Sebenarnya, saya agak janggal dengan kutipan yang bersileweran di media sosial terkait pentingnya ngaji, ngaji dan ngaji. Dawuh masyayikh ini sangat kental sekali di pondok-pondok salaf, di Lirboyo misalnya. Saya akan kutip beberapa :
Yang penting ngaji !!Walaupun anaknya seorang tukang ngarit tapi mau ngaji, ya akan pinter. Anaknya orang alim tapi tidak mau ngaji, ya tidak akan pinter. Yang penting ngaji sing tenanan..” (Mbah Abdul Karim)
“Ngajarlah ngaji…!!Kalau nanti kamu tidak bisa makan,kethoken kupingku (potong telingaku)..”(Mbah Mahrus Ali)
“Walaupun di rumah sudah menjadi tokoh masyarakat, bahkan menjadi wali. Kalau belum mengajar, masih kurang disenangi oleh Mbah Abdul Karim..” (KH. Ahmad Idris Marzuqi)
“Ilmu hanya diperoleh dengan cara belajar, tidak dengan membaca saja. Pencari ilmu harus mempunyai guru yang dapat membuka hatinya (Syaikhul Futuh), buku-buku yang mengandung kebenaran dan nalar yang cerdas..” (Mbah Mahrus Ali)
Saya kadang membaca dan melihat story kata-kata begitu, berpikir begini: masak iya ya, hidup mau ngaji terus, pegang kitab terus, atau ngaji/baca quran terus.
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ternyata benar juga dawuhnya mbah yai-mbah yai. Kalau dihitung-hitung dalam sehari, begitu banyak waktu berlalu tanpa digunakan untuk hal bermanfaat. Padahal sudah jelas apa yang dikatakan Imam Syafi'i, "Orang yang tidak disibukkan dengan kebaikan, akan disibukkan dengan keburukan". Jangankan disibukkan dengan kebaikan, ternyata dengan melihat media sosial, aktif di media sosial, malah membuat insecure, kepikiran masa depan atau bahkan mengkhawatirkan masa depan yang berlebihan. Padahal kata Dr. Andreas Wirawan, "Pada akhirnya, masa depan bukan kenyataan. Masa depan hanyalah sesuatu yang sedang kita rancang dalam pikiran kita,"
Padahal, yang kita punya ya waktu saat ini juga, hari kemarin tidak mungkin kembali dan hari esok belum tentu ada. Kadang, di sela-sela waktu, saya bermain game berjam-jam. Atau, kalau sedang ada film bagus yang beberapa episode atau sesion, aku bisa marathon berjam-jam untuk itu. Tapi yo kok ndilalah untuk belajar, kok ya belum sekuat itu. Belum punya nafas panjang dan ketahanan duduk lama-lama bersama dengan kitab, alquran, buku dan semacamnya.
Sekali lagi, saya ingin membenarkan dawuh-dawuh mbah yai soal belajar, belajar dan belajar. Ngaji, Ngaji dan Ngaji. Karena sependek pengalaman saya ini, di waktu luang atau waktu tidak ngaji, pikiran ke mana-mana, dan itu langsung otomatis gak berkaitan dengan ilmu, yang dilihat dan dipikirkan perkara duniawi.
Padahal ya urusan duniawi capek, belajar dan ngaji itu capek, tapi kalau boleh memilih, ya lebih baik capek dalam belajar, ngaji dan meningkatkan skill serta value kita bukan ?
Kadang aku membahas tawaran perjodohan, tenggelam dalam dunia game atau menonton film, tapi kesenangan itu cuma sesaat, dan sialnya itu hanya fantasi dan nisbi. Apalagi kesenangannya tidak lama, setelah itu kembali lagi capek, sedih dan merasa tidak bertumbuh.
Tapi beda kalau "waktu saat ini" kita gunakan untuk baca buku, baca al-quran, mengulang-ngulang pelajaran, meski pada awalnya sangat malas. Sekali lagi: sangat-sangat malas dan berat, tapi setelah itu beban pikiran itu semakin luntur, dan setelah berlama-lamaan otak/jiwa ini merasa terisi, dan setelah itu ada perasaan bahagia. Dan, perasaan bahagianya itu berbeda. Bahagianya itu melegakan, beda dengan bahagia ketika main game atau nonton film yang instan itu.
Sama seperti bahagianya kita chattingan dengan orang yang kita sukai, nah itu perasaan bahagianya berbeda dengan bahagia ketika tugas dan tanggung jawab kita, yang penting-penting itu, terselesaikan dengan rapi, baik, beres dan aman. Meskipun sama-sama senangnya, itu beda. Jelas beda.
Pada akhirnya, semua soal prioritas dan memang waktu itu diciptakan. Kalau kita memang mau mengaji, mau untuk ini dan itu, kita akan berusaha mengadakan waktu untuk melaksanakan itu. Dan belajar berjam-jam, tahan lama dan untuk jangan panjang, its fine. Sesuatu yang mungkin dan sangat mungkin.
Ya, sangat bisa. Biidznillah, Insyallah.

0 Komentar