abu Bakr Ar-Razi. Karangan-karangan mereka merupakan kitab klasik yang memiliki komponen penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan (sains). Apalagi orang yang tahu baca kitab, semakin kesini, sepertinya orang-orang yang menekuni pemikiran cendikiawan dan ilmuwan muslim sangat sedikit sekali.

Intinya, membaca itu Bagus. Seandainya pun kita ingin membedakan antara buku dan kitab, membaca salah satunya juga Bagus. Tapi, membaca kitab, mendalami khazanah keilmuan islam berupa kitab-kitab berbahasa sangat dianjurkan sekali. Sangat disayangkan kan, bila kita sebagai umat islam kurang mengenal akan kekayaan umat islam sendiri.

Sekian. Terimakasih.

Posting Komentar

0 Komentar