Trending

6/recent/ticker-posts

Menahan Tepuk Tangan



“setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya.” Begitulah, tak ada yang abadi dan selamanya dalam hidup ini. Salah satunya adalah jabatan. Dalam struktural koran al-amiri pos, sebuah media jurnalistik dalam penerbitan koran yang berada dibawah naungan wilayah al-amiri (j), pondok pesantren Nurul Jadid, saya resmi dipilih menjadi pimpinan redaksi (pimred) dalam rapat yang dilaksanakan pada rabu, 11 desember 2019 lalu.


Pemilihan diadakan secara voting. Kandidat pimred hanya ada dua, saya dan teman sekamar saya yaitu faiq julia iqna’a. Ia adalah senior saya di al-amiri pos, karena memang lebih dulu ia bergelut di organisasi ini. Skor tipis, saya memperoleh angka tujuh dan faiq mendapat angka 6. Tipis sekali. Saya sudah mengacungkan tangan mengajukan keberatan. Tapi tak ada penerimaan buka suara. Parahnya, mereka terlalu mempercayai saya.

Pertimbangannya, saya tidak hanya berkecimpung di organisasi ini. Saya masih terhitung aktif di organisasi Forum Komunikasi Jember (FKS) Jember dan Badan Eksekutif Mahasantri (BEM’s) Ma’had Aly, apalagi beberapa bulan lagi akan ada acara se-nasional, dan di kedua organisasi tersebut, saya menduduki jabatan cukup penting.

Saya sudah mengajukan untuk diganti saja pada Huwaidi, senior saya yang membawahi al-amiri pos di wilayah al-amiri (J). Tapi itu sudah kesepakatan anggota rapat, dan usulan saya tetap tidak diterima. Menanggapi ini, saya jadi ingat salah satu judul opini wartawan jawa pos saat menanggapi terpilihnya jokowi sebagai presiden di Indonesia, judulnya menahan tepuk tangan. Opini ini saya temukan saat klipin opini koran jawa pos ketika masih duduk dibangku aliyah dulu.

Opini ini merangkan himbaun pada pembaca, lebih-lebih pada warga Indonesia agar tidak terlalu memuji, membanggakan dan mengekspresikan kebahagiaan berlebih-lebihan ketika ada wakil rakyat terpilih. Akan tetapi, menahan tepuk, bersikap netral dan tetap mengawasi kinerja wakil rakyat, yang dalam hal ini adalah presiden jokowi, selama menjalani masa jabatannya 5 tahun kedepan.

Hal ini berlaku pula bagi saya. Bedanya, jika yang menulis opini tersebut adalah wartawan jawa pos, atau termasuk pada dirinya adalah rakyat indonesia yang ditujukan pada wakil rakyat. Tapi kini yang menulis adalah wakil rakyatnya, atau dalam hal ini pimpinan redaksi al-amiri pos sendiri. Setelah rapat itu, beberapa memuji saya, sebagian acuh dan tak peduli saja.

Menahan tepuk artinya adalah bersikap netral dan sambil lalu tetap mengawasi kinerja saya dalam menahkodai perjalanan al-amiri pos selama setahun kedepan. saya sangat khawatir perjalanan koran ini semakin menurun dan memudar semenjak kepimpinan saya dan kader saya nanti. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat membantu bagi kami dalam mengemban amanah ini.*
Alfin Haidar Ali, Santri Nurul Jadi
alfinhaidar3f@gmail.com

Posting Komentar

2 Komentar

Unknown mengatakan…
Mantappp suratapp..
Baguslah..
Tinggal beberapa kata itu ada yg slaah ketikk.. juga semoga konsistensi nulia aja fin